Kamis, 15 November 2018

Self Love




Assalamu’alaikum!

Kali ini aku akan membahas tentang self love. Kenapa? Karena baru-baru saja mendiskusikan ini. Aku juga tidak tahu banyak mengenai ini. Namun, di sini aku berharap bisa mengubah perspektif kalian mengenai diri kalian sendiri.

Kalau diartikan perkata, Self adalah diri. Love adalah cinta. Jadi intinya, self-love itu mencintai diri sendiri. Nah, masalahnya di sini adalah apa definisi cinta itu sebenarnya? Bagaimana cara kita mencintai diri kita? Apa yang menjadi acuan untuk bisa dikatakan kita sudah mencintai diri kita atau belum?

Definisi cinta. Kalau kalian ditanya apa itu cinta, mungkin akan bingung menjawabnya karena definisi mencintai menurut tiap orang pun berbeda-beda. Salah satu seniorku memaparkan, dalam perspektif Islam, cinta digambarkan sebagai kasih dan sayang sebagaimana asma Allah yang selalu kita sebut tiap kali memulai untuk melakukan sesuatu. ‘Bismillahirrahmanirrahim’ menunjukkan bahwa Allah bersifat Ar-rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Di sini berarti Allah menunjukkan cinta-Nya kepada hambanya dengan kasih dan sayang.

Sementara dalam pendapat lain, masih membahas apa yang ia jelaskan, seniorku mengutip dari seorang tokoh yang mengatakan bahwa cinta itu tidak bisa didefinisikan.

Namun, dalam konteks self-love, menurutku sederhana saja maknanya; terima dan bahagia. Bagaimana maksudnya? Jadi begini, kalau kau benar ingin tahu, aku akan senang sekali kau membaca ini sampai selesai.

Mungkin kita masih sering membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Baik dari segi fisik maupun kemampuan. Seringkali kita menilai, “Ih kenapa sih dia tuh cantik banget? Kenapa aku nggak kayak dia?” atau “Dia tuh pinter ya nggak bodoh kayak aku.”

Sekarang coba tanya kembali pada diri masing-masing, memangnya standar kecantikan itu seperti apa? Apakah semua orang di dunia akan mengatakan dia cantik? Jika standar ‘cantik’ adalah putih, bagaimana dengan orang di Barat sana yang malah berlomba-lomba untuk membuat kulit mereka eksotis? Jika standar ‘cantik’ adalah berhidung mancung, coba bayangkan akan ada berapa banyak orang di negara kita ini yang tidak kunjung dapat jodoh hanya karena hidungnya tidak mancung?

Jika kita masih sering menganggap diri kita bodoh, tidak mampu. Coba tanyakan pada diri sendiri, kita bodoh dalam hal apa? Tidak mampu dalam hal apa? Apakah orang yang bodoh itu hanya yang tidak bisa matematika? Atau tidak bisa bermain musik? Itu artinya kita tidak bodoh. Masih ada potensi dalam bidang lainnya yang mungkin belum kita ketahui. Tapi kita tak pernah sadar betapa cerdasnya kita dalam menghadapi tiap masalah sampai akhirnya bisa bertahan hidup sejauh ini.

Ketika sampai pada titik sadar itu, kita akan menemukan bahwa penerimaan diri itu penting. Lagipula, pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul karena kita terus fokus pada hal-hal yang tidak ada dalam diri kita. Sehingga ketika orang lain mengatakan hal buruk tentang diri kita pun akan membuat berkurangnya kepercayaan diri kita. Padahal apa yang orang katakan tentang kita hanyalah pandangan dia seorang. Logikanya, apakah pandangan satu orang yang mengatakan bahwa apel itu pahit bisa kemudian kita jadikan pemikiran mutlak bahwa apel itu memang pahit? Jika diri kita memiliki perspektif lain, jika orang lainnya memiliki perspektif lain, lalu bagaimana? Lagipula kawan, Allah mengatakan dalam wahyunya bahwa Dia sudah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.

