Sabtu, 06 Juli 2024

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjuangannya menggendong bayi, melewati perjalanan laut, darat, udara yang bahkan mengancam nyawa. Demi ikut kemanapun kekasih hatinya pergi. Perihal pekerjaan, katanya.

Ia juga menceritakan bagaimana penantian 7 tahun untuk memiliki buah hati, pada akhirnya datang juga. Cerita tentang ketulusan dan kesabaran yang berbuah manis. Cerita tentang bagaimana peliknya perjuangan wanita yang sedang mengandung, tapi semuanya terasa mudah sebab beruntungnya, Ia memiliki seseorang yang sepenuh hati menjaganya.

Ia juga bercerita tentang macam-macam keinginan anehnya ketika mengandung. Herannya, tidak sedikitpun itu membuat kekasihnya terusik, semuanya sebisa mungkin dipenuhi. Sekali lagi, betapa beruntung Ia memilikinya.

Aku belajar darinya banyak hal, tentang dedikasi seorang perempuan sederhana, yang selalu berupaya menunjukkan bahwa tanpa titel apapun, Ia sanggup berdiri di atas kakinya sendiri. Tentang seorang perempuan dengan cita-cita sesederhana menjadi seorang istri dan ibu yang baik, dengan sempurna bisa membagi waktunya untuk juga berkarir dan berkarya.

Tentang seorang perempuan, yang berjuang melawan penyakitnya, demi melihat orang-orang yang dicintainya bahagia. Meski pada akhirnya, Tuhan memintanya untuk kembali, mungkin dunia sudah terlalu melelahkan baginya.

Jika saja Ia tahu bahwa setelah kepergiannya, begitu banyak air mata. Begitu banyak kesedihan. Begitu besar rindu yang tidak dapat tertuntaskan. Betapa besar harap bahwa jika Ia masih ada, semua mungkin akan jauh lebih baik. Namun betapapun menyakitkan, manusia tidak pernah bisa melewati takdir. Ada beberapa hal sedih yang harus dengan terpaksa kita telan bulat-bulat untuk perlahan membiasakan diri menjadi ikhlas. Ada beberapa hal baik, yang memang mungkin terjadi setelah yang hidup merasakan kehilangan.

Tapi, semua yang pergi, pasti menginginkan yang ditinggalkan bisa menjalani hidup dengan baik. Setelah menjalani fase berduka, sekarang bisa kukatakan, aku, kami semua, menjalani hidup dengan sangat baik sambil dengan apik menyimpan rindu di dalam hati. Berharap suatu saat, dipertemukan kembali di tempat terbaik.

 

Tangerang Selatan

6 Juli 2024

Rabu, 12 Juni 2024

Cerpen : I finally understand that it's 'love'

 Ia berjalan berjarak beberapa meter di depanku. Langkahnya begitu tegap dan cepat, kami tidak bisa menyamainya. "Bu, ada apa? Kita mau ke mana?" Kesekian kalinya anak laki-lakiku bertanya. Aku tidak bisa menjawab apapun dan hanya terus berjalan sambil menggenggam tangannya. Napasku tersengal, langkahku semakin cepat karena berusaha menyamai langkah laki-laki yang berjalan di depanku, pikiranku kalut. Sesekali laki-laki itu menoleh ke belakang, mungkin memastikan aku menyusulnya.

Siapa yang pernah menyangka akan ada di situasi genting seperti ini. Acara sekolah yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka. Segerombolan orang yang bahkan aku tidak tahu akar masalahnya apa, berbondong-bondong datang dengan masing-masing menggenggam senjata tajam. Kami semua dikepung, tidak tahu harus pergi ke mana. Para aparat pelindung masyarakat mungkin masih dalam perjalanan, atau bahkan samasekali tidak peduli dengan keadaan kami (atau bahkan mereka tidak tahu, tidak ada yang menghubungi bantuan? Ntahlah).

Langkah kami terhenti pada kerumunan warga sekolah yang sedang mengerubungi televisi seolah-olah layar dengan teknologi yang cukup canggih itu terdapat pintu keluar yang bisa menyelamatkan kami semua. Aku bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan di berita itu. Tapi satu yang kupahami, kami semua disandera.

Tiba-tiba saja, laki-laki yang sedari tadi berada di depanku menarik tanganku. Menyuruhku berlari. Semua orang masih terfokus pada berita yang ditayangkan di televisi. Aku kebingungan, Ia sedikit membentak, "Lari!"

Aku terkejut dan segera mengikutinya. Ia melepas genggamanku dan berlari cepat, memeriksa satu per satu pintu ruangan kelas di sebelah kiri dan kanan kami. Tidak lama kemudian, terdengar suara kaca pecah, semua orang berteriak dan aku bisa mendengar langkah mereka berlarian di belakang kami.

