Aku duduk di kursi kelas ekonomi, kulihat di sebelahku ada laki-laki paruh baya, yang ternyata bersama dengan istri, anak, mantu dan cucu-cucunya di kursi sebelah kami. berhadapan dengan kakek tersebut ada seorang bapak yang istrinya duduk di kursi yang lain. Kami nggak ngobrol, tapi aku sedikit mendengar percakapan kakek dan bapak di hadapannya yang sepertinya beliau ini menantunya. Tanpa bermaksud menguping, tapi, ini sedikit informasi yang bisa aku ceritakan. Kakek ini seorang mantan masinis yang kurang lebih sudah bekerja selama 20 tahun.
Aku nggak tahu apa hubungannya tapi, saat itu juga aku
merasa aman sebab duduk bersebelahan dengan orang yang memang memahami seluk
beluk kereta api. Jadi, kalau kebingungan aku bisa bertanya. Setelah beberapa
jam perjalanan dan melewati beberapa stasiun pemberhentian, kursi-kursi di gerbong
ekonomi ini mulai lenggang, keluarga kakek duduk berpencar mengisi kursi-kursi
yang kosong. Kemudian di stasiun pemberhentian selanjutnya, duduklah seorang
TNI di sebelahku. Jujur aku takut banget lihat laki-laki semacam TNI/Polri,
yang ada di pikiranku mereka ini galak (maaf ya, mas, udah buruk sangka duluan).
Tapi, aku bersyukur karena tanpa disangka sepanjang jalan kami bertukar banyak
cerita dan Ia membantuku untuk menurunkan koper bahkan membawakannya ketika
turun di stasiun tujuan akhir kami.
Jujur, sepanjang jalan aku kepikiran nanti di stasiun
tujuanku, siapa yang mau bantu turunin koperku dari atas? Tapi, ternyata Allah
mempertemukan aku dengan orang baik di perjalanan yang memudahkan aku. Aku
tersadar, bahwa kemanapun aku melangkah, aku nggak pernah lepas dari penjagaan
Allah, Alhamdulillah :’)
Singkat cerita, hari pertama diisi dengan kegiatan outing di
kantorku (jadi, aku ke sini untuk kegiatan kantor). Kami berkumpul di alun-alun
selatan Jogja. Semua berjalan lancar, kami jogging, main games, sampai
tiba-tiba, leader kami memberikan challenge kepada kami untuk menjual cilok
dari salah satu pedagang yang ada di alun-alun selatan. Nggak, nggak beberapa
bungkus, satu gerobak harus habis! Agak syok tapi kupikir akan seru juga. Bukan
pertama kalinya aku ke Jogja, tapi ini pertama kalinya ke Jogja dan disuruh jualan
cilok keliling. We accept the challenge. Kami berjualan keliling sambil
sesekali ngetem bareng pedagang kaki lima lainnya (btw, bapak yang punya
gerobak cilok nggak ikut, ya). Orang-orang kayaknya bingung lihatnya, Ini
siapa dagang cilok rombongan begini? Hahahah...
Saat ngetem aku dan timku mengobrol banyak, tanpa sadar kegiatan
ini bisa membuat kami saling mengenal dan bertukar cerita satu sama lain. Kami
juga banyak sekali dibantu oleh sesama pedagang lainnya. Kami diajarkan untuk
ngetem di sebelah mana biar nggak diusir preman. Diajarkan juga untuk meletakkan
gerobak di tempat ramai dan kelihatan sama orang biar banyak yang beli. Aku
masih ingat betul wajah ibu dan bapak yang mengajak kami mengobrol dengan
hangat. Bahkan, ada momen di mana salah satu temanku meletakkan smartphone nya
sembarangan di pinggir jalan. Ibu ini memperingatkan untuk lebih berhati-hati,
katanya, di sana banyak pencopet :’) Alhamdulillah lagi-lagi Allah mengirimkan
orang-orang baik untuk menemani perjalanan kami.
Ketika masuk waktu zuhur, kami sibuk mencari tempat untuk
makan siang. Saat itu, kami melewati satu wisma yang sedang membagi-bagikan
makan siang gratis. Kami berpikir untuk makan siang di sana saja, karena uang
hasil jualan cilok ini harus cukup untuk makan kami semua. Yah, daripada
untungnya kepotong untuk uang makan, lebih baik menghemat pengeluaran makan
siang, pikir kami. Tapi, salah satu rekanku bilang, katanya kalau kegiatan
kayak gini, nanti takutnya diminta data diri dan nggak tau aman atau nggaknya.
Seorang nenek penjual batagor di depan wisma tiba-tiba berkata,
“Mas, mba, sini makan batagor aja, kalau makan di sana nanti kamu ditanya
macem-macem,” Kurang lebih begitu yang kuingat. Kami menolak dengan halus dan masih bimbang. Nenek tersebut berkata lagi, “Kalau mau makan di sana ayuk tak
anter mas, mba, biar tak bilangin nanti.” Tapi, kami akhirnya memutuskan untuk
mencari tempat lain untuk makan berat. Kami beranjak pergi. Setelah beberapa saat berkeliling, belum juga ketemu tempat makan di
sekitar alun-alun. Kami menepi sejenak untuk menghitung pendapatan dan coba
mencari tempat makan melalui google maps, sebagian teman laki-laki berjalan untuk
membeli es teh manis.
