Sabtu, 11 Mei 2024

Yogyakarta, Januari 2024

 Aku duduk di kursi kelas ekonomi, kulihat di sebelahku ada laki-laki  paruh baya, yang ternyata bersama dengan istri, anak, mantu dan cucu-cucunya di kursi sebelah kami. berhadapan dengan kakek tersebut ada seorang bapak yang istrinya duduk di kursi yang lain. Kami nggak ngobrol, tapi aku sedikit mendengar percakapan kakek dan bapak di hadapannya yang sepertinya beliau ini menantunya. Tanpa bermaksud menguping, tapi, ini sedikit informasi yang bisa aku ceritakan. Kakek ini seorang mantan masinis yang kurang lebih sudah bekerja selama 20 tahun.

Aku nggak tahu apa hubungannya tapi, saat itu juga aku merasa aman sebab duduk bersebelahan dengan orang yang memang memahami seluk beluk kereta api. Jadi, kalau kebingungan aku bisa bertanya. Setelah beberapa jam perjalanan dan melewati beberapa stasiun pemberhentian, kursi-kursi di gerbong ekonomi ini mulai lenggang, keluarga kakek duduk berpencar mengisi kursi-kursi yang kosong. Kemudian di stasiun pemberhentian selanjutnya, duduklah seorang TNI di sebelahku. Jujur aku takut banget lihat laki-laki semacam TNI/Polri, yang ada di pikiranku mereka ini galak (maaf ya, mas, udah buruk sangka duluan). Tapi, aku bersyukur karena tanpa disangka sepanjang jalan kami bertukar banyak cerita dan Ia membantuku untuk menurunkan koper bahkan membawakannya ketika turun di stasiun tujuan akhir kami.

Jujur, sepanjang jalan aku kepikiran nanti di stasiun tujuanku, siapa yang mau bantu turunin koperku dari atas? Tapi, ternyata Allah mempertemukan aku dengan orang baik di perjalanan yang memudahkan aku. Aku tersadar, bahwa kemanapun aku melangkah, aku nggak pernah lepas dari penjagaan Allah, Alhamdulillah :’)

Singkat cerita, hari pertama diisi dengan kegiatan outing di kantorku (jadi, aku ke sini untuk kegiatan kantor). Kami berkumpul di alun-alun selatan Jogja. Semua berjalan lancar, kami jogging, main games, sampai tiba-tiba, leader kami memberikan challenge kepada kami untuk menjual cilok dari salah satu pedagang yang ada di alun-alun selatan. Nggak, nggak beberapa bungkus, satu gerobak harus habis! Agak syok tapi kupikir akan seru juga. Bukan pertama kalinya aku ke Jogja, tapi ini pertama kalinya ke Jogja dan disuruh jualan cilok keliling. We accept the challenge. Kami berjualan keliling sambil sesekali ngetem bareng pedagang kaki lima lainnya (btw, bapak yang punya gerobak cilok nggak ikut, ya). Orang-orang kayaknya bingung lihatnya, Ini siapa dagang cilok rombongan begini? Hahahah...

Saat ngetem aku dan timku mengobrol banyak, tanpa sadar kegiatan ini bisa membuat kami saling mengenal dan bertukar cerita satu sama lain. Kami juga banyak sekali dibantu oleh sesama pedagang lainnya. Kami diajarkan untuk ngetem di sebelah mana biar nggak diusir preman. Diajarkan juga untuk meletakkan gerobak di tempat ramai dan kelihatan sama orang biar banyak yang beli. Aku masih ingat betul wajah ibu dan bapak yang mengajak kami mengobrol dengan hangat. Bahkan, ada momen di mana salah satu temanku meletakkan smartphone nya sembarangan di pinggir jalan. Ibu ini memperingatkan untuk lebih berhati-hati, katanya, di sana banyak pencopet :’) Alhamdulillah lagi-lagi Allah mengirimkan orang-orang baik untuk menemani perjalanan kami.

Ketika masuk waktu zuhur, kami sibuk mencari tempat untuk makan siang. Saat itu, kami melewati satu wisma yang sedang membagi-bagikan makan siang gratis. Kami berpikir untuk makan siang di sana saja, karena uang hasil jualan cilok ini harus cukup untuk makan kami semua. Yah, daripada untungnya kepotong untuk uang makan, lebih baik menghemat pengeluaran makan siang, pikir kami. Tapi, salah satu rekanku bilang, katanya kalau kegiatan kayak gini, nanti takutnya diminta data diri dan nggak tau aman atau nggaknya.

Seorang nenek penjual batagor di depan wisma tiba-tiba berkata, “Mas, mba, sini makan batagor aja, kalau makan di sana nanti kamu ditanya macem-macem,” Kurang lebih begitu yang kuingat. Kami menolak dengan halus dan masih bimbang. Nenek tersebut berkata lagi, “Kalau mau makan di sana ayuk tak anter mas, mba, biar tak bilangin nanti.” Tapi, kami akhirnya memutuskan untuk mencari tempat lain untuk makan berat. Kami beranjak pergi. Setelah beberapa saat berkeliling, belum juga ketemu tempat makan di sekitar alun-alun. Kami menepi sejenak untuk menghitung pendapatan dan coba mencari tempat makan melalui google maps, sebagian teman laki-laki berjalan untuk membeli es teh manis.

Tiba-tiba, nenek penjual batagor tadi menghampiri kami. Asli, itu udah lumayan jauh kami jalan, ternyata nenek itu cari-cari kami dan masih menawarkan untuk mengantar ke wisma. Katanya, kasihan lihat kami kebingungan cari makan. Aku dan teman-temanku betul-betul tersentuh, Ya Allaah, betapa baiknya orang-orang yang kami temui :’) Tapi kami sekali lagi menolak halus dan berterima kasih, bilang bahwa kami sudah menemukan tempat makan dan akan ke sana. Tengah menunggu teman-teman kami kembali, tiba-tiba dikejutkan lagi oleh kedatangan bapak yang tadi ngetem bersama kami di pinggir jalan. Tiba-tiba beliau memberi dua bungkus nasi untuk kami. “Nih, buat rame-rame, bapak udah makan, kok.” :’) MasyaaAllaah baiknyaaa

Jujur, beberapa kali ke Jogja, aku selalu aja ketemu sama orang-orang baik, tapi baru berkesan banget kali ini, karena beneran nggak nyangka pedagang-pedagang di sana sebaik itu sama kami :’) Jogja dan manusia-manusianya memang selalu hangat dan akan selalu menjadi tempat yang aku kunjungi lagi dan lagi. Jogja tidak hanya meninggalkan kenangan manis dari perjuangan, gelak tawa, obrolan bersama rekan-rekan serta pedagang kaki lima, tapi juga menghadirkan kehangatan yang membekas di hati kami, terutama aku sebagai musafir yang tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan manusia-manusia sebaik ini.

Kami juga belajar tentang perjuangan dari bapak penjual cilok yang kami dagangkan ciloknya. Leader kami bukan tanpa tujuan memberikan challenge ini dan memilih dagangan bapak ini untuk kami jual. Beliau mantan supir taksi yang sempat mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa lagi mengemudi. Tapi, beliau tidak patah semangat. Jiwa berjuang mengantarkan beliau untuk bisnis cilok. Bukan sembarangan, kini beliau sudah memiliki beberapa gerobak (cabang) cilok yang semuanya ada di sekitaran alun-alun selatan dengan shift jualan yang bergantian, keren banget, ya?

“Makanya tadi walaupun mbak Nisa bilang mulai nggak enak badan, saya tetep bilang lanjutkan sampai habis. Bukan saya nggak kasihan, tapi selama mbak Annisa sudah makan, saya yakin pasti mampu. Saya mau mengajarkan untuk ‘push your limit’. Buktinya, sekarang nggak apa-apa, kan? Masih sehat kan? Kadang kita terlalu membatasi diri kita, merasa nggak sanggup, padahal kita masih bisa melakukan lebih.” Kurang lebih seperti itu yang dituturkan oleh leader kami kepadaku ketika kami sedang makan malam bersama selepas menyelesaikan dagangan cilok kami.

Ini salah satu pelajaran berharga yang kudapat, yang akan selalu kukenang sebagai pengingat bahwa aku mampu untuk melampaui batas-batas yang selama ini kubuat sendiri. Aku juga menyadari hal penting, bahwa dimanapun aku berada, selama aku meminta tolong pada Allah dengan do’a, bahkan kalaupun aku melupakan-Nya, Dia tetap selalu menjagaku. Allah Yang Maha Baik senantiasa mempertemukan aku dengan orang-orang sesuai dengan yang aku niatkan. Berangkat ke kota ini, aku niatkan untuk mencari pengalaman dan belajar. Maka Allah hadirkan mereka yang menuntunku untuk belajar banyak tentang kehidupan. Aku berdo’a semoga ragaku senantiasa Allah jaga. Maka, kakek mantan masinis, mas TNI, rekan-rekan kerjaku dan para pedagang kaki lima yang masyaaAllaah semuanya orang baik, aku memahami bahwa mereka Allah kirimkan untuk senantiasa membuatku merasa aman, merasakan kehangatan di kota yang asing bagiku, sekaligus menemani perjalananku :’)

Melalui mereka, aku juga belajar, dimanapun aku berpijak, siapapun yang aku temui, alangkah baiknya untuk selalu berbuat baik. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja, kita yang menjadi perantara dikabulkannya do’a orang lain yang memohonkan kebaikan.

Untuk kamu yang membaca, semoga tulisan sederhana ini, bisa menjadi pengingat dan ada kebaikan yang bisa diambil. Makasih udah baca sampai akhir :)

 

Wallahu a’lam bish showaab.

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...