Sabtu, 27 Oktober 2018

Mencintai Hidup - Hujan

Ia terpaku di persimpangan jalan itu
Menengadah menatap rintik hujan
yang mulai turun dari peraduan
Langkahnya terus melaju
Memorinya tak henti memutar balik
kenangan yang hampir pudar
'Aku tak membenci hujan, ia yang sepertinya membenciku'
Tetapi kesekian kalinya rintik itu
berhasil menyembunyikan isak tangisnya
Tak ada yang bisa membersamai dukanya sebaik itu
Ia pun terbiasa mencintai hujan dan semua kenangan
yang turun bersama jatuh rintiknya

(Aafara)

Hujan memang selalu memberi kesan melankolis, atau itu hanya bagiku saja? Aku memiliki suasana hati yang kurang baik jika turun hujan. Terkadang aku menangis tanpa sebab, terkadang aku kecewa teringat kesalahan diriku ataupun orang lain di masa lalu. Padahal, kisah itu sudah lama berakhir. Kadang juga, aku terbayang kesedihan-kesedihan di masa lalu, atau ketakutanku akan masa depan.

Mungkin sebagian darimu akan bertanya, "Kau benar seperti itu?" "Kenapa tidak pernah bercerita?"

Jawabannya, aku takut mereka menganggapku aneh. Aku takut mereka pikir aku hanya melebih-lebihkan, mencari perhatian. Meski kenyataannya aku butuh seseorang untuk diajak bercakap, tetapi kesendirian menurutku lebih baik dibandingkan ditemani orang-orang yang membuat perasaanku semakin buruk.

Pada nyatanya, kau memang tidak bisa bergantung pada siapa pun kan? Kau harus berjuang untuk dirimu. Kau harus kuat meski terkadang terlalu munafik untuk terus berpura-pura.

Tapi, aku beruntung sekali memiliki sahabat yang meski tidak selalu ada, tetapi selalu mengerti. Menenangkan sekali rasanya ketika mereka memastikan bahwa aku baik-baik saja saat hujan turun. Ya, aku menemukan orang-orang terbaik yang selalu berhasil mengubah suasana hatiku menjadi jauh lebih baik.

Dari situ aku sadar, betapa pentingnya menjadi seorang teman yang mengerti apapun problema yang dialami temannya. Terkadang seseorang hanya perlu kau dengarkan dan kau temani kesedihannya. Ia akan jauh merasa lebih baik diperlakukan seperti itu dibanding kau menghakiminya atau bahkan menganggap ia hanya melebih-lebihkan masalah.

Aku juga memahami bahwa kesedihan atau kebahagiaan adalah jalan yang aku tentukan sendiri. Bahagia hadir karena aku menikmati hidup bagaimanapun prosesnya. Kesedihan hadir karena aku menyingkirkan bahagia itu. Perubahan suasana hati yang ada hanya tentang bagaimana kita bisa mengontrol diri kita. Sesederhana itu.

Kau boleh sedih, tetapi jangan sampai lupa akan banyak hal yang lebih bisa membuatmu bahagia. Lantas untuk apa berlarut dalam kesedihan? Tak ada yang salah dari kenangan yang datang seiring turunnya hujan. Kenangan itulah yang bisa selalu mengingatkanmu pada pelajaran hidup yang berharga, yang artinya, kau bisa memaknainya sebagai pengingat untuk mensyukuri masa lalu yang telah kau biarkan berlalu. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang jauh lebih baik sekarang. Dan kau mungkin tak akan menjadi sedewasa ini jika tak melewati masa lalu yang kau pikir kelam itu.

Untukmu yang membaca ini, jika kau mengalami hal yang sama denganku, berjanjilah untuk melihat hujan dan kesedihan dari sudut pandang positif. Berjanjilah untuk bahagia dan mensyukuri hidupmu. Jika kau butuh kawan bercerita, bilang saja. Aku akan sangat senang menemani duka dan bahagiamu.

Kamis, 25 Oktober 2018

Your Reminder

Mungkin kita pernah merasa hidup kita tidak berharga. Kemudian kita mencari-cari jawaban dari pertanyaan yang selalu memutar di kepala, "Untuk apa aku hidup?"

Kawan, coba sekarang lihat keluar jendela. Entah kenapa, untukku, melihat langit di luar sana sangat menenangkan. Dengan melihat indah birunya, aku lebih bisa menyadari sepenuhnya eksistensiku di sini dan mensyukurinya. Dengan melihat ke atas sana, aku menyadari betapa luasnya dunia, betapa kecilnya aku.