Dengan mengetahui kekurangan serta kelebihan kita, menurutku cukup untuk bisa mencintai diri kita. Bagaimana dengan pandangan bahwa mencintai diri dimulai dengan mengetahui apa potensi diri kita? Mungkin banyak di antara kita yang belum bisa menemukan potensi diri. Lalu bagaimana?

Aku sendiri masih kurang paham mengenai ini, tapi yang jelas, dalam masa pencarian jati diri cobalah eksplorasi banyak hal. Mungkin dari situ kita bisa paham di mana potensi diri kita. Atau ingat-ingatlah hobi semasa kecil. Kau tahu, sejak SD aku sudah menulis cerpen. Aku tidak pernah merasa terpaksa untuk melakukannya hingga sekarang. Intinya, carilah kegiatan positif yang membuatmu haus sehingga kau ingin terus mengeksplorasinya.

Tapi apakah ketika kita belum menemukan potensi diri artinya kita belum mencintai diri sendiri? Menurutku tidak. Namun ketika kita berhenti mencari tahu potensi diri, ketika itulah kita tidak mencintai diri sendiri. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menerima apa yang sudah ada pada diri kita dan tidak mengeluhkannya sehingga kita bisa bahagia.

Kau tahu, ketika ada keinginan dalam hatimu untuk membaca tulisan berjudul self-love ini, berarti kau masih peduli pada dirimu dan masih berusaha untuk mencintai dirimu. Tulisanku ini pun menunjukkan bahwa aku masih dalam proses mencintai diri dan aku ingin kita sama-sama berproses dengan baik.

Sekarang, tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Tersenyumlah. Katakan pada dirimu setiap harinya bahwa kau telah menjalani harimu dengan baik dan esok harus lebih baik.

Terima kasih sudah membaca ini, kawan. Jangan lupa bahagia!




Pic: https://drdeborah.com/self-love-a-secret-to-health/

Jumat, 02 November 2018

Mencintai Hidup - Rantau (Pare, Kediri)



Aku bersyukur sekali pernah gagal. Aku bersyukur karena kegagalanku lah yang membawaku pada tempat itu. Tempat yang awalnya hanya kujadikan pelarian atas segala kekecewaanku terhadap keadilan Allah.

Sebenarnya, aku tidak perlu jauh-jauh untuk sekedar belajar Bahasa Inggris. Aku juga tidak perlu menghabiskan waktuku untuk mempelajari teori-teori sementara aku lebih suka mempelajari bahasa dengan mempraktekkan langsung seperti membaca novel, menulis, atau berbicara Bahasa Inggris. Tapi ternyata ilmu tentang grammar yang kudapat sangat bermanfaat untuk membantuku lebih memahami grammar yang sudah aku pelajari sebelumnya. Praktek-praktek conversation atau public speaking yang intensif juga sangat membantu untuk lebih terbiasa berbicara dengan Bahasa Inggris 
dan tentunya lebih percaya diri.

Awalnya, tujuanku hanya satu: lari. Tetapi justru dalam pelarianku ini aku mendapatkan banyak hal yang patut aku syukuri. Pelarianku tak berujung pada sekedar ‘lari’ dari masalah.

Pertama, aku bersyukur karena aku tahu bahwa aku tidak gagal sendirian. Menurut psikologi sifat dasar manusia memang seperti itu, selalu mencari kawan supaya merasa tenang. Bukan berarti aku senang bahwa teman-temanku juga gagal, ya. Hehe. Setidaknya dengan begitu aku menemukan bahwa tidak benar jika aku menganggap dunia tidak adil. Salah jika aku mengeluh seolah aku yang paling menderita sendiri.

Kedua, aku bersyukur aku jadi sadar bahwa bumi itu luas. Maklum, nggak pernah jalan-jalan jauh. Jadi tahu kan rasanya seperti apa. Kalau dianalogikan seperti burung yang dikeluarkan dari sangkarnya. Bahagianya nggak bisa digambarkan lagi. Intinya, aku bahagia bisa pergi ke tempat jauh yang latar belakangnya berbeda jauh dengan kota yang selama ini aku tinggali. Awalnya ya pasti takut sih, bingung juga. Mana tempat ini nggak ada minimarket, mau belanja kemana coba? Dari sinilah aku tahu toserba. Selama ini belum pernah lihat toserba (atau pernah lihat tapi nggak sadar, ya?).

