Senin, 05 Agustus 2019

BAHAGIA



Hari ini saya berkesempatan ikut teman saya mengajar adik-adik ini mengaji. Karena sedang luang, dan sebenarnya salah satu impian saya dari dulu adalah bisa mengajar, secara sukarela. Pasti lah saya ambil kesempatan ini. Kami belajar dari sehabis magrib, sampai jam 8 kira-kira. Lelah memang, apalagi saya yang meskipun libur banyak yang harus dikerjakan. Tapi saya yang katanya 'mengajari' adik-adik ini malah lebih banyak diajari.
Saya belajar bahwa untuk menjadi seorang guru tidak cukup hanya dengan mengajari sesuatu, tapi lebih dari itu seorang guru harus bisa menjadi pembimbing. Saya juga belajar bahwa saya belum jadi pembimbing yang baik, masih banyak yang harus saya pelajari. Begitupun halnya ketika sudah berkeluarga nanti. Sebagai perempuan, saya akan menjadi madrasatul 'ula bagi anak-anak saya kelak insyaaAllah. Artinya, saya tidak bisa sembarangan memberitau sesuatu hal. Saya harus bisa mempertanggung jawabkan ilmu yang saya berikan. Saya harus terus belajar. Hari ini saya juga belajar mengenai semangat. Dengan keadaan yang seadanya adik-adik ini semangat untuk belajar. Saya juga belajar bahwa mendidik adalah bersabar. Tidak ada anak yang nakal, hanya saja butuh kesabaran untuk menjadikan anak lebih baik dan disiplin.

Rasanya terlalu banyak kalau harus dijabarkan semuanya. Satu yang paling penting yang mau saya bagikan kepada siapapun yang membaca ini. Hari ini saya belajar tentang kebahagiaan. Bahwa bahagia bukan tentang apa yang kita terima, tapi apa yang bisa kita beri untuk sesama. Saya juga belajar bahwa bahagia tidak perlu dicari jauh-jauh, tidak perlu didapat dengan mahal-mahal. Bahagia itu sederhana, sesederhana bahagia saya ketika melihat mereka tersenyum, contohnya.

Selamat belajar dan membimbing, untuk kalian semuanya. Semoga semua lelahnya lillah, barakallah.



Selasa, 09 Juli 2019

Cerpen - Senja Bercerita

Pada suatu sore aku duduk di kursi kayu di halaman rumah mbah kakung. Ia duduk di kursi sebelahku tak lama setelah aku duduk. Rerumputan di depan kami bergerak perlahan ditiup angin. Satu-dua dedaunan berguguran di taman di hadapan kami. Sebagiannya masuk ke kolam ikan dengan alat yang mengeluarkan air mancur namun tak berfungsi lagi. Maklum, sudah puluhan tahun usianya, seusia rumah ini.

Aku menghela napas perlahan. Menikmati udara sejuk sore itu di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kualihkan pandanganku pada mbah kakung. Terlihat jelas di wajahnya kerutan yang semakin bertambah dari terakhir kali aku melihatnya setahun lalu. Rambutnya yang masih hitam rasanya bisa kuhitung jari, sisanya sudah memutih. Ia balik menatapku. Kemudian bertanya, "Bagaimana, sudah ada pekerjaan?"

Pertanyaan yang selalu berhasil membuatku cemas, malu untuk menjawab. Sepertinya Ia menemukan kekhawatiran pada raut wajahku. Ia tersenyum padaku. Senyuman paling tulus yang pernah aku lihat.

"Gus, apa yang menjadi hakmu semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Apa yang tidak kau dapat, ya, berarti bukan rezekimu. Hidup itu sederhana saja, toh?"

Aku tertegun. Meresapi kata-katanya. Perlahan perasaanku membaik. Aku menghela napas sekali lagi. Memberanikan diri untuk bertanya satu hal yang sangat ingin aku tanyakan padanya.

"Mbah... apa Mbah Kakung pernah menyesal berjuang di medan perang sampai kehilangan satu kaki?"

Aku tahu aku lancang. Namun ia tersenyum. Kali ini pandangannya terlepas pada langit jingga di hadapan kami.

Ia menjawab, "Namanya perjuangan pasti beresiko. Tapi bagiku tak ada penyesalan dari berjuang, Gus. Sekalipun harus kalah, harus gugur. Tapi kau tahu? Kau hidup untuk berjuang, bukan untuk menjadi pemenang."

Hatiku berdesir. Sekali lagi ia menatapku dan berkata, "Begitupun kamu. Apapun yang terjadi, hidupmu harus berjalan sebagaimana mestinya."

Aku tahu aku salah. Melarikan diri, berandai menjadi petualang tapi tak tahu arah. Tidak tahu harus berbuat apa. Secepat itu aku menyerah.

"Satu hal lagi yang perlu kau ingat, Gus. Di negeri yang semakin sulit ini. Jangan bekerja untuk uang, rezeki sudah diatur. Tapi peran apa yang mau kau ambil untuk menjadi manusia bermanfaat di dunia ini, kau yang punya kuasa."

Senja kali itu mengubah hidupku.

Minggu, 12 Mei 2019

Kamu Akan Baik-Baik Saja


Aku tahu kadang masa depan yang masih misteri membuat kita takut pada apa yang akan terjadi. Itu wajar. Tapi kalau ketakutan-ketakutan itu sampai membuat kita terhambat dalam melakukan aktivitas, membuat kita takut sama masa depan, mungkin kamu merasakan hal yang sama kayak aku.
Bagi aku tahun 2017-2018 awal itu adalah masa-masa terberat sekaligus terbaik. Kenapa? Karena ketika itu aku merasakan banyak ketakutan-ketakutan soal gimana masa depanku. Aku bisa kuliah atau engga? Aku harus pilih apa? Gimana kalau aku gagal lagi? Gimana kalau aku mengecewakan? Dan banyakk ketakutan lainnya. And I often scared of the death too, and im scared to be left by people I love. It’s kinda weird, right? But it was true. I felt it.

Dari situ aku mulai mencoba terbuka sama teman-teman dekatku. Aku cerita apa yang aku rasain. And some of them ever have the same anxiety. Aku pun mencari tahu kenapa aku kayak gini. Kenapa aku kok takut tapi gak wajar. Bayangin aja aku mau sholat aja takut. Aneh kan? Mau pergi keluar takut. Mau ngelakuin apapun takut. Selalu kepikir yang negatif duluan. And I have no idea why am I being like this. Aku memang tipe orang yang selalu memikirkan sesuatu sebelum aku berbicara atau bertindak. Tapi gak sampai kayak gini. Aku tahu ada yang salah sama diri aku tapi aku gak tahu harus apa.

Ketika tahu beberapa temanku juga pernah merasakan ini, aku sedikit merasa lega. Ternyata aku gak sendirian. Setelah aku mencari-cari pun akhirnya aku tahu aku ini sebenarnya kenapa, hehe. Tadi aku singgung sedikit kata ‘anxiety’, nah kurang lebih itu yang aku alami. Anxiety itu gangguan kecemasan. Kamu bisa cari tahu lebih banyak tentang anxiety sendiri, yaa.

Dari hasil aku mencari tahu aku juga dapat link ke fanpage yang isinya orang-orang yang berjuang memulihkan anxiety ini. Aku membaca begitu banyak kalimat-kalimat dukungan dari orang yang mengalami ataupun yang sudah bebas dari anxiety kepada sesamanya yang membagikan pengalamannya atau curhat di fanpage itu. Ada perasaan sedih sekaligus menenangkan bagi aku. Menenangkan karena tahu bahwa aku gak sendirian. Sedih karena tahu mereka yang berusaha terbuka sama orang-orang sekitar malah di judge lebay, kurang ibadah, gak bersyukur, and many others unpleasant words.

Tapi aku sadar yang namanya gangguan psikis itu masih dianggap hal yang tabu di masyarakat. Mereka yang berbicara seperti itu gak salah, mereka hanya belum paham. And they never be in this position. I truly understand. But let me say something to you. Untuk kamu yang belum pernah merasakan, ketika ada seseorang yang bercerita ke kamu tentang hal yang sama, tentang gimana mereka ngerasa takut sama segala hal, atau apapun masalahnya. Posisikanlah diri kamu sebagai pendengar, bukan hakim, bukan orang yang menyalah-nyalahkan perbuatannya.

