Pada suatu sore aku duduk di kursi kayu di halaman rumah mbah kakung. Ia duduk di kursi sebelahku tak lama setelah aku duduk. Rerumputan di depan kami bergerak perlahan ditiup angin. Satu-dua dedaunan berguguran di taman di hadapan kami. Sebagiannya masuk ke kolam ikan dengan alat yang mengeluarkan air mancur namun tak berfungsi lagi. Maklum, sudah puluhan tahun usianya, seusia rumah ini.
Aku menghela napas perlahan. Menikmati udara sejuk sore itu di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kualihkan pandanganku pada mbah kakung. Terlihat jelas di wajahnya kerutan yang semakin bertambah dari terakhir kali aku melihatnya setahun lalu. Rambutnya yang masih hitam rasanya bisa kuhitung jari, sisanya sudah memutih. Ia balik menatapku. Kemudian bertanya, "Bagaimana, sudah ada pekerjaan?"
Pertanyaan yang selalu berhasil membuatku cemas, malu untuk menjawab. Sepertinya Ia menemukan kekhawatiran pada raut wajahku. Ia tersenyum padaku. Senyuman paling tulus yang pernah aku lihat.
"Gus, apa yang menjadi hakmu semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Apa yang tidak kau dapat, ya, berarti bukan rezekimu. Hidup itu sederhana saja, toh?"
Aku tertegun. Meresapi kata-katanya. Perlahan perasaanku membaik. Aku menghela napas sekali lagi. Memberanikan diri untuk bertanya satu hal yang sangat ingin aku tanyakan padanya.
"Mbah... apa Mbah Kakung pernah menyesal berjuang di medan perang sampai kehilangan satu kaki?"
Aku tahu aku lancang. Namun ia tersenyum. Kali ini pandangannya terlepas pada langit jingga di hadapan kami.
Ia menjawab, "Namanya perjuangan pasti beresiko. Tapi bagiku tak ada penyesalan dari berjuang, Gus. Sekalipun harus kalah, harus gugur. Tapi kau tahu? Kau hidup untuk berjuang, bukan untuk menjadi pemenang."
Hatiku berdesir. Sekali lagi ia menatapku dan berkata, "Begitupun kamu. Apapun yang terjadi, hidupmu harus berjalan sebagaimana mestinya."
Aku tahu aku salah. Melarikan diri, berandai menjadi petualang tapi tak tahu arah. Tidak tahu harus berbuat apa. Secepat itu aku menyerah.
"Satu hal lagi yang perlu kau ingat, Gus. Di negeri yang semakin sulit ini. Jangan bekerja untuk uang, rezeki sudah diatur. Tapi peran apa yang mau kau ambil untuk menjadi manusia bermanfaat di dunia ini, kau yang punya kuasa."
Senja kali itu mengubah hidupku.
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentangnya
Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...
-
Mungkin kita pernah merasa hidup kita tidak berharga. Kemudian kita mencari-cari jawaban dari pertanyaan yang selalu memutar di kepala, ...
-
“SEMUA BUNGA ESOK HARI ADA DALAM BENIH HARI INI. SEMUA HASIL ESOK HARI ADA DALAM PIKIRAN HARI INI.” [ARISTOTELES] Seorang motiv...
-
Izinkan aku, semesta, memohon pada tiap sujud panjangku. Memohon untuk kesembuhannya. Semoga Tuhan tidak bosan mendengarnya. Aku mohon, Tuh...