Ketiga, aku bersyukur bisa merasakan hidup mandiri. Selama ini kan tinggal sama orang tua. Belum pernah mengatur keuangan sendiri. Belum pernah merasakan berjuang cari makan dulu kalau ingin makan, biasanya kan lapar tinggal ke dapur, kalau ibu belum masak tinggal minta jajan wkwkwk. Tapi di sana nggak bisa begitu. Keuangan harus diatur sehemat mungkin. Tapi, kesehatan juga harus dijaga, jadi nggak boleh sampai telat makan apalagi nggak makan.

Keempat, aku bersyukur dipertemukan dengan teman-teman yang menjadi keluarga keduaku. Teman-teman yang berasal dari ujung pulau Sumatera hingga Papua. Dengan logat bicara hingga kebiasaan yang berbeda-beda. Benar adanya, manusia itu unik. Jadi, aku belajar bahwa seharusnya tidak ada manusia yang merasa benar sendiri atau menyalahkan. Sebab apa yang dilakukan oleh manusia itu memiliki motif, entah berdasarkan pengalaman atau budaya yang ia terima di tempatnya tinggal.

Justru dari perbedaan itulah kita bisa belajar dan saling tolong-menolong sebagai kawan. Terlebih lagi, kita adalah kawan seperantauan. Tidak ada keluarga. Kawan kitalah keluarga kedua kita.

Nah, sekarang aku ingin bercerita tentang teman-teman sekelasku di bulan pertama. Jika kau adalah kawanku dari kelas A1, semoga dengan membaca ini nostalgia dan rindumu membawa kebahagiaan!

Kenapa kelas ini paling berkesan? Tentu saja karena mereka yang pertama. Mereka kawan belajarku sehari-hari di kelas pada satu bulan pertama. Mereka adalah teman diskusi dan belajar yang sangat baik. Mereka adalah teman-teman dengan semangat yang hebat (walaupun kadang ada malasnya juga, ndak apa-apa kan manusiawi). Mereka adalah penghibur yang tak pernah bosan mengembalikan suasana hati dan senyuman. Mereka unik dengan sifat masing-masing.

Mulai dari ketua kelas kami. Ia adalah pemimpin yang baik. Ia selalu bisa bertanggung jawab, dan yang terpenting, ia bisa mengakrabkan diri dengan teman-teman, mulai dari yang rusuh (yang merasa dirinya bawel, ndak apa-apa, aku sayang kalian) sampai yang pendiam. Ia bukan hanya menjadi seorang pemimpin, tapi juga seorang kakak dan kawan baik. Jika membaca ini, semoga hari-harimu dipenuhi kebaikan, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, kak.

Kemudian kakak-kakak yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Kak Ulan, Kak Seli, Kak Putri, Kak Rini, dan kak Julia. Kak Ulan yang selalu bisa mengayomi adik-adiknya, selalu perhatian. Tidak pernah meninggalkan adik-adiknya dibelakang. Ah, ia memang calon ibu yang baik.

Kak Seli, yang selalu menjadi partnerku di kelas speaking. Ia berasal dari Aceh. Padanya pula aku bercerita kalau aku pun adalah keturunan Aceh. Walaupun kesan pertama ketika mengenalnya adalah ia orang yang ‘jutek’ tapi ternyata aku salah besar. Oh ya, sukses studinya kak! Kutunggu cita-citamu untuk jadi dosen tercapai.

Kak Putri, sering jadi partnerku di kelas pronounciation. Kakak ini adalah yang paling dewasa di antara kami. Aku salut dengan semangat belajarnya.

Kak Julia, yang walaupun hanya dua minggu di kelas ini, tapi cukup kukenal baik karena kita sering jadi partner juga di kelas speaking.

Kemudian Kak Rini yang walaupun aku tidak terlalu akrab, tapi ia selalu bisa menghibur teman-teman di kelas.