Kadang seseorang bercerita hanya untuk didengarkan, untuk menumpahkan semua yang membuat dia sesak. Kamu gak perlu ngasih nasehat, cukup dengarkan.

Atau kamu bisa tanya apakah dia butuh saran dari kamu atau tidak. Dia bercerita padamu berarti dia tahu kamu orang yang bisa dia percaya, maka jangan pernah mengecewakan. Meskipun kalau kamu tahu dia salah, kamu bisa beritahu dia dengan cara yang lembut, yang tidak terkesan menghakimi. Kalau kamu mau kasih masukan terkait hal-hal religious, ini baik sekali. Tapi tolong jangan kamu ucapkan kata-kata seperti “Ah, kurang ibadah aja kali!” “Kamu tuh kurang bersyukur” “Dosa tahu mikir kayak gitu.” Kata-kata itu samasekali gak membantu, serius.

Buat kamu yang sedang ada di posisi ini, sedang mengalami kecemasan.

Remember this, it’s okay not to be okay.

Gak ada yang salah dari merasa ‘gak baik-baik aja’. Semua orang punya masa di mana hidupnya baik-baik aja, begitupula ada masanya dia merasa kurang baik. But that’s how life going. Kamu hanya perlu menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Jangan pernah pendam semuanya sendirian. Sekalipun kamu orang yang introver kayak aku, kamu tetap butuh tempat bercerita. Kamu tahu? Ada satu, yang gak akan mengecewakan kamu, gak akan men-judge kamu apapun yang kamu ceritakan, yang akan membuat kamu tenang setelah menangis menumpahkan semua beban kamu, tapi mungkin kadang kamu lupa. Siapa? Allah, Tuhanmu. Aku tahu mungkin sulit kalau kamu gak terbiasa curhat sama Allah.

Tapi aku ngerasain sendiri ketika aku gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Di situ aku inget kalau aku punya Allah.

Allah selalu ada, aku aja yang mungkin lupa untuk meminta, jarang bercerita. Setelah itu aku ngerasain gimana leganya ketika sujud, ketika menangis dihadapan-Nya. Ketika aku memasrahkan segala urusan pada-Nya. Ini pengobatan yang palinggggg baik untuk dilakukan menurut aku. Karena gak semua dari kita bisa terbuka untuk cerita sama orang lain, kan? Gak semua orang punya teman bercerita yang baik juga. Maka dari situ kamu tahu bahwa kamu memang gak bisa mengandalkan manusia. Tapi kamu punya Allah yang Maha Segala-galanya. Kamu punya Allah yang selalu ada buat kamu. Sekarang kamu tahu bahwa kamu gak pernah sendirian J

Tapi di sini bukan berarti  aku menanggap kalau anxiety itu karena kurang ibadah, loh. Kadang orang yang rajin ibadah pun bisa merasa cemas. Itu manusiawi. Tapi dari pengalaman aku, mendekatkan diri sama Allah adalah cara terbaik dalam menyelesaikan semua masalah.

Ohiya sedikit info, coba kamu yang muslim baca Al-Ma’surat tiap habis subuh dan ashar. Kamu perlu banget coba rutinin baca, sesempat mungkin. InsyaaAllah membantu.

Kamu juga perlu sedikit memaksa diri kamu untuk melakukan hal-hal yang positif, yang membuat kamu merasa nyaman. Kalau aku, aku menulis apa yang aku rasakan dan apapun yang ingin aku tulis. Pokoknya nulis aja, hehe. Kamu yang paling tahu apa hal bisa buat kamu ngerasa sedikit lebih relax.
Sebisa mungkin kamu juga jangan menyendiri terus. Dekatkan diri kamu sama keluarga, sama teman-teman. Aku juga mulai aktif ikut kajian ketika itu, Alhamdulillah. Ini salah satu hikmahnya kali ya. Aku dapat teman-teman baru yang selalu ingetin aku dalam hal kebaikan. Aku juga belajar banyak hal dan belajar lebih banyak lagi tentang Islam yang gak aku dapat di sekolah karena aku dari SMA Negeri yang pelajaran agamanya seminggu sekali dan cuma satu jam, wkwk.