Tapi aku yakin, sekecil apapun sesuatu, pasti memiliki maksud kenapa dan untuk apa ia dicipta. Daripada terus berpikir mengenai alasan kita dicipta, kenapa tidak kita cari tahu saja apa yang bisa dilakukan untuk menemukan alasan itu?

Apakah dengan begitu kita hanya hidup untuk menjalani proses kehidupan yang sudah ditetapkan? Bangun-tidur-belajar-bekerja-makan-minum?

Kawan, bagiku, hidup sangat disayangkan jika kita hanya sekedar hidup. Aku ingin memberi arti dalam hidupku. Aku ingin mengukir sejarah abadi bagi mereka yang mengenalku. Aku ingin diriku yang sekecil ini mampu melampaui batas untuk menjadi sesuatu yang amat besar. Sesuatu yang bahkan orang-orang tak pernah berpikir aku mampu.

“Kau terlalu banyak bermimpi,”

“Impianmu terlalu jauh.”

Jika kalian juga pernah dianggap sebagai pengkhayal ulung semacam ini, mari aku beri tahu sesuatu.

Kau tidak terlalu banyak bermimpi, hanya saja mereka tak pernah punya mimpi yang berarti, atau mungkin mimpi mereka ada demi kepuasan mereka sendiri. Aku tak menyalahkan ini. Tapi kawanku, kau berbeda. Kau ingin membuat suatu perubahan yang besar bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang banyak.

Impianmu terlalu jauh? Mungkin impian mereka sebatas apa yang membuat mereka merasa hidup dengan nyaman. Tetapi kau? Tembok kokoh yang membatasi rasa ingin tahumu telah hancur. Kau haus untuk mengeksplorasi.

Kalimat ‘aku tidak mampu’ telah kau hapus dari kamus hidupmu. Sekarang kau berdiri dengan berani menggenggam jutaan mimpi. Kau tidak takut untuk keluar dari zona nyamanmu. Itulah yang menjadi nilai dirimu, kawan. Itulah identitas yang akan membedakanmu dengan mereka yang tidak berani bermimpi.

Bagaimana upayamu mewujudkannya? Mulailah dari sekarang. Pikirkan apa rencanamu agar mimpimu bisa terwujud satu per satu. Apa langkah awal yang akan kau lakukan. Jangan takut mengambil langkah. Jika kau hanya di tempat, orang lain akan yang akan melangkah dan menyusuri jalan berbungamu, maukah kau hanya bisa menjadi penonton dari mimpimu yang diwujudkan bukan oleh dirimu sendiri?

Meski tiap langkah yang kau ambil memiliki lubang yang kau sebut dengan ‘resiko’, kegagalan bukan berarti kau harus berhenti. Kesempatan tidak hanya datang sekali. Ia selalu datang apabila kau berani mencoba lagi.

Jangan takut, kawan.
Kau mampu.
Kau sang pemimpi.
Kau pemberani.
Kau lebih dari apa yang mereka pikirkan.
Kau lebih dari apa yang kau kira.


Semoga dengan membaca ini, semangatmu kembali J

Kamis, 18 Oktober 2018

Cerpen - Tak Ingkar Janji


Seoul, 04 Desember 1995
Halo Lina,
Hari ini Seoul sangat dingin, namun mengingatmu saja sudah cukup menghangatkan. Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku terkena flu. Untunglah paman berbaik hati selalu mengunjungi apartemenku dan membawa makanan serta minuman hangat.
Ini minggu terakhirku bertugas. Minggu depan aku kembali ke Indonesia. Tunggu aku disana, aku berjanji akan mengunjungi rumahmu. Katamu jangan, sebab jalannya berbatu. Padahal berlumpur, bersemak, atau berduri pun tetap akan aku kunjungi.  Aku sudah tidak sabar. Setelah enam tahun tidak bertemu, mungkin akan canggung. Tapi tenang saja, kau tahu kan dari dulu aku selalu bisa mencairkan suasana kelas kita.
Kabar baik dariku, sekarang tabunganmu bisa kau gunakan untuk hal lain yang lebih kau butuhkan. Buka kotak merah itu. Apa kau sudah membukanya lebih dulu daripada suratku?
Kalau begitu coba kau pakai. Pasti kau semakin cantik jika memakainya. Tolong jangan berkata ‘tapi aku tidak memintanya.’ Pakai saja, ya. Kau tidak pernah merepotkan, kalaupun iya, aku senang direpotkan olehmu J
Sahabatmu,
Fajar

Wajahnya berseri-seri setelah membaca surat itu. Segera ia lipat kembali dan meletakkannya di atas meja belajar kayu miliknya. Kini tangannya beralih pada kotak merah kecil yang datang bersamaan dengan surat itu. Perlahan ia membukanya. Air matanya tak dapat tertahan setelah menemukan apa yang ada di dalam kotak itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati berwarna merah muda.