Selanjutnya, ada JT yang memiliki nama unik seunik sifatnya. Selalu bisa jadi pelangi di tengah abu-abunya suasana. Selalu bisa menghibur dengan candaannya yang tidak pernah membosankan. Ia ini manusia langka. Walaupun terlihat konyol tapi ia mempunyai niat yang sangat baik, ia ingin bisa membawa senyuman dan tawa di antara teman-temannya.

Deo yang selalu bersama dengan JT. Entah ada magnet apa di antara mereka. Padahal sifat mereka sangat bertolak belakang. Tapi walaupun kesannya sangat tertutup, sebenarnya Deo adalah seseorang yang hangat dan bisa menjadi kawan bercerita yang baik. 

Cantas, yang terkadang juga bersama mereka berdua, sering juga tertular konyolnya juga. Ujay, yang walaupun aku tidak terlalu mengenalnya, tapi ia sangat ramah, tidak secuek kelihatannya.

Terakhir, semua teman-teman perempuanku yang jumlahnya lebih mendominasi dibandingkan yang laki-laki. Dea dengan suara 'medok'nya dan serunya diajak bercerita. Ia juga sangat rajin. Ikfi yang juga adalah teman sekamarku, yang kelihatannya pendiam padahal selalu antusias bercerita padaku mengenai hal apapun. Ia juga selalu sabar walaupun diganggu JT, baik sekali, ya.

Niluh dan Widya, perempuan cerdas yang sekarang adalah calon ibu dokter. Dian dan Indah yang jago sekali Bahasa Inggrisnyaaa. Balqis yang pendiam, yang kebetulan kita sama-sama pendiam jadi yasudah ngobrol saja. Azra, yang ternyata suka Kpop dan ingin masuk psikologi juga. Bahkan kita sempat tes bareng walaupun ndak ketemu, ya, hehe. Semangat calon Psikolog!

Masih banyak hal-hal yang aku syukuri lainnya yang kemudian membuatku sadar bahwa rencana-Nya memang selalu indah. Ia adil dengan segala keadilan walaupun terkadang kita tidak memahaminya.

Nah, momen-momen bersama mereka itulah yang selalu membawaku ingin kembali. Tapi mustahil untuk kembali dengan orang-orang dan suasana yang sama, kan?

Maaf jika terlalu panjang, atau malah terlalu singkat? Ah, tentang kalian tidak akan habis jika diceritakan semuanya. Semoga semua pelajaran yang telah kita dapat selama merantau selalu bermanfaat. Semoga semua kenangan bisa tersimpan dengan baik dalam ingatan. Semoga ukhuwah tetap terjalin di antara kita meski dengan jarak yang ada. Terima kasih untuk kalian, atau siapa pun yang telah membaca ini. Kau tahu, aku menyayangi kalian.


Sabtu, 27 Oktober 2018

Mencintai Hidup - Hujan

Ia terpaku di persimpangan jalan itu
Menengadah menatap rintik hujan
yang mulai turun dari peraduan
Langkahnya terus melaju
Memorinya tak henti memutar balik
kenangan yang hampir pudar
'Aku tak membenci hujan, ia yang sepertinya membenciku'
Tetapi kesekian kalinya rintik itu
berhasil menyembunyikan isak tangisnya
Tak ada yang bisa membersamai dukanya sebaik itu
Ia pun terbiasa mencintai hujan dan semua kenangan
yang turun bersama jatuh rintiknya

(Aafara)

Hujan memang selalu memberi kesan melankolis, atau itu hanya bagiku saja? Aku memiliki suasana hati yang kurang baik jika turun hujan. Terkadang aku menangis tanpa sebab, terkadang aku kecewa teringat kesalahan diriku ataupun orang lain di masa lalu. Padahal, kisah itu sudah lama berakhir. Kadang juga, aku terbayang kesedihan-kesedihan di masa lalu, atau ketakutanku akan masa depan.

Mungkin sebagian darimu akan bertanya, "Kau benar seperti itu?" "Kenapa tidak pernah bercerita?"