Mungkin ada sebagian dari kamu yang sulit untuk bergaul sama orang lain atau sekedar punya teman dekat. Kalau kamu butuh tempat buat cerita, siapapun kamu, I’m here to listen. Apapun masalahnya. Kamu gak perlu takut untuk di-judge atau merasa gak dihargai, karena aku paham rasanya diperlakukan seperti itu ketika curhat sama orang, hehe. I will try my best to be your best listenerJ

Kenapa aku bilang kalau pada tahun itu juga adalah tahun terbaik buat aku? Jawabannya adalah karena aku bisa membagikan tulisan ini sekarang. Kalau aku gak mengalami hal itu aku gak bisa berbagi sama mereka yang sekarang ada di posisi itu, yang butuh bantuan. Kalau aku gak mengalami hal itu mungkin aku gak sadar kalau Allah udah baik banget sama aku.

Sampai sekarang aku masih sesekali menyempatkan membuka akun facebook yang sudah lama gak aktif, sekedar membaca dan menanggapi curhat orang-orang yang bercerita tentang bagaimana dia merasakan kecemasan seperti yang pernah aku rasakan. Bahkan banyak juga yang phobia sosial.

I’m not an expert and I honestly don’t know what to do. But at least I just want to make sure that they are not alone. I want to make them sure that they will be okay.

Kita emang gak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi kita tahu bahwa kita punya Sang Maha Baik yang sudah mengatur skenario kehidupan kita seindah mungkin.

Kamu boleh share tulisan ini ke siapapun yang membutuhkan. Kamu boleh simpan atau bahkan catat yang menurut kamu baik, dan sila buang yang buruk. Kamu juga boleh berkomentar kritik, saran atau bahkan curhat, hehe.

Semoga merasa lebih baikJ

Wallahu a’lam bish showaab.


Rabu, 09 Januari 2019

POTRET NEGERI - JAKARTA-PUNCAK


[JAKARTA - PUNCAK]


Udara segar pagi itu membangunkanmu. Dingin. Puncak memang berbeda jauh dengan Jakarta suhunya. Kemudian kau berpikir, ‘Ah! Bagaimana di Eropa ya?’

Kau mulai berjalan ke pelataran villa mungil itu. Hanya hijau sejauh mata memandang. Tidak ada bangunan megah menjulang, tidak harus melihat tumpukan sampah, tidak juga menghirup asap kendaraan yang tak baik untuk kesehatanmu itu. Kemudian kau berpikir, ‘Ah, andai negeri ini semuanya seperti ini.’

Kemudian kau terduduk di kursi kayu yang menambah asri suasana sekitarmu. Merebahkan diri sambil menghirup udara segar pagi itu. Firman-Nya selalu benar. Nikmat Tuhamu mana lagi yang kau dustakan?

Satu, dua, tiga jam berlalu. Kau mulai berpikir, seburuk apapun kota tempatmu tinggal di sanalah tempat ternyaman. Kau tidak bisa meninggalkannya. Kemudian kau tersadar bahwa berpindah bukan satu-satunya alasan ketika rumahmu tak lagi nyaman. Kau harus memperbaikinya dan membuat dirimu senyaman mungkin berada di dalamnya. Ini lebih tepat!

Sejak saat itu kau berpikir, ‘mengapa tidak aku saja yang memulai untuk membuang sampah pada tempatnya?’ juga , ‘kenapa bukan aku yang memulai mengingatkan orang lain untuk berbuat sama?’

Kau juga berkomitmen untuk belajar sebaik dan sebanyak yang kau bisa. Agar bangunan pencakar langit yang dibangun di atas lahan kosong itu bisa kau hentikan. Atau agar kau memiliki kuasa untuk mengurangi penjualan kendaraan pribadi dan memperbaiki fasilitas kendaraan umum supaya manusia nyaman dan lebih memilih untuk menaikinya.

Dengan begitu belajarmu tak sekedar untuk mendapat nilai atau ipk yang tinggi. Tujuanmu adalah sesuatu yang lebih jauh dan lebih besar dari itu. Bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk negeri, serta manusia di sekitarmu.

