Beberapa waktu lalu, mungkin seperti perempuan pada umumnya, yang berusia nyaris seperempat abad. Aku dijodoh-jodohkan.
Jelas sejak awal aku menolak, dengan sangat berat hati, karena takut menyakiti pihak keluarganya yang sudah berniat baik.
Semua kekalutan dan kekhawatiran muncul di kepalaku. "Dia udah mapan loh, kamu mau cari yang kaya gimana lagi?" kata mereka. Tapi, aku tidak mencintainya, bukankah pernikahan itu harus berdasar cinta? Aku tidak mengenalnya dan tidak berniat untuk mengenalnya lebih jauh. Aku rasa aku tidak siap. Tidak siap menghadapi orang yang aku tidak mengenalnya samasekali. Tidak siap menghadapi aku, yg kurasa sama sekali belum matang secara ilmu, mental dan finansial. Meskipun ia, dengan usianya yang jauh di atasku, sepertinya sudah siap untuk memasuki fase pernikahan.
Ibuku sangat memahami, dan meminta agar aku mundur dan jangan meng-iyakan kalau hatiku memang berkata tidak.
Tapi, seperti mengerti kekhawatiranku. Ibu bilang, "Kak, nggak usah khawatir rezeki, ketika menikah, rezeki itu rasanya dibuka seperti keran-keran yang mengalir."
Aku sangat memahami, tapi aku yang ketika itu sangat mengedepankan logika, masih ketakutan bahwa Allah tidak memberiku rezeki kalau sekarang saja aku belum siap.
Setelah banyak berpikir dan mendengar cerita orang-orang di luar sana. Memang betul, uang bisa memberi segala hal yang kita inginkan, membuat kita sekiranya merasa tenang menghadapi hari-hari berikutnya.
Tapi, ternyata ada yang lebih penting dari itu. Ilmu & Iman. Apa yang membedakan antara orang yang tenang bahkan ketika ia tidak memiliki apapun, dengan orang yang kalut ketika tidak memiliki apapun? Ilmu. Bahwa ia mengetahui takdirnya, termasuk rezeki, tidak akan melewatkannya. Dengan ilmu, ia paham bagaimana memupuk kasih sayang serta mengajarkan kepada anak-anaknya, rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan, sesedikit apapun itu.
Apa yang membuat mereka di luar sana bisa menikahi seseorang yang tidak dicintainya? Iman. Bahwa ia percaya selama pernikahannya dilandasi iman, dengan berada pada bahtera rumah tangga bersama-sama, maka cinta akan tumbuh seiring waktu. Seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino.
Dengan ilmu dan iman, seseorang tidak akan berlaku buruk terhadap pasangannya, sesulit apapun kehidupan yang ia pikul di pundaknya,
Aku belajar banyak perspektif dari keputusanku. Namun tidak ada yang kusesali dan justru menjadi pemantik kesadaranku, bahwa masih banyak hal yang belum aku pelajari dan persiapkan dengan baik. Aku percaya pilihan hidup yang sudah kubuat, adalah takdir terbaikku. Aku percaya akan ada seseorang yang membuatku yakin. Akan ada seseorang yang datang di hari dimana Allah memantapkan hatiku untuk merasa, "aku siap menerimamu, dan pantas diterima dengan baik olehmu."
sedikit notes hehe
*tapi tetep mengenal calon perlu bgt ya wkwk aku ttp gak menormalisasi lamar-nikah tanpa tau latar belakang+sifat2nya :')
*gak takut miskin bukan berarti pasrah. kerja keras mencari rezeki juga harus, kan rezeki harus dijemput😆 setidaknya laki2 (menurutku, ya) harus terbiasa financial planning dg baik, dan mau kerja keras
Tidak ada komentar:
Posting Komentar