Aku sempat kesal. Mengapa Ia tidak menggenggam tanganku saja supaya kami bejalan beriringan. Mengapa tidak Ia gendong saja anak laki-laki kami yang masih berusia enam tahun ini. Anak kecil ini langkahnya tertatih, Ia ketakutan. Langkahku terhenti karena lelah. Aku berusaha mengatur napas. Laki-laki itu terus berlari, masih membuka satu per satu ruangan, memeriksa tiap sudut, lama kelamaan sosoknya menghilang dari pandanganku, ntah apa yang Ia pikirkan. Laki-laki yang selama ini kupercaya akan selalu melindungi kami, bahkan meninggalkan kami di belakang. Kerumunan orang mulai berlari menyusulku. Aku terombang-ambing sambil memastikan anakku tidak telepas dari genggamanku.

Tiba-tiba, seseorang menggenggam tanganku. Aku menegakkan kepala, kulihat jelas kekhawatiran di wajahnya. Ia bahkan tidak sempat menyeka peluhnya, napasnya tidak keruan. Ya, dia laki-laki yang kupikir akan meninggalkan kami, Ia berbalik arah untuk menggenggamku. Kali ini, Ia berbicara dengan lebih lembut, "Ayo, aku menemukan tempat aman."

Kami berlari, kali ini beriringan. Ia masih terus menggenggam erat tanganku. Matanya sibuk mengawasi berbagai sudut, juga berkali-kali melempar pandangannya kepadaku dan anak laki-laki kami. Ia mengarah ke satu ruangan di ujung lorong, sepi. Ruangan tersebut di dalamnya terdapat satu ruang kecil, berisi beberapa barang-barang yang sepertinya tidak lagi terpakai. Cukup sempit untuk kami bertiga, pikirku. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia menyuruhku masuk dan melepaskan genggaman tangannya. Ia sedikit menjauh, matanya berjaga melihat ke arah pintu. Aku dan anakku segera masuk ke ruang kecil itu. Pintunya masih terbuka, aku menunggunya. Ia mendekat, alih-alih ikut masuk, Ia hendak menutup pintunya dari luar. 

Aku menahannya, "Kenapa? Ayo cepat masuk..." Ia tersenyum, namun raut wajahnya muram, "Kamu berdua saja, aku berjaga di luar..." Ia melanjutkan, "Tolong jangan sekali pun buka pintunya." Aku terdiam. Air mataku terjatuh, aku tidak tahu harus apa. Suara teriakan, langkah kaki, dan pecahan barang-barang mulai bersahutan di luar sana. 

"I promised to myself to protect you, I can't break my promise, please hide here. I'll find a way to get out, I'll be back."

Air mataku semakin tak terbendung. Aku ketakutan. Pintu ruang kecil yang sedari tadi kutahan, perlahan Ia melepaskan genggamanku dari pintu itu dan menutupnya. Dari luar, Ia berkata lirih, "Jika aku tidak kembali, tolong jaga diri baik-baik. Tapi aku janji... kalian pasti selamat."

Kemudian aku mendengar suara pintu ditutup dan dikunci. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara tembakan, beberapa kali. Aku menutup telinga anak laki-lakiku, Ia memelukku. Dengan tubuh gemetar, kami berdua menahan tangis. Masih dengan suara-suara menakutkan yang sama; tembakan, teriakan, tangis, langkah kaki, pecahan barang-barang. Aku mendengarnya sampai beberapa jam kemudian. Mataku berat karena menangis, lisanku tidak terhenti merapal doa meminta agar laki-laki yang kucintai selalu dilindungi, meminta agar kami juga dilindungi.

Anakku akhirnya tertidur. Suara-suara menakutkan itu mulai mereda, ntah apa yang terjadi di luar sana. Rasanya ingin sekali melihat keadaan di luar, tapi aku mengingat pesannya untuk tidak membuka pintu. Aku menatap ventilasi udara yang menghadirkan cahaya oranye masuk menyilaukan wajahku, hari sudah petang. Laki-laki itu belum juga kembali.

Lagi-lagi, air mataku terjatuh. Pikiranku melayang pada sosok laki-laki itu. Ia bukan laki-laki yang dengan mudah mengucapkan cinta. Ia juga bukan laki-laki yang terus-menerus mengungkapkan betapa Ia menyayangiku. Aku tahu betul Ia tidak suka terburu-buru, tapi hari ini, aku melihatnya berlari cepat. Kupikir, Ia akan meninggalkanku, tapi ternyata Ia mencari tempat teraman untuk memastikan aku akan baik-baik saja. Ia tidak berjalan beriringan denganku sedari awal, tapi aku ingat bagaimana tadi seseorang berlari dan hendak menabrakku, Ia berhasil menghadangnya, dan langsung melihat ke arahku, seolah memastikan tidak sedikitpun aku terluka.

Ia membentakku menyuruh berlari, setelah kuingat-ingat, pria paruh baya di berita itu berkata bahwa kemungkinan kami diselamatkan masih belum pasti, karena mereka belum bisa bernegosiasi dengan si dalang kejahatan. Seolah laki-laki ini tahu, bahwa hal pertama yang harus Ia pastikan dalam situasi itu adalah menyelamatkan nyawaku dan anaknya.

Aku ingat ketika kami berjalan beriringan menuju ruangan ini, Ia berjalan dengan pincang, kakinya terluka. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan Ia terluka, dan apa yang membuatnya terluka. Padahal selama berlari tadi, selain peluh yang membasahi kemejanya, dan raut wajahnya yang penuh kekhawatiran, Ia tampak baik-baik saja.

Aku tersadar dari lamunanku saat kabut putih perlahan masuk melalui celah ventilasi udara di ruang kecil tempat kami bersembunyi. Kesadaranku semakin menurun, pandanganku gelap.

----

Mataku perlahan terbuka, cahaya terang dari langit-langit menyilaukan pandanganku. Aku sudah berada di ranjang rumah sakit. Seketika jantungku berdegup cepat, aku melempar pandangan ke berbagai sudut ruangan beraroma obat-obatan itu, mencari-cari anakku. Tidak kutemukan Ia dimanapun. Pintu ruangan ini terbuka, aku mendengar beberapa langkah kaki. Kulihat kedua orang tuaku bersama anakku, berlari berhamburan memelukku. Kemudian Ibu berjalan ke arah tirai di sebelahku dan membukanya. 

Kudapati laki-laki itu di sana. Laki-laki yang sangat aku cintai. Matanya terpejam, kulihat beberapa luka di wajahnya yang teduh, syukurlah tubuhnya baik-baik saja. Aku perlahan beranjak menujunya. Air mataku tumpah. Aku benar-benar berpikir akan kehilangannya. Ia membuka mata tepat setelah aku berdiri di sebelahnya. Ia tersenyum. "Aku menepati janjiku, kan?"



Sabtu, 11 Mei 2024

Yogyakarta, Januari 2024

 Aku duduk di kursi kelas ekonomi, kulihat di sebelahku ada laki-laki  paruh baya, yang ternyata bersama dengan istri, anak, mantu dan cucu-cucunya di kursi sebelah kami. berhadapan dengan kakek tersebut ada seorang bapak yang istrinya duduk di kursi yang lain. Kami nggak ngobrol, tapi aku sedikit mendengar percakapan kakek dan bapak di hadapannya yang sepertinya beliau ini menantunya. Tanpa bermaksud menguping, tapi, ini sedikit informasi yang bisa aku ceritakan. Kakek ini seorang mantan masinis yang kurang lebih sudah bekerja selama 20 tahun.

Aku nggak tahu apa hubungannya tapi, saat itu juga aku merasa aman sebab duduk bersebelahan dengan orang yang memang memahami seluk beluk kereta api. Jadi, kalau kebingungan aku bisa bertanya. Setelah beberapa jam perjalanan dan melewati beberapa stasiun pemberhentian, kursi-kursi di gerbong ekonomi ini mulai lenggang, keluarga kakek duduk berpencar mengisi kursi-kursi yang kosong. Kemudian di stasiun pemberhentian selanjutnya, duduklah seorang TNI di sebelahku. Jujur aku takut banget lihat laki-laki semacam TNI/Polri, yang ada di pikiranku mereka ini galak (maaf ya, mas, udah buruk sangka duluan). Tapi, aku bersyukur karena tanpa disangka sepanjang jalan kami bertukar banyak cerita dan Ia membantuku untuk menurunkan koper bahkan membawakannya ketika turun di stasiun tujuan akhir kami.

Jujur, sepanjang jalan aku kepikiran nanti di stasiun tujuanku, siapa yang mau bantu turunin koperku dari atas? Tapi, ternyata Allah mempertemukan aku dengan orang baik di perjalanan yang memudahkan aku. Aku tersadar, bahwa kemanapun aku melangkah, aku nggak pernah lepas dari penjagaan Allah, Alhamdulillah :’)

Singkat cerita, hari pertama diisi dengan kegiatan outing di kantorku (jadi, aku ke sini untuk kegiatan kantor). Kami berkumpul di alun-alun selatan Jogja. Semua berjalan lancar, kami jogging, main games, sampai tiba-tiba, leader kami memberikan challenge kepada kami untuk menjual cilok dari salah satu pedagang yang ada di alun-alun selatan. Nggak, nggak beberapa bungkus, satu gerobak harus habis! Agak syok tapi kupikir akan seru juga. Bukan pertama kalinya aku ke Jogja, tapi ini pertama kalinya ke Jogja dan disuruh jualan cilok keliling. We accept the challenge. Kami berjualan keliling sambil sesekali ngetem bareng pedagang kaki lima lainnya (btw, bapak yang punya gerobak cilok nggak ikut, ya). Orang-orang kayaknya bingung lihatnya, Ini siapa dagang cilok rombongan begini? Hahahah...