Lalu kau akan mengubah pikiranmu, ‘Ternyata bukan lagi tentang Puncak atau Jakarta. Negeri ini memang indah seluruhnya!’

Selasa, 08 Januari 2019

POTRET NEGERI - SATU



[SATU]

Memang apa bedanya?

Wajah? Warna Kulit?

Bahkan katamu aroma?

Menerima beda, manusia memang sulit

Namun bukankah rasisme hanya ide brilian

dari segelintir manusia biadab?

Membuat partisi untuk manusia yang tak seharusnya dibatasi

Merebut hak saudara yang tak pantasnya diegoisi

Katamu bangsa kita satu?

Tapi pernahkah persatuan kau seru?

Kawan, kita semua saudara, kan?



Menanggapi sebuah aksi “Stop Kekerasan Terhadap Masyarakat Papua.”

Minggu, 06 Januari 2019

TERNYATA, PIKIRANMU MEMPENGARUHI HIDUPMU, LHO!



“SEMUA BUNGA ESOK HARI ADA DALAM BENIH HARI INI. SEMUA HASIL ESOK HARI ADA DALAM PIKIRAN HARI INI.” [ARISTOTELES]


Seorang motivator muslim, Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang berjudul Terapi Berpikir Positif, menyebutkan bahwa ilmuan mendefinisikan “berpikir” sebagai bagian terpenting yang membedakan manusia dengan binatang, tumbuhan, dan benda mati.

Dengan berpikir, manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk; yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Semua perbuatan pasti berawal dari pikiran sehingga pikiranlah yang menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian, dan rasa percaya diri.

Artinya, pikiran sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Nah, di bawah ini akan dibahas bagaimana pikiran mempengaruhi kehidupan kita dan bagaimana kita harus mengubah pola pikir menjadi positif agar hidup lebih positif.


Kamu gagal karena kamu berpikir kamu akan gagal
Meski kelihatannya sederhana, ternyata pikiran itu lebih kuat dari apa yang kamu bayangkan! Jika kamu berpikir kamu takut, maka kamu akan takut. Begitu juga pikiran bahagia membuat kamu bahagia dan memikirkan keberhasilan akan membuat kamu berhasil.

Sebagai contoh ketika seorang petenis terkenal, Andre Agasi, ditumbangkan oleh pemain baru yang belum punya banyak pengalaman. Mengapa ia bisa kalah?

Rupanya, suatu ketika para ahli menasehatinya supaya mundur karena usianya sudah lebih dari tiga puluh dan menurut mereka, ia tidak akan mampu mengalahkan pendatang baru yang masih muda dan penuh semangat. Rekannya pun mengatakan pada Andre bahwa untuk mempertahankan reputasinya Andre harus berhenti bertanding.

Pikiran Andre pun berubah menjadi negatif: usia uzur, kelemahan fisik, dan pesimis. Tapi kemudian ia merenung dan menyadari bahwa hasil yang ia dapatkan adalah apa yang ia pikirkan dan yakini. Maka ia mulai berlatih dan mengubah pola pikir menjadi optimis. Dengan usahanya, Andre Agasi kembali meraih posisi sepuluh besar kelas dunia.


 Hati-hati dengan pikiranmu!

Pikiran juga melahirkan mindset. Apa itu mindset/pola pikir? Mindset adalah pikiran mengenai suatu pengalaman yang memiliki efek pada waktu atau tempat tertentu sehingga diyakini dan dapat terjadi di waktu dan tempat yang sama. Contohnya seperti ini, pernahkah kamu atau orang lain mengatakan padamu, “Ketika belajar aku merasa pusing dan sulit berkonsentrasi.” Ada juga yang mengatakan, “Setiap musim hujan di bulan November aku pasti terserang flu.” Banyak orang yang tidak tahu bahwa dengan kalimat di atas mereka telah membentuk mindset atau pola pikir yang negatif. Setelah terbentuk, mindset ini tersimpan di alam bawah sadar dan menumbuhkan persepsi negatif. Selain itu, pikiran pun mempengaruhi tubuh.