Jawabannya, aku takut mereka menganggapku aneh. Aku takut mereka pikir aku hanya melebih-lebihkan, mencari perhatian. Meski kenyataannya aku butuh seseorang untuk diajak bercakap, tetapi kesendirian menurutku lebih baik dibandingkan ditemani orang-orang yang membuat perasaanku semakin buruk.

Pada nyatanya, kau memang tidak bisa bergantung pada siapa pun kan? Kau harus berjuang untuk dirimu. Kau harus kuat meski terkadang terlalu munafik untuk terus berpura-pura.

Tapi, aku beruntung sekali memiliki sahabat yang meski tidak selalu ada, tetapi selalu mengerti. Menenangkan sekali rasanya ketika mereka memastikan bahwa aku baik-baik saja saat hujan turun. Ya, aku menemukan orang-orang terbaik yang selalu berhasil mengubah suasana hatiku menjadi jauh lebih baik.

Dari situ aku sadar, betapa pentingnya menjadi seorang teman yang mengerti apapun problema yang dialami temannya. Terkadang seseorang hanya perlu kau dengarkan dan kau temani kesedihannya. Ia akan jauh merasa lebih baik diperlakukan seperti itu dibanding kau menghakiminya atau bahkan menganggap ia hanya melebih-lebihkan masalah.

Aku juga memahami bahwa kesedihan atau kebahagiaan adalah jalan yang aku tentukan sendiri. Bahagia hadir karena aku menikmati hidup bagaimanapun prosesnya. Kesedihan hadir karena aku menyingkirkan bahagia itu. Perubahan suasana hati yang ada hanya tentang bagaimana kita bisa mengontrol diri kita. Sesederhana itu.

Kau boleh sedih, tetapi jangan sampai lupa akan banyak hal yang lebih bisa membuatmu bahagia. Lantas untuk apa berlarut dalam kesedihan? Tak ada yang salah dari kenangan yang datang seiring turunnya hujan. Kenangan itulah yang bisa selalu mengingatkanmu pada pelajaran hidup yang berharga, yang artinya, kau bisa memaknainya sebagai pengingat untuk mensyukuri masa lalu yang telah kau biarkan berlalu. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih baik sekarang. Dan kau mungkin tak akan menjadi sedewasa ini jika tak melewati masa lalu yang kau pikir kelam itu.

Untukmu yang membaca ini, jika kau mengalami hal yang sama denganku, berjanjilah untuk melihat hujan dan kesedihan dari sudut pandang positif. Berjanjilah untuk bahagia dan mensyukuri hidupmu. Jika kau butuh kawan bercerita, bilang saja. Aku akan sangat senang menemani duka dan bahagiamu.

Kamis, 25 Oktober 2018

Your Reminder

Mungkin kita pernah merasa hidup kita tidak berharga. Kemudian kita mencari-cari jawaban dari pertanyaan yang selalu memutar di kepala, "Untuk apa aku hidup?"

Kawan, coba sekarang lihat keluar jendela. Entah kenapa, untukku, melihat langit di luar sana sangat menenangkan. Dengan melihat indah birunya, aku lebih bisa menyadari sepenuhnya eksistensiku di sini dan mensyukurinya. Dengan melihat ke atas sana, aku menyadari betapa luasnya dunia, betapa kecilnya aku.

Tapi aku yakin, sekecil apapun sesuatu, pasti memiliki maksud kenapa dan untuk apa ia dicipta. Daripada terus berpikir mengenai alasan kita dicipta, kenapa tidak kita cari tahu saja apa yang bisa dilakukan untuk menemukan alasan itu?

Apakah dengan begitu kita hanya hidup untuk menjalani proses kehidupan yang sudah ditetapkan? Bangun-tidur-belajar-bekerja-makan-minum?

Kawan, bagiku, hidup sangat disayangkan jika kita hanya sekedar hidup. Aku ingin memberi arti dalam hidupku. Aku ingin mengukir sejarah abadi bagi mereka yang mengenalku. Aku ingin diriku yang sekecil ini mampu melampaui batas untuk menjadi sesuatu yang amat besar. Sesuatu yang bahkan orang-orang tak pernah berpikir aku mampu.