Saat ngetem aku dan timku mengobrol banyak, tanpa sadar kegiatan ini bisa membuat kami saling mengenal dan bertukar cerita satu sama lain. Kami juga banyak sekali dibantu oleh sesama pedagang lainnya. Kami diajarkan untuk ngetem di sebelah mana biar nggak diusir preman. Diajarkan juga untuk meletakkan gerobak di tempat ramai dan kelihatan sama orang biar banyak yang beli. Aku masih ingat betul wajah ibu dan bapak yang mengajak kami mengobrol dengan hangat. Bahkan, ada momen di mana salah satu temanku meletakkan smartphone nya sembarangan di pinggir jalan. Ibu ini memperingatkan untuk lebih berhati-hati, katanya, di sana banyak pencopet :’) Alhamdulillah lagi-lagi Allah mengirimkan orang-orang baik untuk menemani perjalanan kami.

Ketika masuk waktu zuhur, kami sibuk mencari tempat untuk makan siang. Saat itu, kami melewati satu wisma yang sedang membagi-bagikan makan siang gratis. Kami berpikir untuk makan siang di sana saja, karena uang hasil jualan cilok ini harus cukup untuk makan kami semua. Yah, daripada untungnya kepotong untuk uang makan, lebih baik menghemat pengeluaran makan siang, pikir kami. Tapi, salah satu rekanku bilang, katanya kalau kegiatan kayak gini, nanti takutnya diminta data diri dan nggak tau aman atau nggaknya.

Seorang nenek penjual batagor di depan wisma tiba-tiba berkata, “Mas, mba, sini makan batagor aja, kalau makan di sana nanti kamu ditanya macem-macem,” Kurang lebih begitu yang kuingat. Kami menolak dengan halus dan masih bimbang. Nenek tersebut berkata lagi, “Kalau mau makan di sana ayuk tak anter mas, mba, biar tak bilangin nanti.” Tapi, kami akhirnya memutuskan untuk mencari tempat lain untuk makan berat. Kami beranjak pergi. Setelah beberapa saat berkeliling, belum juga ketemu tempat makan di sekitar alun-alun. Kami menepi sejenak untuk menghitung pendapatan dan coba mencari tempat makan melalui google maps, sebagian teman laki-laki berjalan untuk membeli es teh manis.

Tiba-tiba, nenek penjual batagor tadi menghampiri kami. Asli, itu udah lumayan jauh kami jalan, ternyata nenek itu cari-cari kami dan masih menawarkan untuk mengantar ke wisma. Katanya, kasihan lihat kami kebingungan cari makan. Aku dan teman-temanku betul-betul tersentuh, Ya Allaah, betapa baiknya orang-orang yang kami temui :’) Tapi kami sekali lagi menolak halus dan berterima kasih, bilang bahwa kami sudah menemukan tempat makan dan akan ke sana. Tengah menunggu teman-teman kami kembali, tiba-tiba dikejutkan lagi oleh kedatangan bapak yang tadi ngetem bersama kami di pinggir jalan. Tiba-tiba beliau memberi dua bungkus nasi untuk kami. “Nih, buat rame-rame, bapak udah makan, kok.” :’) MasyaaAllaah baiknyaaa

Jujur, beberapa kali ke Jogja, aku selalu aja ketemu sama orang-orang baik, tapi baru berkesan banget kali ini, karena beneran nggak nyangka pedagang-pedagang di sana sebaik itu sama kami :’) Jogja dan manusia-manusianya memang selalu hangat dan akan selalu menjadi tempat yang aku kunjungi lagi dan lagi. Jogja tidak hanya meninggalkan kenangan manis dari perjuangan, gelak tawa, obrolan bersama rekan-rekan serta pedagang kaki lima, tapi juga menghadirkan kehangatan yang membekas di hati kami, terutama aku sebagai musafir yang tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan manusia-manusia sebaik ini.

Kami juga belajar tentang perjuangan dari bapak penjual cilok yang kami dagangkan ciloknya. Leader kami bukan tanpa tujuan memberikan challenge ini dan memilih dagangan bapak ini untuk kami jual. Beliau mantan supir taksi yang sempat mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa lagi mengemudi. Tapi, beliau tidak patah semangat. Jiwa berjuang mengantarkan beliau untuk bisnis cilok. Bukan sembarangan, kini beliau sudah memiliki beberapa gerobak (cabang) cilok yang semuanya ada di sekitaran alun-alun selatan dengan shift jualan yang bergantian, keren banget, ya?

“Makanya tadi walaupun mbak Nisa bilang mulai nggak enak badan, saya tetep bilang lanjutkan sampai habis. Bukan saya nggak kasihan, tapi selama mbak Annisa sudah makan, saya yakin pasti mampu. Saya mau mengajarkan untuk ‘push your limit’. Buktinya, sekarang nggak apa-apa, kan? Masih sehat kan? Kadang kita terlalu membatasi diri kita, merasa nggak sanggup, padahal kita masih bisa melakukan lebih.” Kurang lebih seperti itu yang dituturkan oleh leader kami kepadaku ketika kami sedang makan malam bersama selepas menyelesaikan dagangan cilok kami.

