Rabu, 12 Juni 2024

Cerpen : I finally understand that it's 'love'

 Ia berjalan berjarak beberapa meter di depanku. Langkahnya begitu tegap dan cepat, kami tidak bisa menyamainya. "Bu, ada apa? Kita mau ke mana?" Kesekian kalinya anak laki-lakiku bertanya. Aku tidak bisa menjawab apapun dan hanya terus berjalan sambil menggenggam tangannya. Napasku tersengal, langkahku semakin cepat karena berusaha menyamai langkah laki-laki yang berjalan di depanku, pikiranku kalut. Sesekali laki-laki itu menoleh ke belakang, mungkin memastikan aku menyusulnya.

Siapa yang pernah menyangka akan ada di situasi genting seperti ini. Acara sekolah yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka. Segerombolan orang yang bahkan aku tidak tahu akar masalahnya apa, berbondong-bondong datang dengan masing-masing menggenggam senjata tajam. Kami semua dikepung, tidak tahu harus pergi ke mana. Para aparat pelindung masyarakat mungkin masih dalam perjalanan, atau bahkan samasekali tidak peduli dengan keadaan kami (atau bahkan mereka tidak tahu, tidak ada yang menghubungi bantuan? Ntahlah).

Langkah kami terhenti pada kerumunan warga sekolah yang sedang mengerubungi televisi seolah-olah layar dengan teknologi yang cukup canggih itu terdapat pintu keluar yang bisa menyelamatkan kami semua. Aku bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan di berita itu. Tapi satu yang kupahami, kami semua disandera.

Tiba-tiba saja, laki-laki yang sedari tadi berada di depanku menarik tanganku. Menyuruhku berlari. Semua orang masih terfokus pada berita yang ditayangkan di televisi. Aku kebingungan, Ia sedikit membentak, "Lari!"

Aku terkejut dan segera mengikutinya. Ia melepas genggamanku dan berlari cepat, memeriksa satu per satu pintu ruangan kelas di sebelah kiri dan kanan kami. Tidak lama kemudian, terdengar suara kaca pecah, semua orang berteriak dan aku bisa mendengar langkah mereka berlarian di belakang kami.

Aku sempat kesal. Mengapa Ia tidak menggenggam tanganku saja supaya kami bejalan beriringan. Mengapa tidak Ia gendong saja anak laki-laki kami yang masih berusia enam tahun ini. Anak kecil ini langkahnya tertatih, Ia ketakutan. Langkahku terhenti karena lelah. Aku berusaha mengatur napas. Laki-laki itu terus berlari, masih membuka satu per satu ruangan, memeriksa tiap sudut, lama kelamaan sosoknya menghilang dari pandanganku, ntah apa yang Ia pikirkan. Laki-laki yang selama ini kupercaya akan selalu melindungi kami, bahkan meninggalkan kami di belakang. Kerumunan orang mulai berlari menyusulku. Aku terombang-ambing sambil memastikan anakku tidak telepas dari genggamanku.

Tiba-tiba, seseorang menggenggam tanganku. Aku menegakkan kepala, kulihat jelas kekhawatiran di wajahnya. Ia bahkan tidak sempat menyeka peluhnya, napasnya tidak keruan. Ya, dia laki-laki yang kupikir akan meninggalkan kami, Ia berbalik arah untuk menggenggamku. Kali ini, Ia berbicara dengan lebih lembut, "Ayo, aku menemukan tempat aman."

Kami berlari, kali ini beriringan. Ia masih terus menggenggam erat tanganku. Matanya sibuk mengawasi berbagai sudut, juga berkali-kali melempar pandangannya kepadaku dan anak laki-laki kami. Ia mengarah ke satu ruangan di ujung lorong, sepi. Ruangan tersebut di dalamnya terdapat satu ruang kecil, berisi beberapa barang-barang yang sepertinya tidak lagi terpakai. Cukup sempit untuk kami bertiga, pikirku. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia menyuruhku masuk dan melepaskan genggaman tangannya. Ia sedikit menjauh, matanya berjaga melihat ke arah pintu. Aku dan anakku segera masuk ke ruang kecil itu. Pintunya masih terbuka, aku menunggunya. Ia mendekat, alih-alih ikut masuk, Ia hendak menutup pintunya dari luar. 

Aku menahannya, "Kenapa? Ayo cepat masuk..." Ia tersenyum, namun raut wajahnya muram, "Kamu berdua saja, aku berjaga di luar..." Ia melanjutkan, "Tolong jangan sekali pun buka pintunya." Aku terdiam. Air mataku terjatuh, aku tidak tahu harus apa. Suara teriakan, langkah kaki, dan pecahan barang-barang mulai bersahutan di luar sana. 