Suatu ketika pernah ia bercerita kepada Fajar setelah berkeliling kota bersama saudaranya. Saudaranya hendak membeli gelang untuk hadiah ulang tahun ibunya. Di toko perhiasan itulah ia jatuh cinta pada sebuah kalung berliontin hati yang terpajang indah di sana. Namun, setelah melihat harga yang terpampang, pupus sudah harapan untuk memiliki kalung itu.

Tapi cintanya pada kalung itu tak pernah surut. Sejak saat itu ia menabung untuk membeli kalung yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. Siapa sangka Fajar malah membelikannya, kalung yang mirip, walaupun tidak sama persis.
Ia genggam erat kalung yang ada di tangannya. Kemudian berjalan ke depan kaca dan memakainya. Apa yang dikatakan Fajar tentangnya memang selalu benar. Lina terlihat sangat cantik.





Bandung, 05 Desember 1995
Halo Fajar,
Saat  kamu membaca surat ini, mungkin kamu sudah bersiap untuk berangkat menuju Indonesia. Semoga selamat sampai tujuan. Jika benar kau ingin ke desaku, tolong berhati-hati. Disini juga dingin, pakai syal rajut yang waktu itu kuberikan, ya!
Terimakasih untuk kalungnya. Aku tidak bisa menahan air mataku ketika membuka kotak merah itu. Tidak apa-apa kok, tangis bahagia namanya. Aku tidak tahu harus memberi apa untuk membalas kebaikanmu. Nanti saja kalau kamu sampai, aku buatkan sayur asem dan tempe goreng, katanya kamu rindu masakan Indonesia, kan?
Cepat sampai ya. Jaga kesehatan. Aku menunggumu, tak peduli jika nanti hanya ada kecanggung diantara kita. Sampai jumpa.
Sahabatmu,
Lina

Seminggu telah berlalu. Seminggu setelah minggu yang dijanjikan Fajar bahwa ia akan tiba di Indonesia. Ia tidak datang. Mungkin tidak akan pernah datang.

Berita di Koran yang dilihat Lina di hari Minggu pagi membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya. 

Kecelakaan pesawat tujuan Indonesia, dari Korea.

Sebulan berlalu. Tidak ada yang berubah. Lina tetap hampa.

Enam bulan. Entah telah berapa banyak surat yang Lina kirimkan kepada Fajar. Berharap laki-laki itu benar akan datang padanya, atau sekedar masih diketahui keberadaannya. Berkali-kali pula Lina memeriksa kotak pos tua yang sudah berkarat di halaman rumahnya. Jawabannya tetap sama, tak ada jawaban.

Setahun.

Dua tahun.

Wajah berseri Lina telah kembali. Kecantikannya masih tetap sama. Luka di hatinya kembali pulih. Kepingannya yang sempat hancur telah menemukan jawaban. Cahaya di wajahnya terpancar. Sorot matanya memandang lembut  bayi mungil yang ada dalam gendongannya, sesekali ia bersenda gurau dengan lelaki yang duduk di sebelahnya, suaminya. Suasana hangat menyelimuti keluarga kecil mereka di halaman rumah yang lenggang itu.

Seseorang berjalan mendekati mereka. Seorang lelaki yang tak  asing bagi Lina. Lelaki bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan bermata kecil.

Kehangatan dalam hati Lina menjelma dingin yang menyeruak sekujur tubuhnya. Membuka luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam. Hatinya menangis. Namun ia tetap berusaha menjaga kerelaan untuk melepas cinta sesuai janjinya sejak laki-laki itu pergi.

Lelaki itu berdiri di hadapan Lina. Matanya yang teduh menatap Lina dan tersenyum. Senyum yang menyembunyikan sejuta luka yang telah disimpannya sejak lama. 
Hari itu, Fajar menepati janjinya.



"Hakikat cinta yang sering terlupa oleh para pecinta adalah melepaskan"
(Aafara)



Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...