Ia terpaku di persimpangan jalan itu
Menengadah menatap rintik hujan
yang mulai turun dari peraduan
Langkahnya terus melaju
Memorinya tak henti memutar balik
kenangan yang hampir pudar
'Aku tak membenci hujan, ia yang sepertinya membenciku'
Tetapi kesekian kalinya rintik itu
berhasil menyembunyikan isak tangisnya
Tak ada yang bisa membersamai dukanya sebaik itu
Ia pun terbiasa mencintai hujan dan semua kenangan
yang turun bersama jatuh rintiknya
(Aafara)
Hujan memang selalu memberi kesan melankolis, atau itu hanya bagiku saja? Aku memiliki suasana hati yang kurang baik jika turun hujan. Terkadang aku menangis tanpa sebab, terkadang aku kecewa teringat kesalahan diriku ataupun orang lain di masa lalu. Padahal, kisah itu sudah lama berakhir. Kadang juga, aku terbayang kesedihan-kesedihan di masa lalu, atau ketakutanku akan masa depan.
Mungkin sebagian darimu akan bertanya, "Kau benar seperti itu?" "Kenapa tidak pernah bercerita?"
Jawabannya, aku takut mereka menganggapku aneh. Aku takut mereka pikir aku hanya melebih-lebihkan, mencari perhatian. Meski kenyataannya aku butuh seseorang untuk diajak bercakap, tetapi kesendirian menurutku lebih baik dibandingkan ditemani orang-orang yang membuat perasaanku semakin buruk.
Pada nyatanya, kau memang tidak bisa bergantung pada siapa pun kan? Kau harus berjuang untuk dirimu. Kau harus kuat meski terkadang terlalu munafik untuk terus berpura-pura.
Tapi, aku beruntung sekali memiliki sahabat yang meski tidak selalu ada, tetapi selalu mengerti. Menenangkan sekali rasanya ketika mereka memastikan bahwa aku baik-baik saja saat hujan turun. Ya, aku menemukan orang-orang terbaik yang selalu berhasil mengubah suasana hatiku menjadi jauh lebih baik.
Dari situ aku sadar, betapa pentingnya menjadi seorang teman yang mengerti apapun problema yang dialami temannya. Terkadang seseorang hanya perlu kau dengarkan dan kau temani kesedihannya. Ia akan jauh merasa lebih baik diperlakukan seperti itu dibanding kau menghakiminya atau bahkan menganggap ia hanya melebih-lebihkan masalah.
Aku juga memahami bahwa kesedihan atau kebahagiaan adalah jalan yang aku tentukan sendiri. Bahagia hadir karena aku menikmati hidup bagaimanapun prosesnya. Kesedihan hadir karena aku menyingkirkan bahagia itu. Perubahan suasana hati yang ada hanya tentang bagaimana kita bisa mengontrol diri kita. Sesederhana itu.
Kau boleh sedih, tetapi jangan sampai lupa akan banyak hal yang lebih bisa membuatmu bahagia. Lantas untuk apa berlarut dalam kesedihan? Tak ada yang salah dari kenangan yang datang seiring turunnya hujan. Kenangan itulah yang bisa selalu mengingatkanmu pada pelajaran hidup yang berharga, yang artinya, kau bisa memaknainya sebagai pengingat untuk mensyukuri masa lalu yang telah kau biarkan berlalu. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih baik sekarang. Dan kau mungkin tak akan menjadi sedewasa ini jika tak melewati masa lalu yang kau pikir kelam itu.
Untukmu yang membaca ini, jika kau mengalami hal yang sama denganku, berjanjilah untuk melihat hujan dan kesedihan dari sudut pandang positif. Berjanjilah untuk bahagia dan mensyukuri hidupmu. Jika kau butuh kawan bercerita, bilang saja. Aku akan sangat senang menemani duka dan bahagiamu.