"I promised to myself to protect you, I can't break my promise, please hide here. I'll find a way to get out, I'll be back."

Air mataku semakin tak terbendung. Aku ketakutan. Pintu ruang kecil yang sedari tadi kutahan, perlahan Ia melepaskan genggamanku dari pintu itu dan menutupnya. Dari luar, Ia berkata lirih, "Jika aku tidak kembali, tolong jaga diri baik-baik. Tapi aku janji... kalian pasti selamat."

Kemudian aku mendengar suara pintu ditutup dan dikunci. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara tembakan, beberapa kali. Aku menutup telinga anak laki-lakiku, Ia memelukku. Dengan tubuh gemetar, kami berdua menahan tangis. Masih dengan suara-suara menakutkan yang sama; tembakan, teriakan, tangis, langkah kaki, pecahan barang-barang. Aku mendengarnya sampai beberapa jam kemudian. Mataku berat karena menangis, lisanku tidak terhenti merapal doa meminta agar laki-laki yang kucintai selalu dilindungi, meminta agar kami juga dilindungi.

Anakku akhirnya tertidur. Suara-suara menakutkan itu mulai mereda, ntah apa yang terjadi di luar sana. Rasanya ingin sekali melihat keadaan di luar, tapi aku mengingat pesannya untuk tidak membuka pintu. Aku menatap ventilasi udara yang menghadirkan cahaya oranye masuk menyilaukan wajahku, hari sudah petang. Laki-laki itu belum juga kembali.

Lagi-lagi, air mataku terjatuh. Pikiranku melayang pada sosok laki-laki itu. Ia bukan laki-laki yang dengan mudah mengucapkan cinta. Ia juga bukan laki-laki yang terus-menerus mengungkapkan betapa Ia menyayangiku. Aku tahu betul Ia tidak suka terburu-buru, tapi hari ini, aku melihatnya berlari cepat. Kupikir, Ia akan meninggalkanku, tapi ternyata Ia mencari tempat teraman untuk memastikan aku akan baik-baik saja. Ia tidak berjalan beriringan denganku sedari awal, tapi aku ingat bagaimana tadi seseorang berlari dan hendak menabrakku, Ia berhasil menghadangnya, dan langsung melihat ke arahku, seolah memastikan tidak sedikitpun aku terluka.

Ia membentakku menyuruh berlari, setelah kuingat-ingat, pria paruh baya di berita itu berkata bahwa kemungkinan kami diselamatkan masih belum pasti, karena mereka belum bisa bernegosiasi dengan si dalang kejahatan. Seolah laki-laki ini tahu, bahwa hal pertama yang harus Ia pastikan dalam situasi itu adalah menyelamatkan nyawaku dan anaknya.

Aku ingat ketika kami berjalan beriringan menuju ruangan ini, Ia berjalan dengan pincang, kakinya terluka. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan Ia terluka, dan apa yang membuatnya terluka. Padahal selama berlari tadi, selain peluh yang membasahi kemejanya, dan raut wajahnya yang penuh kekhawatiran, Ia tampak baik-baik saja.

Aku tersadar dari lamunanku saat kabut putih perlahan masuk melalui celah ventilasi udara di ruang kecil tempat kami bersembunyi. Kesadaranku semakin menurun, pandanganku gelap.

----

Mataku perlahan terbuka, cahaya terang dari langit-langit menyilaukan pandanganku. Aku sudah berada di ranjang rumah sakit. Seketika jantungku berdegup cepat, aku melempar pandangan ke berbagai sudut ruangan beraroma obat-obatan itu, mencari-cari anakku. Tidak kutemukan Ia dimanapun. Pintu ruangan ini terbuka, aku mendengar beberapa langkah kaki. Kulihat kedua orang tuaku bersama anakku, berlari berhamburan memelukku. Kemudian Ibu berjalan ke arah tirai di sebelahku dan membukanya. 

Kudapati laki-laki itu di sana. Laki-laki yang sangat aku cintai. Matanya terpejam, kulihat beberapa luka di wajahnya yang teduh, syukurlah tubuhnya baik-baik saja. Aku perlahan beranjak menujunya. Air mataku tumpah. Aku benar-benar berpikir akan kehilangannya. Ia membuka mata tepat setelah aku berdiri di sebelahnya. Ia tersenyum. "Aku menepati janjiku, kan?"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...