Beberapa orang hidup dalam trauma yang tanpa disadari, membentuk mereka menjadi seorang people pleaser. Merasa harus menyenangkan semua orang, bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain dan mendahulukan kepentingan orang lain. Aku selalu merasa bahwa ini adalah suatu bentuk perbuatan baik, tapi deep down, ternyata aku juga lelah. Perasaan takut ditinggalkan dan selalu butuh validasi manusia juga ada karena ketika sekali saja aku menolak membantu, aku ditinggalkan. Sekali saja aku mengungkapkan pendapatku, aku dianggap tidak pantas. Sekali saja aku membuat keputusan yang mungkin tidak menyenangkan semua pihak, maka aku dibenci.
Banyak pertanyaan berputar di kepalaku, tentang apakah aku
terlalu naif, ataukah aku kurang ikhlas sehingga berharap semua orang membalas
kebaikanku dengan kebaikan yang sama? Ataukah aku memang harus sedikit lebih
'egois' saja? Atau aku yang nggak punya batasan untuk diriku sendiri?
Tapi kemudian, aku belajar perspektif yang berbeda tentang
hal ini, yang setidaknya, membuatku merasa lebih memahami diriku, dan membawaku
pada perasaan tenang. Pertama, aku menyadari bahwa tidak bisa dimungkiri, aku
hidup dalam trauma yang belum kuselesaikan. Aku tidak merasa bahwa ini
adalah suatu aib, dan aku berharap kamu juga mulai menerima jika memang kita
mengalami situasi yang sama.
It's okay to admit that you're flawed, yet, you're
willing to do better day by day.
So it's started with acceptance. Aku
merasa, ketika aku sudah bisa menerima dan memahami kondisiku, aku akan lebih
mudah untuk tahu apa yang harus kuperbaiki dan bagaimana caraku untuk
memperbaiki. Ibaratnya, kalau kamu nggak tahu titik 0 kamu, dan kamu nggak tahu
goals kamu ingin jadi seperti apa, kamu juga nggak akan tahu progres atau cara
untuk menuju goals-mu itu bagaimana. Ilmu fisika kan, ya?
Maka aku paham bahwa aku selalu merasa ingin menyenangkan
orang lain, butuh validasi orang lain, karena perasaan pernah ditinggalkan dan
dibenci. Kemudian aku tahu, bahwa mungkin akan lebih tenang rasanya ketika
melakukan semuanya dengan ikhlas tanpa berharap validasi siapapun. Maka yang
harus kulakukan adalah memaafkan. Kucoba memaafkan siapapun yang
pernah menyakiti, mengukir trauma dalam diriku. Memaafkan diriku sendiri yang
selalu berharap pada manusia, memaafkan diriku sendiri yang merasa sudah
berbuat banyak pada manusia lain yang bisa jadi, karena aku kurang ikhlas.
Sesungguhnya memaafkan adalah proses yang panjang, yang
mungkin diriku sendiri belum selesai. Tapi bisa kukatakan, bahwa dalam prosesku
aku menemukan hatiku jauh lebih tenang.
Setting boundaries is not selfish for the selfless you
Untuk beberapa hal prinsip, kamu nggak egois, kok, kalau
membuat batasan hal-hal yang kamu sukai dan nggak kamu sukai, perlakuan yang
menurutmu bisa kamu terima dan nggak bisa kamu terima. Kuharap, ini nggak
menjadikan kamu merasa buruk. Tapi, kuharap kamu juga bisa mengkomunikasikannya
dengan cara yang baik. Seseorang yang berhati baik akan bisa menghargai
penolakanmu. Lagipula, kita nggak pernah bisa memutuskan sesuatu yang akan
menyenangkan semua orang. Tapi, bukan berarti kamu berhenti berbuat baik pada
mereka yang membenci. Maka, ketika suatu saat mereka membutuhkanmu lagi dan
kamu bisa membantu, bantulah. Jika bertemu, sapalah mereka.
Aku belajar dari bagaimana Rasulullah dan orang-orang shalih
tetap mendo'akan dan berbuat baik pada orang-orang yang membenci beliau.
Walaupun aku tahu, kita nggak sesempurna itu. Mari berdo'a agar kita diberikan
hati yang baik untuk selalu berbuat baik, bahkan kepada orang yang membenci
kita.
Baikmu akan selalu bernilai di mata Allah
Hal lain yang aku pelajari adalah bahwa setiap kebaikan kita
lakukan, seharusnya hanya kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Dengan
begitu, semoga hatimu selalu ingin berbuat baik tanpa merasa cukup karena kamu
begitu ingin dicintai oleh-Nya. Semoga balasan baik ataupun buruk manusia nggak
berpengaruh apapun terhadapmu karena kamu memang nggak membutuhkan validasi
siapapun.
Mari buat batasan untuk hal-hal yang sekiranya menyakitimu,
tapi jangan pernah membenci siapapun. Semoga Allah mudahkan kita untuk terus
memiliki hati yang baik pada siapapun, hanya karena kita begitu mengharapkan
cinta-Nya.
Dalam kehilangan, aku menemukan
Aku pernah kehilangan orang yang membuatku begitu terpuruk.
Merasa bahwa Ia adalah sahabat baikku, tanpa kusadari bahwa selama ini
seringkali mentalku hancur. Aku kehilangan diriku sendiri hanya karena takut kehilangan
manusia. Aku juga pernah merasakan kehilangan hal-hal yang aku rasa menjadi
tumpuan hidupku, satu-satunya harapanku, tanpa sadar, aku sudah terlampau jauh
berharap pada selain-Nya. Sampai akhirnya aku memahami bahwa dalam kehilangan
ini, sejatinya aku nggak kehilangan apapun karena aku menemukan-Nya kembali. Sebetulnya,
Allah begitu mencintaiku dengan cara-Nya yang nggak kupahami.
Terkadang kita dibuat jatuh, merasakan kehilangan dan terluka berkali-kali, sampai kita benar-benar kembali dan menemukan bahwa begitu banyak hal-hal indah yang telah Dia siapkan untuk kita. Bahwa sebetulnya, Allah selalu mengirimkan sinyal kasih sayang-Nya agar kita berpaling dari pilihan-pilihan hidup yang kurang tepat. Sampai kita sadar bahwa bukan Allah yang membuat kita menderita, tapi kita yang nggak mengerti bahasa kasih sayang-Nya dan memilih untuk pergi terlalu jauh.
Sekian ceritaku, bahas people pleaser jadi kemana-mana
ya, maafkan kata-kata dan bahasanku yang terlalu bertele-tele ya, hehe... semoga
ada kebaikan yang bisa diambil^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar