Sabtu, 23 Maret 2024

People Pleaser, Things I Learned the Hard Way

 Beberapa orang hidup dalam trauma yang tanpa disadari, membentuk mereka menjadi seorang people pleaser. Merasa harus menyenangkan semua orang, bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain dan mendahulukan kepentingan orang lain. Aku selalu merasa bahwa ini adalah suatu bentuk perbuatan baik, tapi deep down, ternyata aku juga lelah. Perasaan takut ditinggalkan dan selalu butuh validasi manusia juga ada karena ketika sekali saja aku menolak membantu, aku ditinggalkan. Sekali saja aku mengungkapkan pendapatku, aku dianggap tidak pantas. Sekali saja aku membuat keputusan yang mungkin tidak menyenangkan semua pihak, maka aku dibenci.

Banyak pertanyaan berputar di kepalaku, tentang apakah aku terlalu naif, ataukah aku kurang ikhlas sehingga berharap semua orang membalas kebaikanku dengan kebaikan yang sama? Ataukah aku memang harus sedikit lebih 'egois' saja? Atau aku yang nggak punya batasan untuk diriku sendiri? 

Tapi kemudian, aku belajar perspektif yang berbeda tentang hal ini, yang setidaknya, membuatku merasa lebih memahami diriku, dan membawaku pada perasaan tenang. Pertama, aku menyadari bahwa tidak bisa dimungkiri, aku hidup dalam trauma yang belum kuselesaikan. Aku tidak merasa bahwa ini adalah suatu aib, dan aku berharap kamu juga mulai menerima jika memang kita mengalami situasi yang sama.

It's okay to admit that you're flawed, yet, you're willing to do better day by day.

So it's started with acceptanceAku merasa, ketika aku sudah bisa menerima dan memahami kondisiku, aku akan lebih mudah untuk tahu apa yang harus kuperbaiki dan bagaimana caraku untuk memperbaiki. Ibaratnya, kalau kamu nggak tahu titik 0 kamu, dan kamu nggak tahu goals kamu ingin jadi seperti apa, kamu juga nggak akan tahu progres atau cara untuk menuju goals-mu itu bagaimana. Ilmu fisika kan, ya?

Maka aku paham bahwa aku selalu merasa ingin menyenangkan orang lain, butuh validasi orang lain, karena perasaan pernah ditinggalkan dan dibenci. Kemudian aku tahu, bahwa mungkin akan lebih tenang rasanya ketika melakukan semuanya dengan ikhlas tanpa berharap validasi siapapun. Maka yang harus kulakukan adalah memaafkan. Kucoba memaafkan siapapun yang pernah menyakiti, mengukir trauma dalam diriku. Memaafkan diriku sendiri yang selalu berharap pada manusia, memaafkan diriku sendiri yang merasa sudah berbuat banyak pada manusia lain yang bisa jadi, karena aku kurang ikhlas.

Sesungguhnya memaafkan adalah proses yang panjang, yang mungkin diriku sendiri belum selesai. Tapi bisa kukatakan, bahwa dalam prosesku aku menemukan hatiku jauh lebih tenang.

Setting boundaries is not selfish for the selfless you

Untuk beberapa hal prinsip, kamu nggak egois, kok, kalau membuat batasan hal-hal yang kamu sukai dan nggak kamu sukai, perlakuan yang menurutmu bisa kamu terima dan nggak bisa kamu terima. Kuharap, ini nggak menjadikan kamu merasa buruk. Tapi, kuharap kamu juga bisa mengkomunikasikannya dengan cara yang baik. Seseorang yang berhati baik akan bisa menghargai penolakanmu. Lagipula, kita nggak pernah bisa memutuskan sesuatu yang akan menyenangkan semua orang. Tapi, bukan berarti kamu berhenti berbuat baik pada mereka yang membenci. Maka, ketika suatu saat mereka membutuhkanmu lagi dan kamu bisa membantu, bantulah. Jika bertemu, sapalah mereka.

Aku belajar dari bagaimana Rasulullah dan orang-orang shalih tetap mendo'akan dan berbuat baik pada orang-orang yang membenci beliau. Walaupun aku tahu, kita nggak sesempurna itu. Mari berdo'a agar kita diberikan hati yang baik untuk selalu berbuat baik, bahkan kepada orang yang membenci kita.

