Lalu entah bagaimana kami sampai pada pembicaraan tentang kehilangan. Ia yang kehilangan sosok ayahnya sejak kecil, suatu ketika ditanya oleh seseorang yang juga baru saja kehilangan anggota keluarganya, Ia bilang, "Aku tuh ditanya, Nis, 'kok kamu bisa sekuat itu sih?' Padahal mah ya dikuat-kuatin aja."
Aku terdiam. Jujur, aku juga sempat membatin, 'kok bisa kamu kuat' tapi aku sadar, dari segala hal menyenangkan yang Ia tampakkan, Ia berusaha keras berdamai dengan luka.
"Unik ya, Nis, respon manusia atas kehilangan tuh beda-beda. Kalau mungkin orang lain depresi, kalau kamu sering nangis, aku malah gak bisa nangis, tapi rasanya hampa. Kayak hidup tapi nggak hidup."
Degš„² rasanya hatiku meringis, menyadari bahwa mungkin banyak manusia seperti kami, yang juga hidup dengan luka dari kehilangan. Tapi... Sudah begitu jalannya.
Seseorang pernah mengatakan padaku, perihal kehilangan, hakikatnya semua yg kita punya adalah titipan dari Allaah.
"Harta, benda, orang2 yg kita sayangi, bahkan diri kita sendiri adalah titipan Allaah, milik Allaah. Kita ga punya apa2 nis. Lantas, perasaan apa yg disebut kehilangan?"
Mungkin, kami adalah dua orang yang masih berusaha untuk menerima takdir, memahami esensi dari 'kehilangan.' Mungkin juga, kami sudah menerima, namun hanya rindu.
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari merindukan seseorang yang raganya tidak bisa lagi diraih. Dan tidak pernah aku merasakan sakitnya kepergian manusia selain kepergian eyangku, meski sudah 4 tahun berlalu.
Tapi hari itu, Allah mempertemukan aku dengan adiknya eyangku, yang sepertinya belum pernah lagi aku temui sejak eyang meninggal 4 tahun yang lalu. Pertemuan yang membuat kami berdua menangis dalam pelukan. Aku melihat sosok eyang pada dirinya, sebagaimana beliau melihat sosok kakak tercintanya dalam diriku.
Rasanya, lukaku terbuka kembali. Tapi selepas itu, aku merasakan ketenangan menyelimuti hatiku. Rasanya, sebagian dari rinduku telah menemukan tempatnya berlabuh.
Allah tahu aku rindu, dan sebagaimana Allah pemilik hati ini, hanya Allah yang mampu untuk menyembuhkan.
YaaAllaah, mudahkanlah hati kami untuk menerima segala ketetapan-Mu, dengan luas hati, dengan sabar yang tiada batas, dengan tangan menengadah yang penuh harap, hanya pada-Mu. Kumpulkanlah kami dalam surga-Mu, dengan orang-orang yang kami cintai dan mencintai kami karena-Mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar