Selasa, 21 Juli 2020

Tulisan Singkat dari Perjalanan Panjang [2]

Tinggal jauh dari rumah juga banyak mengajarkan aku untuk bersyukur. Salah satunya pada hal sederhana seperti makanan. Biasanya di rumah kalau mau makan tinggal tengok meja makan. Tapi di sana ketika lapar harus jalan untuk beli makanan sendiri. Syukurlah kalau warung nasi di seberang kos sedang buka dan tidak habis lauknya. Lebih bersyukur lagi kalau uang masih banyak dan cukup untuk makan yang ‘sedikit mewah’ seperti ayam atau telur. Kalau tidak, ya, makan tempe seharian. Biar begitu, tetap saja nikmat, Alhamdulillah, masih bisa makan. Masih banyak pengamen yang harus berdiri entah berapa lama dan menjajakan suara merdu mereka serta alunan gitar untuk sekedar mendapat satu-dua koin yang diberi para pelanggan warteg tempat aku biasa makan siang. Entah apakah mereka sudah makan atau koin yang ada dalam gelas digenggamannya belum cukup untuk sekedar membeli sebungkus nasi. 

Setelah dua bulan, aku kembali pulang. Rasanya memang rindu rumah. Tapi Pare sepertinya sudah menjadi rumah kedua bagiku. Ingin sekali kembali. Tapi perjalananku di sana sudah selesai. Masih panjang perjalanan yang harus aku tempuh untuk berjuang mengejar mimpi yang sempat kukira gagal. Tidak. Bukan gagal, memang belum jadi rezekiku. 

Setelah kembali, lagi-lagi Tuhanku membimbing aku untuk belajar. Mempertemukan dengan orang-orang yang selalu mengajak pada kebaikan, selalu mengingatkan dalam hal ibadah. Kami rutin datang ke majelis tiap akhir pekan. Belajar ilmu agama bersama, bercerita, berbagi pengalaman. Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Kok bisa teman SMA yang dulu biasa-biasa saja, bahkan mungkin kami jauh dari kata ‘baik’, sekarang malah jadi teman yang bergandengan dalam jalan kebaikan. Teman yang sekedar bertemu di majelis bisa jadi teman akrab.  Sampai teman seperantauan juga dipertemukan lagi di sini, lalu kami belajar ilmu agama bersama. 

Ternyata Tuhan memang selalu punya cara untuk mempertemukan siapa saja yang ditakdirkan-Nya untuk bersama. Apa yang sudah kita rencanakan, apa yang kita kira akan menjadi takdir kita, malah jauh dari perkiraan. Apa yang kita pikir baik, ternyata rencana-Nya selalu jauh lebih baik. 

Semesta yang sempat kukutuk karena ketidakadilannya sekarang menunjukkan jalannya. Benar adanya, dunia terus berputar. Kadang kita ada di atas, kadang ada di bawah. Aku yang tidak sadar. Aku yang tidak terima padahal yang lalu adalah giliranku untuk berada di posisi bawah. Aku hanya perlu menerima. Tanganku hanya perlu menengadah untuk meminta pada-Nya. Tapi aku tidak mengerti. Sekarang aku tahu. Aku menyesal pernah mengeluh, padahal Dia tidak pernah tidak memberi kebaikan barang sedikitpun pada tiap makhluk-Nya.

Mulai saat itu aku belajar satu hal yang paling penting dalam hidup. Belajar mengikhlaskan. Hingga suatu ketika aku tahu bahwa aku tidak lolos lagi. Sedih sejujurnya. Tapi aku tahu ada rencana lain yang sudah disiapkan-Nya untukku. 

Benar saja, pada akhirnya aku berhasil. Aku mendapat Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan yang tidak sesuai rencanaku. Tapi setelah dijalani aku jadi tahu. Ternyata memang ini yang aku butuhkan. Memang di sinilah tempat yang baik untukku. 

Waktu satu tahun yang begitu singkat ternyata bisa mengubah banyak hal dalam hidup. Perjalanan panjang yang terasa singkat entah sudah memberikan berapa banyak pelajaran untuk manusia sepertiku setiap harinya, mungkin juga bagi manusia-manusia lainnya yang selalu mengambil makna dari setiap kejadian. 

Aku jadi ingat, suatu ketika seseorang pernah berkata padaku, “Sayang umurnya dipakai untuk nganggur setahun.” Tapi aku malah menemukan banyak waktu berharga yang kuhabiskan untuk belajar dari hidup. Aku merasa tidak ada yang siasia ketika tiap detiknya dihabiskan untuk terus mencari makna kehidupan. 

Sedikit pesanku, untuk siapapun yang membaca ini. Mungkin mereka pernah berkata bahwa kamu gagal. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu diberikan ujian karena Tuhan tahu kamu jauh lebih mampu dari yang kamu pikirkan. Kamu jauh lebih hebat dari yang mereka kira. 

Rencana-Nya tidak pernah meleset barang satu detikpun. Semesta hanya butuh waktu untuk bekerja. Manusia butuh bersabar sampai waktunya.    

(Tulisan singkat dari perjalanan panjang seorang manusia yang masih terus berjuang dalam menebar manfaat)

Tulisan Singkat dari Perjalanan Panjang [1]

“Kamu kuliah di mana?” 

“Kok bisa nggak lolos?” 

“Jadi nganggur setahun ngapain?” 

Mereka sibuk bertanya tentang diriku. Aku semakin tertekan. Tidak tahu harus jawab apa. Mau mengeluh? Pada siapa? Tidak akan mengubah apapun. Termasuk kenyataan bahwa aku gagal. 
Tulisan singkat ini bukan untuk mencurahkan semua keluh kesahku. Bukan. Aku hanya berharap kalian yang pernah ada di posisi ini, yang pernah merasakan gapyear, pernah atau sedang merasakan kegagalan, tidak lagi membenci diri sendiri dan menyalahkan keadaan.

Terkadang, hal-hal yang kita anggap menyakitkan justru adalah sesuatu kita butuhkan untuk berproses menuju pendewasaan.

Gagal dalam mengejar mimpi untuk berkuliah bukan hal yang mudah. Apalagi melihat teman-teman yang lain sudah pakai almamater kampus impian masing-masing. Bukan aku tidak bahagia atas kebahagiaan mereka. Hanya saja ketika itu aku merasa semesta tidak adil. Aku merasa diriku yang paling tidak beruntung.

Apalagi ini bukan sekedar soal gagal mengejar mimpi, tapi kenyataan bahwa aku gagal membahagiakan orang tua, itu lebih menyakitkan.

Kemudian keadaan membawaku pada perjalanan panjang di daerah rantau. Hari itu kereta membawaku dengan tujuan Stasiun Kediri. Perlu waktu sekitar setengah jam dari stasiun untuk sampai ke tujuan utamaku, Pare. Aku menetap dua bulan di sana. Lumayan, mengisi waktu gapyear. 
Niatnya ingin belajar lebih mandiri, tapi baru sebentar sudah menangis. Rindu pulang. Itu pertama kalinya aku tahu bahwa betapapun peliknya keadaan di rumah, pulang selalu menjadi sesuatu yang dinantikan. Rumah selalu menjadi tempat ternyaman.

Namun, mengetahui bahwa aku tidak sendirian ternyata cukup menenangkan. Teman-temanku juga rindu pulang. Kami yang tadinya sama-sama merasa sendirian akhirnya tidak lagi kesepian. Saling mengisi, saling melindungi sebagai saudara seperantauan. Tak peduli dari manapun kami berasal. 

Awalnya hanya ingin belajar bahasa. Tapi di sini, malah lebih banyak diajari soal kehidupan dari teman-teman dan keadaan. 

Aku belajar bahwa Tuhan bukannya tidak adil. Kami di sana sama-sama gapyear, sama-sama sedih, kecewa. Mungkin itu salah satu alasan kami dipertemukan. Supaya kami tidak lagi merasa gagal sendirian. Kami berjuang bersama di kota ini. 

Latar belakang kami yang berbeda-beda juga mengajariku tentang bagaimana indahnya saling memahami dan menghargai. Aku juga belajar banyak mengenai keadaan di luar Ibukota yang selama ini aku tinggali. Kadang aku mengeluhkan bisingnya keadaan kota dan jalanan yang macet. Kadang pula temanku mengeluhkan sulitnya membeli sesuatu di desa. Apalagi untuk sekedar pergi ke mall selayaknya warga di kota, jarak yang perlu ditempuh cukup jauh dari desa. Saat itu aku sadar, ternyata di manapun kita tinggal, tiap tempat selalu punya kelebihan dan kekurangan. Ini hanya soal kita yang harus pandai bersyukur. 

Aku juga melihat kesenjangan pendidikan antara kota dan desa. Mereka yang bukan dari kota, meski dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih terbata-bata, setidaknya mereka mau belajar, tidak malu untuk mencoba. Mereka bilang aku banyak membantu mereka belajar, justru aku yang banyak diajari untuk tidak menyerah. [Bersambung]

Senin, 01 Juni 2020

PULIH

Izinkan aku, semesta, memohon pada tiap sujud panjangku. Memohon untuk kesembuhannya. Semoga Tuhan tidak bosan mendengarnya. Aku mohon, Tuhan, sudikah Engkau dengan kasih sayang-Mu melihat rintik jatuh dari mata hamba-Mu? Maaf, Tuhan, bila aku agaknya kurang menerima kenyataan. Tapi, Tuhan, itu karena aku percaya kuasa-Mu. Dan jika bukan pada-Mu, pada siapa lagi aku harus mengadu?

/

Aku ingin, Tuhan, menemaninya lagi. Kemanapun ia butuh ditemani. Aku ingin, Tuhan, mendengarnya bercerita lagi, memasang telinga bagi cerita masa mudanya yang pelik, yang menjadikannya setangguh ini. Tak masalah jika harus mendengarnya seribu kali lagi, asal Kau izinkan aku untuk terus mendengar suaranya...

/

Aku ingin, Tuhan, mencicipi masakannya lagi. Sempatkan aku belajar padanya bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Aku ingin, Tuhan, mendengar tawanya lagi. Sudah lama sekali rasanya sejak yang kudengar setiap malam hanya isak tangisnya menahan sakit.

/

Pintaku tidak banyak, Tuhan, asal ia pulih....



1 Juni 2020 20:45



Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...