Ini salah satu pelajaran berharga yang kudapat, yang akan selalu kukenang sebagai pengingat bahwa aku mampu untuk melampaui batas-batas yang selama ini kubuat sendiri. Aku juga menyadari hal penting, bahwa dimanapun aku berada, selama aku meminta tolong pada Allah dengan do’a, bahkan kalaupun aku melupakan-Nya, Dia tetap selalu menjagaku. Allah Yang Maha Baik senantiasa mempertemukan aku dengan orang-orang sesuai dengan yang aku niatkan. Berangkat ke kota ini, aku niatkan untuk mencari pengalaman dan belajar. Maka Allah hadirkan mereka yang menuntunku untuk belajar banyak tentang kehidupan. Aku berdo’a semoga ragaku senantiasa Allah jaga. Maka, kakek mantan masinis, mas TNI, rekan-rekan kerjaku dan para pedagang kaki lima yang masyaaAllaah semuanya orang baik, aku memahami bahwa mereka Allah kirimkan untuk senantiasa membuatku merasa aman, merasakan kehangatan di kota yang asing bagiku, sekaligus menemani perjalananku :’)

Melalui mereka, aku juga belajar, dimanapun aku berpijak, siapapun yang aku temui, alangkah baiknya untuk selalu berbuat baik. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja, kita yang menjadi perantara dikabulkannya do’a orang lain yang memohonkan kebaikan.

Untuk kamu yang membaca, semoga tulisan sederhana ini, bisa menjadi pengingat dan ada kebaikan yang bisa diambil. Makasih udah baca sampai akhir :)

 

Wallahu a’lam bish showaab.

Sabtu, 23 Maret 2024

People Pleaser, Things I Learned the Hard Way

 Beberapa orang hidup dalam trauma yang tanpa disadari, membentuk mereka menjadi seorang people pleaser. Merasa harus menyenangkan semua orang, bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain dan mendahulukan kepentingan orang lain. Aku selalu merasa bahwa ini adalah suatu bentuk perbuatan baik, tapi deep down, ternyata aku juga lelah. Perasaan takut ditinggalkan dan selalu butuh validasi manusia juga ada karena ketika sekali saja aku menolak membantu, aku ditinggalkan. Sekali saja aku mengungkapkan pendapatku, aku dianggap tidak pantas. Sekali saja aku membuat keputusan yang mungkin tidak menyenangkan semua pihak, maka aku dibenci.

Banyak pertanyaan berputar di kepalaku, tentang apakah aku terlalu naif, ataukah aku kurang ikhlas sehingga berharap semua orang membalas kebaikanku dengan kebaikan yang sama? Ataukah aku memang harus sedikit lebih 'egois' saja? Atau aku yang nggak punya batasan untuk diriku sendiri? 

Tapi kemudian, aku belajar perspektif yang berbeda tentang hal ini, yang setidaknya, membuatku merasa lebih memahami diriku, dan membawaku pada perasaan tenang. Pertama, aku menyadari bahwa tidak bisa dimungkiri, aku hidup dalam trauma yang belum kuselesaikan. Aku tidak merasa bahwa ini adalah suatu aib, dan aku berharap kamu juga mulai menerima jika memang kita mengalami situasi yang sama.

It's okay to admit that you're flawed, yet, you're willing to do better day by day.

So it's started with acceptanceAku merasa, ketika aku sudah bisa menerima dan memahami kondisiku, aku akan lebih mudah untuk tahu apa yang harus kuperbaiki dan bagaimana caraku untuk memperbaiki. Ibaratnya, kalau kamu nggak tahu titik 0 kamu, dan kamu nggak tahu goals kamu ingin jadi seperti apa, kamu juga nggak akan tahu progres atau cara untuk menuju goals-mu itu bagaimana. Ilmu fisika kan, ya?

Maka aku paham bahwa aku selalu merasa ingin menyenangkan orang lain, butuh validasi orang lain, karena perasaan pernah ditinggalkan dan dibenci. Kemudian aku tahu, bahwa mungkin akan lebih tenang rasanya ketika melakukan semuanya dengan ikhlas tanpa berharap validasi siapapun. Maka yang harus kulakukan adalah memaafkan. Kucoba memaafkan siapapun yang pernah menyakiti, mengukir trauma dalam diriku. Memaafkan diriku sendiri yang selalu berharap pada manusia, memaafkan diriku sendiri yang merasa sudah berbuat banyak pada manusia lain yang bisa jadi, karena aku kurang ikhlas.

Sesungguhnya memaafkan adalah proses yang panjang, yang mungkin diriku sendiri belum selesai. Tapi bisa kukatakan, bahwa dalam prosesku aku menemukan hatiku jauh lebih tenang.

Setting boundaries is not selfish for the selfless you

Untuk beberapa hal prinsip, kamu nggak egois, kok, kalau membuat batasan hal-hal yang kamu sukai dan nggak kamu sukai, perlakuan yang menurutmu bisa kamu terima dan nggak bisa kamu terima. Kuharap, ini nggak menjadikan kamu merasa buruk. Tapi, kuharap kamu juga bisa mengkomunikasikannya dengan cara yang baik. Seseorang yang berhati baik akan bisa menghargai penolakanmu. Lagipula, kita nggak pernah bisa memutuskan sesuatu yang akan menyenangkan semua orang. Tapi, bukan berarti kamu berhenti berbuat baik pada mereka yang membenci. Maka, ketika suatu saat mereka membutuhkanmu lagi dan kamu bisa membantu, bantulah. Jika bertemu, sapalah mereka.

Aku belajar dari bagaimana Rasulullah dan orang-orang shalih tetap mendo'akan dan berbuat baik pada orang-orang yang membenci beliau. Walaupun aku tahu, kita nggak sesempurna itu. Mari berdo'a agar kita diberikan hati yang baik untuk selalu berbuat baik, bahkan kepada orang yang membenci kita.

Baikmu akan selalu bernilai di mata Allah

Hal lain yang aku pelajari adalah bahwa setiap kebaikan kita lakukan, seharusnya hanya kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Dengan begitu, semoga hatimu selalu ingin berbuat baik tanpa merasa cukup karena kamu begitu ingin dicintai oleh-Nya. Semoga balasan baik ataupun buruk manusia nggak berpengaruh apapun terhadapmu karena kamu memang nggak membutuhkan validasi siapapun.

Mari buat batasan untuk hal-hal yang sekiranya menyakitimu, tapi jangan pernah membenci siapapun. Semoga Allah mudahkan kita untuk terus memiliki hati yang baik pada siapapun, hanya karena kita begitu mengharapkan cinta-Nya.

Dalam kehilangan, aku menemukan

Aku pernah kehilangan orang yang membuatku begitu terpuruk. Merasa bahwa Ia adalah sahabat baikku, tanpa kusadari bahwa selama ini seringkali mentalku hancur. Aku kehilangan diriku sendiri hanya karena takut kehilangan manusia. Aku juga pernah merasakan kehilangan hal-hal yang aku rasa menjadi tumpuan hidupku, satu-satunya harapanku, tanpa sadar, aku sudah terlampau jauh berharap pada selain-Nya. Sampai akhirnya aku memahami bahwa dalam kehilangan ini, sejatinya aku nggak kehilangan apapun karena aku menemukan-Nya kembali. Sebetulnya, Allah begitu mencintaiku dengan cara-Nya yang nggak kupahami.

Terkadang kita dibuat jatuh, merasakan kehilangan dan terluka berkali-kali, sampai kita benar-benar kembali dan menemukan bahwa begitu banyak hal-hal indah yang telah Dia siapkan untuk kita. Bahwa sebetulnya, Allah selalu mengirimkan sinyal kasih sayang-Nya agar kita berpaling dari pilihan-pilihan hidup yang kurang tepat. Sampai kita sadar bahwa bukan Allah yang membuat kita menderita, tapi kita yang nggak mengerti bahasa kasih sayang-Nya dan memilih untuk pergi terlalu jauh.

Sekian ceritaku, bahas people pleaser jadi kemana-mana ya, maafkan kata-kata dan bahasanku yang terlalu bertele-tele ya, hehe... semoga ada kebaikan yang bisa diambil^^


Rabu, 06 Maret 2024

Dear Every First Born Daughter

 

Aku tahu sedari kecil mungkin banyak hal-hal yang tidak seharusnya kamu diperlakukan sedemikian rupa. Tapi kuharap, hatimu lapang untuk memaafkan segala salah, sebab orangtuamu pun mungkin tumbuh dari luka yang tak mereka sadari dan belum mereka sembuhkan.

Aku tahu semua membutuhkanmu, selalu mengandalkanmu, menganggapmu serba bisa dan selalu memiliki waktu untuk membantu. Semoga yang demikian tidak membuatmu lelah dan rapuh, karena sejatinya Allah tahu kamu sanggup memikul semuanya, karena Allah juga selalu bersamamu.

Aku tahu kamu banyak mengalah, aku tahu terkadang kamu kecewa karena keinginanmu harus kamu kubur dalam-dalam. Tapi semoga kamu paham bahwa apa yang melewatkanmu, memang bukan takdirmu, dan Allah akan menggantikan kesabaranmu dengan segala hal baik yang semoga menjadi alasanmu untuk tersenyum bahagia di kemudian hari.

Aku tahu segala ekspektasi menjuru padamu, kamu harus sempurna karena menjadi teladan bagi adik-adikmu. Tapi, kuharap kamu sadar bahwa pada akhirnya, kamu hanya manusia. Tidak apa melakukan salah dan dirimu tidak harus menjadi sempurna. Aku tahu kamu sudah berusaha dengan sangat baik.

Aku tahu banyak luka yang kamu terima, tapi, kuharap kamu tidak lupa akan banyaknya hal-hal bahagia dalam hidupmu. Aku harap, kamu sembuh dan tidak mengulangi kembali luka yang sama pada anak-anakmu kelak. Kuharap, kamu tahu bahwa kamu tidak merasakan ini sendirian.