“Kau terlalu banyak bermimpi,”

“Impianmu terlalu jauh.”

Jika kalian juga pernah dianggap sebagai pengkhayal ulung semacam ini, mari aku beri tahu sesuatu.

Kau tidak terlalu banyak bermimpi, hanya saja mereka tak pernah punya mimpi yang berarti, atau mungkin mimpi mereka ada demi kepuasan mereka sendiri. Aku tak menyalahkan ini. Tapi kawanku, kau berbeda. Kau ingin membuat suatu perubahan yang besar bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang banyak.

Impianmu terlalu jauh? Mungkin impian mereka sebatas apa yang membuat mereka merasa hidup dengan nyaman. Tetapi kau? Tembok kokoh yang membatasi rasa ingin tahumu telah hancur. Kau haus untuk mengeksplorasi.

Kalimat ‘aku tidak mampu’ telah kau hapus dari kamus hidupmu. Sekarang kau berdiri dengan berani menggenggam jutaan mimpi. Kau tidak takut untuk keluar dari zona nyamanmu. Itulah yang menjadi nilai dirimu, kawan. Itulah identitas yang akan membedakanmu dengan mereka yang tidak berani bermimpi.

Bagaimana upayamu mewujudkannya? Mulailah dari sekarang. Pikirkan apa rencanamu agar mimpimu bisa terwujud satu per satu. Apa langkah awal yang akan kau lakukan. Jangan takut mengambil langkah. Jika kau hanya di tempat, orang lain akan yang akan melangkah dan menyusuri jalan berbungamu, maukah kau hanya bisa menjadi penonton dari mimpimu yang diwujudkan bukan oleh dirimu sendiri?

Meski tiap langkah yang kau ambil memiliki lubang yang kau sebut dengan ‘resiko’, kegagalan bukan berarti kau harus berhenti. Kesempatan tidak hanya datang sekali. Ia selalu datang apabila kau berani mencoba lagi.

Jangan takut, kawan.
Kau mampu.
Kau sang pemimpi.
Kau pemberani.
Kau lebih dari apa yang mereka pikirkan.
Kau lebih dari apa yang kau kira.


Semoga dengan membaca ini, semangatmu kembali J

Kamis, 18 Oktober 2018

Cerpen - Tak Ingkar Janji


Seoul, 04 Desember 1995
Halo Lina,
Hari ini Seoul sangat dingin, namun mengingatmu saja sudah cukup menghangatkan. Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku terkena flu. Untunglah paman berbaik hati selalu mengunjungi apartemenku dan membawa makanan serta minuman hangat.
Ini minggu terakhirku bertugas. Minggu depan aku kembali ke Indonesia. Tunggu aku disana, aku berjanji akan mengunjungi rumahmu. Katamu jangan, sebab jalannya berbatu. Padahal berlumpur, bersemak, atau berduri pun tetap akan aku kunjungi.  Aku sudah tidak sabar. Setelah enam tahun tidak bertemu, mungkin akan canggung. Tapi tenang saja, kau tahu kan dari dulu aku selalu bisa mencairkan suasana kelas kita.
Kabar baik dariku, sekarang tabunganmu bisa kau gunakan untuk hal lain yang lebih kau butuhkan. Buka kotak merah itu. Apa kau sudah membukanya lebih dulu daripada suratku?
Kalau begitu coba kau pakai. Pasti kau semakin cantik jika memakainya. Tolong jangan berkata ‘tapi aku tidak memintanya.’ Pakai saja, ya. Kau tidak pernah merepotkan, kalaupun iya, aku senang direpotkan olehmu J
Sahabatmu,
Fajar

Wajahnya berseri-seri setelah membaca surat itu. Segera ia lipat kembali dan meletakkannya di atas meja belajar kayu miliknya. Kini tangannya beralih pada kotak merah kecil yang datang bersamaan dengan surat itu. Perlahan ia membukanya. Air matanya tak dapat tertahan setelah menemukan apa yang ada di dalam kotak itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati berwarna merah muda.