Tiba-tiba, nenek penjual batagor tadi menghampiri kami.
Asli, itu udah lumayan jauh kami jalan, ternyata nenek itu cari-cari kami dan
masih menawarkan untuk mengantar ke wisma. Katanya, kasihan lihat kami
kebingungan cari makan. Aku dan teman-temanku betul-betul tersentuh, Ya Allaah,
betapa baiknya orang-orang yang kami temui :’) Tapi kami sekali lagi menolak
halus dan berterima kasih, bilang bahwa kami sudah menemukan tempat makan dan
akan ke sana. Tengah menunggu teman-teman kami kembali, tiba-tiba dikejutkan
lagi oleh kedatangan bapak yang tadi ngetem bersama kami di pinggir jalan.
Tiba-tiba beliau memberi dua bungkus nasi untuk kami. “Nih, buat rame-rame,
bapak udah makan, kok.” :’) MasyaaAllaah baiknyaaa
Jujur, beberapa kali ke Jogja, aku selalu aja ketemu sama
orang-orang baik, tapi baru berkesan banget kali ini, karena beneran nggak
nyangka pedagang-pedagang di sana sebaik itu sama kami :’) Jogja dan
manusia-manusianya memang selalu hangat dan akan selalu menjadi tempat yang aku
kunjungi lagi dan lagi. Jogja tidak hanya meninggalkan kenangan manis
dari perjuangan, gelak tawa, obrolan bersama rekan-rekan serta pedagang kaki
lima, tapi juga menghadirkan kehangatan yang membekas di hati kami, terutama
aku sebagai musafir yang tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan manusia-manusia
sebaik ini.
Kami juga belajar tentang perjuangan dari bapak penjual
cilok yang kami dagangkan ciloknya. Leader kami bukan tanpa tujuan memberikan
challenge ini dan memilih dagangan bapak ini untuk kami jual. Beliau mantan
supir taksi yang sempat mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa lagi
mengemudi. Tapi, beliau tidak patah semangat. Jiwa berjuang mengantarkan beliau
untuk bisnis cilok. Bukan sembarangan, kini beliau sudah memiliki beberapa
gerobak (cabang) cilok yang semuanya ada di sekitaran alun-alun selatan dengan
shift jualan yang bergantian, keren banget, ya?
“Makanya tadi walaupun mbak Nisa bilang mulai nggak enak
badan, saya tetep bilang lanjutkan sampai habis. Bukan saya nggak kasihan, tapi
selama mbak Annisa sudah makan, saya yakin pasti mampu. Saya mau mengajarkan
untuk ‘push your limit’. Buktinya, sekarang nggak apa-apa, kan? Masih
sehat kan? Kadang kita terlalu membatasi diri kita, merasa nggak sanggup,
padahal kita masih bisa melakukan lebih.” Kurang lebih seperti itu yang
dituturkan oleh leader kami kepadaku ketika kami sedang makan malam bersama selepas menyelesaikan dagangan cilok kami.
Ini salah satu pelajaran berharga yang kudapat, yang akan
selalu kukenang sebagai pengingat bahwa aku mampu untuk melampaui batas-batas
yang selama ini kubuat sendiri. Aku juga menyadari hal penting, bahwa dimanapun
aku berada, selama aku meminta tolong pada Allah dengan do’a,
bahkan kalaupun aku melupakan-Nya, Dia tetap selalu menjagaku. Allah Yang Maha
Baik senantiasa mempertemukan aku dengan orang-orang sesuai dengan yang aku niatkan.
Berangkat ke kota ini, aku niatkan untuk mencari pengalaman dan belajar. Maka
Allah hadirkan mereka yang menuntunku untuk belajar banyak tentang kehidupan.
Aku berdo’a semoga ragaku senantiasa Allah jaga. Maka, kakek mantan masinis,
mas TNI, rekan-rekan kerjaku dan para pedagang kaki lima yang masyaaAllaah
semuanya orang baik, aku memahami bahwa mereka Allah kirimkan untuk senantiasa
membuatku merasa aman, merasakan kehangatan di kota yang asing bagiku, sekaligus
menemani perjalananku :’)
Melalui mereka, aku juga belajar, dimanapun aku berpijak,
siapapun yang aku temui, alangkah baiknya untuk selalu berbuat baik. Kita tidak
pernah tahu, mungkin saja, kita yang menjadi perantara dikabulkannya do’a orang
lain yang memohonkan kebaikan.
Untuk kamu yang membaca, semoga tulisan sederhana ini, bisa
menjadi pengingat dan ada kebaikan yang bisa diambil. Makasih udah baca sampai akhir :)
Wallahu a’lam bish showaab.