7/3/24

Sabtu, 17 Februari 2024

Allah Tahu Aku Rindu

Kemarin, aku bercakap dengan teman sekolahku dulu. Kami membicarakan banyak hal mulai dari hal-hal kesukaan perempuan (apalagi kalau bukan skincare, makeup, hehe), sampai bahas politik (nggak berdebat karena pilihan kami sama, dan pemilunya sudah selesai, kan).

Lalu entah bagaimana kami sampai pada pembicaraan tentang kehilangan. Ia yang kehilangan sosok ayahnya sejak kecil, suatu ketika ditanya oleh seseorang yang juga baru saja kehilangan anggota keluarganya, Ia bilang, "Aku tuh ditanya, Nis, 'kok kamu bisa sekuat itu sih?' Padahal mah ya dikuat-kuatin aja."

Aku terdiam. Jujur, aku juga sempat membatin, 'kok bisa kamu kuat' tapi aku sadar, dari segala hal menyenangkan yang Ia tampakkan, Ia berusaha keras berdamai dengan luka.

"Unik ya, Nis, respon manusia atas kehilangan tuh beda-beda. Kalau mungkin orang lain depresi, kalau kamu sering nangis, aku malah gak bisa nangis, tapi rasanya hampa. Kayak hidup tapi nggak hidup."

Deg🥲 rasanya hatiku meringis, menyadari bahwa mungkin banyak manusia seperti kami, yang juga hidup dengan luka dari kehilangan. Tapi... Sudah begitu jalannya.

Seseorang pernah mengatakan padaku, perihal kehilangan, hakikatnya semua yg kita punya adalah titipan dari Allaah.

"Harta, benda, orang2 yg kita sayangi, bahkan diri kita sendiri adalah titipan Allaah, milik Allaah. Kita ga punya apa2 nis. Lantas, perasaan apa yg disebut kehilangan?"

Mungkin, kami adalah dua orang yang masih berusaha untuk menerima takdir, memahami esensi dari 'kehilangan.' Mungkin juga, kami sudah menerima, namun hanya rindu. 

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari merindukan seseorang yang raganya tidak bisa lagi diraih. Dan tidak pernah aku merasakan sakitnya kepergian manusia selain kepergian eyangku, meski sudah 4 tahun berlalu.

Tapi hari itu, Allah mempertemukan aku dengan adiknya eyangku, yang sepertinya belum pernah lagi aku temui sejak eyang meninggal 4 tahun yang lalu. Pertemuan yang membuat kami berdua menangis dalam pelukan. Aku melihat sosok eyang pada dirinya, sebagaimana beliau melihat sosok kakak tercintanya dalam diriku.

Rasanya, lukaku terbuka kembali. Tapi selepas itu, aku merasakan ketenangan menyelimuti hatiku. Rasanya, sebagian dari rinduku telah menemukan tempatnya berlabuh.

Allah tahu aku rindu, dan sebagaimana Allah pemilik hati ini, hanya Allah yang mampu untuk menyembuhkan.


YaaAllaah, mudahkanlah hati kami untuk menerima segala ketetapan-Mu, dengan luas hati, dengan sabar yang tiada batas, dengan tangan menengadah yang penuh harap, hanya pada-Mu. Kumpulkanlah kami dalam surga-Mu, dengan orang-orang yang kami cintai dan mencintai kami karena-Mu. 

Kamis, 15 Februari 2024

I feel the insecurity, but in a different way....

 Hari itu, ketika sedang scroll social media, mataku tertuju pada sebuah akun seorang muslimah. 

Tulisan-tulisannya membuatku kagum pada ke shalihah-an nya, kecerdasannya dalam menanggapi setiap peristiwa, dan bagaimana ia selalu dikelilingi ilmu serta orang-orang baik dalam hidupnya. Dan betapa mengagumkan kerendahan hatinya (meskipun aku selalu berpikir, kurang bijak jika hanya menilai seseorang melalui sosial medianya, tapi kuharap, Ia selalu ada di jalan kebaikan, sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan-tulisan indahnya).

Lalu satu hal yang aku sadari, betapa baiknya Allah memberiku kemudahan dalam menerima hal-hal baik, sesederhana menggerakkan hatiku untuk menemukan sosial medianya.

Betapa banyaknya hal yang belum aku ketahui, tapi Allah senantiasa menuntunku untuk meniti ilmu satu per satu. 

Meski ada perasaan tertinggal, aku yakin setiap orang punya perjalanan spiritual yang berbeda, dan yang paling terpenting adalah Allah ridho sama apa yang aku lakukan, tanpa harus membanding-bandingkan.

Semoga setiap kebaikan yang kita lihat pada orang lain, bisa menjadi motivasi untuk kita berbuat baik lebih banyak lagi 🍀


Do'a yang semoga tak pernah lupa aku ucapkan, dan semoga menjadi do'amu juga selepas membaca tulisan ini. 


"O Allah, I am blind to this world, to your 'ilm and know nothing, but You are the Lord of the knowledge, so please guide me"


Jum'at mubarak, everyone! ✨


Minggu, 11 Februari 2024

Aku Pikir Ini Jalan Ketenangan

Banyaknya keresahan-keresahan menjadi titik balik yang membuatku ingin kembali kepada-Nya. 

Awalnya, aku merasa tenang. Tapi ternyata, baru sedikit saja Allah bukakan langkahku untuk mencari tahu, dan mempertemukan aku dengan orang-orang yang berilmu, keresahan yang lain muncul di dadaku.

"Bagaimana bisa amalanku pantas bersanding dengan mereka yang sudah lebih dulu mencintai Allah dan berada di jalan-Nya?"


Apakah memang berjalan menuju-Nya adalah sebuah perlombaan?

Ataukah tidak mengapa tertatih asal Dia ridho dengan sedikitnya hal baik yang bisa kulakukan?

Apakah aku punya cukup waktu untuk bisa mempelajari banyak hal yang belum aku ketahui?

Ataukah pada perjalananku Allah memintaku untuk berhenti dan kembali?


YaaAllaah, sesungguhnya aku meminta kepadamu, bukan hanya usia yang panjang, tapi kesempatan untuk menghabiskan seluruh sisa usiaku untuk berjalan menuju-Mu.


Antara tahajud-subuh, 

12/2/24

Senin, 22 Januari 2024

Perihal Perempuan Seperempat Abad

Beberapa waktu lalu, mungkin seperti perempuan pada umumnya, yang berusia nyaris seperempat abad. Aku dijodoh-jodohkan. 

Jelas sejak awal aku menolak, dengan sangat berat hati, karena takut menyakiti pihak keluarganya yang sudah berniat baik.

Semua kekalutan dan kekhawatiran muncul di kepalaku. "Dia udah mapan loh, kamu mau cari yang kaya gimana lagi?" kata mereka. Tapi, aku tidak mencintainya, bukankah pernikahan itu harus berdasar cinta? Aku tidak mengenalnya dan tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh. Aku rasa aku tidak siap. Tidak siap menghadapi orang yang aku tidak mengenalnya samasekali. Tidak siap menghadapi aku, yg kurasa sama sekali belum matang secara ilmu, mental dan finansial. Meskipun ia, dengan usianya yang jauh di atasku, sepertinya sudah siap untuk memasuki fase pernikahan.

Ibuku sangat memahami, dan meminta agar aku mundur dan jangan meng-iyakan kalau hatiku memang berkata tidak. 

Tapi, seperti mengerti kekhawatiranku. Ibu bilang, "Kak, nggak usah khawatir rezeki, ketika menikah, rezeki itu rasanya dibuka seperti keran-keran yang mengalir." 

Aku sangat memahami, tapi aku yang ketika itu sangat mengedepankan logika, masih ketakutan bahwa Allah tidak memberiku rezeki kalau sekarang saja aku belum siap. 

Setelah banyak berpikir dan mendengar cerita orang-orang di luar sana. Memang betul, uang bisa memberi segala hal yang kita inginkan, membuat kita sekiranya merasa tenang menghadapi hari-hari berikutnya. 

Tapi, ternyata ada yang lebih penting dari itu. Ilmu & Iman. Apa yang membedakan antara orang yang tenang bahkan ketika ia tidak memiliki apapun, dengan orang yang kalut ketika tidak memiliki apapun? Ilmu. Bahwa ia mengetahui takdirnya, termasuk rezeki, tidak akan melewatkannya. Dengan ilmu, ia paham bagaimana memupuk kasih sayang serta mengajarkan kepada anak-anaknya, rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan, sesedikit apapun itu. 

Apa yang membuat mereka di luar sana bisa menikahi seseorang yang tidak dicintainya? Iman. Bahwa ia percaya selama pernikahannya dilandasi iman, dengan berada pada bahtera rumah tangga bersama-sama, maka cinta akan tumbuh seiring waktu. Seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino.

Dengan ilmu dan iman, seseorang tidak akan berlaku buruk terhadap pasangannya, sesulit apapun kehidupan yang ia pikul di pundaknya, 

Aku belajar banyak perspektif dari keputusanku. Namun tidak ada yang kusesali dan justru menjadi pemantik kesadaranku, bahwa masih banyak hal yang belum aku pelajari dan persiapkan dengan baik. Aku percaya pilihan hidup yang sudah kubuat, adalah takdir terbaikku. Aku percaya akan ada seseorang yang membuatku yakin. Akan ada seseorang yang datang di hari dimana Allah memantapkan hatiku untuk merasa, "aku siap menerimamu, dan pantas diterima dengan baik olehmu."


sedikit notes hehe

*tapi tetep mengenal calon perlu bgt ya wkwk aku ttp gak menormalisasi lamar-nikah tanpa tau latar belakang+sifat2nya :') 

*gak takut miskin bukan berarti pasrah. kerja keras mencari rezeki juga harus, kan rezeki harus dijemput😆 setidaknya laki2 (menurutku, ya) harus terbiasa financial planning dg baik, dan mau kerja keras

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...