Suatu ketika Herbert Spencer, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Harvard, meminta seorang mahasiswa maju ke depan kelas. Mahasiswa itu diminta menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata, kemudian Dr. Herbert meminta mahasiswa tersebut untuk membayangkan tangan kirinya memegang sebuah jeruk, sedangkan tangan kanannya memegang sebilah pisau tajam, dan di depannya terdapat sebuah meja, dr. Herbert memintanya meletakkan pisau di atas meja, kemudian mengambil separuh jeruk yang sudah dibelah untuk didekatkan ke mulut. Kemudian ia juga memberi sugesti pada mahasiswa tersebut untuk menghirup aroma jeruk itu dan masukkan ke mulut kemudian kunyah dan sebagian sari jeruk yang masuk ke tenggorokan membuatnya ingin muntah. Kamu tahu apa yang terjadi? Ya! Mahasiswa tersebut menunjukkan ekspresi wajah yang kaku dan merasa jijik kemudian ia benar-benar muntah! Maka setelah itu Dr. Herbert mengatakan, "Akal dan tubuh saling mempengaruhi."

Contoh yang sering dialami di kehidupan sehari-hari, misalnya, ketika kamu membayangkan sesuatu yang mengerikan, maka ekspresi wajahmu pun akan berubah dan tubuhmu bergidik. Begitupula jika kamu membayangkan sesuatu yang membahagiakan, kamu akan merasakan efek yang berbeda pada tubuhmu. Dalam buku Terapi Berpikir Positif, dikatakan bahwa di rumah sakit pusat San Francisco, Amerika Serikat, para pasien diterapi dengan tawa dan kabar positif. Hasilnya, terapi seperti ini meningkatkan kesembuhan sampai 35%.

Nah, kondisi tubuh juga mempengaruhi akal. Jika kondisi tubuhmu kuat, akal akan menerima kondisi itu dan membuka file kekuatan dalam pikiranmu. Akal mampu mengobati tubuh dan membuatnya bebas dari penyakit.


 Berpikir positif untuk hidup yang positif

Keadaan yang sulit memang mudah sekali menjadikan pikiran dipenuhi hal-hal negatif. Sementara pikiran negatif itu tak akan mengubah apapun.

Pikiran negatif tidak akan menyelesaikan masalah dan menutup pikiran untuk melihat hal-hal positif yang justru bisa menjadi jalan keluar bagi masalah yang ada.

Lalu, bagaimana caranya untuk berpikir positif? Kamu bisa melakukan banyak cara. Seperti menguatkan tekad dalam menggapai impianmu. Meskipun kamu berkali-kali gagal, bukan berarti kamu tidak bisa mencapainya. Selama hal tersebut positif, teruslah berusaha. Jangan lupa, berdoa dan berserah diri pada Tuhan juga harus dillakukan karena dengan pasrah kepada-Nya lah perasaan menjadi tenang.

Kemudian kamu juga bisa melatih diri untuk berpikir positif dengan melihat dan mendengar kisah orang lain yang hidupnya dipenuhi hal-hal positif, seperti kisah penyandang disabilitas yang bisa mendapat kejuaraan olahraga, atau orang-orang yang mengidap kanker tapi selalu tersenyum dan menebar kebahagiaan.

Selain itu, kamu juga bisa membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang positif seperti memberikan sesuatu kepada orang lain, baik materi ataupun nonmateri. Sederhananya, kamu bisa memberikan senyuman kepada orang-orang disekitarmu. Bisa juga dengan melakukan hobi, ataupun hal lain yang membuatmu sejenak melupakan masalahmu.

Berpikir positif memudahkanmu untuk mencari jalan keluar atas masalahmu. Masalah dalam hidup memang akan selalu ada. Tetapi justru ketika berada di posisi sulit itulah seseorang bisa mendapat hikmah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Berpikir positif bukan berarti lari dari masalah. dan semua masalah yang kita hadapi selalu ada jalan keluar melalui pintu spiritual. Dekatkanlah dirimu pada Tuhan. Percayalah pada dirimu sendiri dan semua potensi yang ada padamu. Berpikirlah bahwa kamu akan berhasil, berpikirlah kamu sehat dan kuat.


Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...