Baikmu akan selalu bernilai di mata Allah

Hal lain yang aku pelajari adalah bahwa setiap kebaikan kita lakukan, seharusnya hanya kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Dengan begitu, semoga hatimu selalu ingin berbuat baik tanpa merasa cukup karena kamu begitu ingin dicintai oleh-Nya. Semoga balasan baik ataupun buruk manusia nggak berpengaruh apapun terhadapmu karena kamu memang nggak membutuhkan validasi siapapun.

Mari buat batasan untuk hal-hal yang sekiranya menyakitimu, tapi jangan pernah membenci siapapun. Semoga Allah mudahkan kita untuk terus memiliki hati yang baik pada siapapun, hanya karena kita begitu mengharapkan cinta-Nya.

Dalam kehilangan, aku menemukan

Aku pernah kehilangan orang yang membuatku begitu terpuruk. Merasa bahwa Ia adalah sahabat baikku, tanpa kusadari bahwa selama ini seringkali mentalku hancur. Aku kehilangan diriku sendiri hanya karena takut kehilangan manusia. Aku juga pernah merasakan kehilangan hal-hal yang aku rasa menjadi tumpuan hidupku, satu-satunya harapanku, tanpa sadar, aku sudah terlampau jauh berharap pada selain-Nya. Sampai akhirnya aku memahami bahwa dalam kehilangan ini, sejatinya aku nggak kehilangan apapun karena aku menemukan-Nya kembali. Sebetulnya, Allah begitu mencintaiku dengan cara-Nya yang nggak kupahami.

Terkadang kita dibuat jatuh, merasakan kehilangan dan terluka berkali-kali, sampai kita benar-benar kembali dan menemukan bahwa begitu banyak hal-hal indah yang telah Dia siapkan untuk kita. Bahwa sebetulnya, Allah selalu mengirimkan sinyal kasih sayang-Nya agar kita berpaling dari pilihan-pilihan hidup yang kurang tepat. Sampai kita sadar bahwa bukan Allah yang membuat kita menderita, tapi kita yang nggak mengerti bahasa kasih sayang-Nya dan memilih untuk pergi terlalu jauh.

Sekian ceritaku, bahas people pleaser jadi kemana-mana ya, maafkan kata-kata dan bahasanku yang terlalu bertele-tele ya, hehe... semoga ada kebaikan yang bisa diambil^^


Rabu, 06 Maret 2024

Dear Every First Born Daughter

 

Aku tahu sedari kecil mungkin banyak hal-hal yang tidak seharusnya kamu diperlakukan sedemikian rupa. Tapi kuharap, hatimu lapang untuk memaafkan segala salah, sebab orangtuamu pun mungkin tumbuh dari luka yang tak mereka sadari dan belum mereka sembuhkan.

Aku tahu semua membutuhkanmu, selalu mengandalkanmu, menganggapmu serba bisa dan selalu memiliki waktu untuk membantu. Semoga yang demikian tidak membuatmu lelah dan rapuh, karena sejatinya Allah tahu kamu sanggup memikul semuanya, karena Allah juga selalu bersamamu.

Aku tahu kamu banyak mengalah, aku tahu terkadang kamu kecewa karena keinginanmu harus kamu kubur dalam-dalam. Tapi semoga kamu paham bahwa apa yang melewatkanmu, memang bukan takdirmu, dan Allah akan menggantikan kesabaranmu dengan segala hal baik yang semoga menjadi alasanmu untuk tersenyum bahagia di kemudian hari.

Aku tahu segala ekspektasi menjuru padamu, kamu harus sempurna karena menjadi teladan bagi adik-adikmu. Tapi, kuharap kamu sadar bahwa pada akhirnya, kamu hanya manusia. Tidak apa melakukan salah dan dirimu tidak harus menjadi sempurna. Aku tahu kamu sudah berusaha dengan sangat baik.

Aku tahu banyak luka yang kamu terima, tapi, kuharap kamu tidak lupa akan banyaknya hal-hal bahagia dalam hidupmu. Aku harap, kamu sembuh dan tidak mengulangi kembali luka yang sama pada anak-anakmu kelak. Kuharap, kamu tahu bahwa kamu tidak merasakan ini sendirian.


7/3/24

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...