Suatu ketika pernah ia bercerita kepada Fajar setelah berkeliling kota bersama saudaranya. Saudaranya hendak membeli gelang untuk hadiah ulang tahun ibunya. Di toko perhiasan itulah ia jatuh cinta pada sebuah kalung berliontin hati yang terpajang indah di sana. Namun, setelah melihat harga yang terpampang, pupus sudah harapan untuk memiliki kalung itu.

Tapi cintanya pada kalung itu tak pernah surut. Sejak saat itu ia menabung untuk membeli kalung yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. Siapa sangka Fajar malah membelikannya, kalung yang mirip, walaupun tidak sama persis.
Ia genggam erat kalung yang ada di tangannya. Kemudian berjalan ke depan kaca dan memakainya. Apa yang dikatakan Fajar tentangnya memang selalu benar. Lina terlihat sangat cantik.





Bandung, 05 Desember 1995
Halo Fajar,
Saat  kamu membaca surat ini, mungkin kamu sudah bersiap untuk berangkat menuju Indonesia. Semoga selamat sampai tujuan. Jika benar kau ingin ke desaku, tolong berhati-hati. Disini juga dingin, pakai syal rajut yang waktu itu kuberikan, ya!
Terimakasih untuk kalungnya. Aku tidak bisa menahan air mataku ketika membuka kotak merah itu. Tidak apa-apa kok, tangis bahagia namanya. Aku tidak tahu harus memberi apa untuk membalas kebaikanmu. Nanti saja kalau kamu sampai, aku buatkan sayur asem dan tempe goreng, katanya kamu rindu masakan Indonesia, kan?
Cepat sampai ya. Jaga kesehatan. Aku menunggumu, tak peduli jika nanti hanya ada kecanggung diantara kita. Sampai jumpa.
Sahabatmu,
Lina

Seminggu telah berlalu. Seminggu setelah minggu yang dijanjikan Fajar bahwa ia akan tiba di Indonesia. Ia tidak datang. Mungkin tidak akan pernah datang.

Berita di Koran yang dilihat Lina di hari Minggu pagi membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya. 

Kecelakaan pesawat tujuan Indonesia, dari Korea.

Sebulan berlalu. Tidak ada yang berubah. Lina tetap hampa.

Enam bulan. Entah telah berapa banyak surat yang Lina kirimkan kepada Fajar. Berharap laki-laki itu benar akan datang padanya, atau sekedar masih diketahui keberadaannya. Berkali-kali pula Lina memeriksa kotak pos tua yang sudah berkarat di halaman rumahnya. Jawabannya tetap sama, tak ada jawaban.

Setahun.

Dua tahun.

Wajah berseri Lina telah kembali. Kecantikannya masih tetap sama. Luka di hatinya kembali pulih. Kepingannya yang sempat hancur telah menemukan jawaban. Cahaya di wajahnya terpancar. Sorot matanya memandang lembut  bayi mungil yang ada dalam gendongannya, sesekali ia bersenda gurau dengan lelaki yang duduk di sebelahnya, suaminya. Suasana hangat menyelimuti keluarga kecil mereka di halaman rumah yang lenggang itu.

Seseorang berjalan mendekati mereka. Seorang lelaki yang tak  asing bagi Lina. Lelaki bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan bermata kecil.

Kehangatan dalam hati Lina menjelma dingin yang menyeruak sekujur tubuhnya. Membuka luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam. Hatinya menangis. Namun ia tetap berusaha menjaga kerelaan untuk melepas cinta sesuai janjinya sejak laki-laki itu pergi.

Lelaki itu berdiri di hadapan Lina. Matanya yang teduh menatap Lina dan tersenyum. Senyum yang menyembunyikan sejuta luka yang telah disimpannya sejak lama. 
Hari itu, Fajar menepati janjinya.



"Hakikat cinta yang sering terlupa oleh para pecinta adalah melepaskan"
(Aafara)



Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...