Sabtu, 17 Februari 2024

Allah Tahu Aku Rindu

Kemarin, aku bercakap dengan teman sekolahku dulu. Kami membicarakan banyak hal mulai dari hal-hal kesukaan perempuan (apalagi kalau bukan skincare, makeup, hehe), sampai bahas politik (nggak berdebat karena pilihan kami sama, dan pemilunya sudah selesai, kan).

Lalu entah bagaimana kami sampai pada pembicaraan tentang kehilangan. Ia yang kehilangan sosok ayahnya sejak kecil, suatu ketika ditanya oleh seseorang yang juga baru saja kehilangan anggota keluarganya, Ia bilang, "Aku tuh ditanya, Nis, 'kok kamu bisa sekuat itu sih?' Padahal mah ya dikuat-kuatin aja."

Aku terdiam. Jujur, aku juga sempat membatin, 'kok bisa kamu kuat' tapi aku sadar, dari segala hal menyenangkan yang Ia tampakkan, Ia berusaha keras berdamai dengan luka.

"Unik ya, Nis, respon manusia atas kehilangan tuh beda-beda. Kalau mungkin orang lain depresi, kalau kamu sering nangis, aku malah gak bisa nangis, tapi rasanya hampa. Kayak hidup tapi nggak hidup."

Deg🥲 rasanya hatiku meringis, menyadari bahwa mungkin banyak manusia seperti kami, yang juga hidup dengan luka dari kehilangan. Tapi... Sudah begitu jalannya.

Seseorang pernah mengatakan padaku, perihal kehilangan, hakikatnya semua yg kita punya adalah titipan dari Allaah.

"Harta, benda, orang2 yg kita sayangi, bahkan diri kita sendiri adalah titipan Allaah, milik Allaah. Kita ga punya apa2 nis. Lantas, perasaan apa yg disebut kehilangan?"

Mungkin, kami adalah dua orang yang masih berusaha untuk menerima takdir, memahami esensi dari 'kehilangan.' Mungkin juga, kami sudah menerima, namun hanya rindu. 

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari merindukan seseorang yang raganya tidak bisa lagi diraih. Dan tidak pernah aku merasakan sakitnya kepergian manusia selain kepergian eyangku, meski sudah 4 tahun berlalu.

Tapi hari itu, Allah mempertemukan aku dengan adiknya eyangku, yang sepertinya belum pernah lagi aku temui sejak eyang meninggal 4 tahun yang lalu. Pertemuan yang membuat kami berdua menangis dalam pelukan. Aku melihat sosok eyang pada dirinya, sebagaimana beliau melihat sosok kakak tercintanya dalam diriku.

Rasanya, lukaku terbuka kembali. Tapi selepas itu, aku merasakan ketenangan menyelimuti hatiku. Rasanya, sebagian dari rinduku telah menemukan tempatnya berlabuh.

Allah tahu aku rindu, dan sebagaimana Allah pemilik hati ini, hanya Allah yang mampu untuk menyembuhkan.


YaaAllaah, mudahkanlah hati kami untuk menerima segala ketetapan-Mu, dengan luas hati, dengan sabar yang tiada batas, dengan tangan menengadah yang penuh harap, hanya pada-Mu. Kumpulkanlah kami dalam surga-Mu, dengan orang-orang yang kami cintai dan mencintai kami karena-Mu. 

Kamis, 15 Februari 2024

I feel the insecurity, but in a different way....

 Hari itu, ketika sedang scroll social media, mataku tertuju pada sebuah akun seorang muslimah. 

Tulisan-tulisannya membuatku kagum pada ke shalihah-an nya, kecerdasannya dalam menanggapi setiap peristiwa, dan bagaimana ia selalu dikelilingi ilmu serta orang-orang baik dalam hidupnya. Dan betapa mengagumkan kerendahan hatinya (meskipun aku selalu berpikir, kurang bijak jika hanya menilai seseorang melalui sosial medianya, tapi kuharap, Ia selalu ada di jalan kebaikan, sebagaimana yang disampaikan dalam tulisan-tulisan indahnya).

Lalu satu hal yang aku sadari, betapa baiknya Allah memberiku kemudahan dalam menerima hal-hal baik, sesederhana menggerakkan hatiku untuk menemukan sosial medianya.

Betapa banyaknya hal yang belum aku ketahui, tapi Allah senantiasa menuntunku untuk meniti ilmu satu per satu. 

Meski ada perasaan tertinggal, aku yakin setiap orang punya perjalanan spiritual yang berbeda, dan yang paling terpenting adalah Allah ridho sama apa yang aku lakukan, tanpa harus membanding-bandingkan.

Semoga setiap kebaikan yang kita lihat pada orang lain, bisa menjadi motivasi untuk kita berbuat baik lebih banyak lagi 🍀


Do'a yang semoga tak pernah lupa aku ucapkan, dan semoga menjadi do'amu juga selepas membaca tulisan ini. 


"O Allah, I am blind to this world, to your 'ilm and know nothing, but You are the Lord of the knowledge, so please guide me"


Jum'at mubarak, everyone! ✨


Minggu, 11 Februari 2024

Aku Pikir Ini Jalan Ketenangan

Banyaknya keresahan-keresahan menjadi titik balik yang membuatku ingin kembali kepada-Nya. 

Awalnya, aku merasa tenang. Tapi ternyata, baru sedikit saja Allah bukakan langkahku untuk mencari tahu, dan mempertemukan aku dengan orang-orang yang berilmu, keresahan yang lain muncul di dadaku.

"Bagaimana bisa amalanku pantas bersanding dengan mereka yang sudah lebih dulu mencintai Allah dan berada di jalan-Nya?"


Apakah memang berjalan menuju-Nya adalah sebuah perlombaan?

Ataukah tidak mengapa tertatih asal Dia ridho dengan sedikitnya hal baik yang bisa kulakukan?

Apakah aku punya cukup waktu untuk bisa mempelajari banyak hal yang belum aku ketahui?

Ataukah pada perjalananku Allah memintaku untuk berhenti dan kembali?


YaaAllaah, sesungguhnya aku meminta kepadamu, bukan hanya usia yang panjang, tapi kesempatan untuk menghabiskan seluruh sisa usiaku untuk berjalan menuju-Mu.


Antara tahajud-subuh, 

12/2/24

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...