Minggu, 12 Mei 2019

Kamu Akan Baik-Baik Saja


Aku tahu kadang masa depan yang masih misteri membuat kita takut pada apa yang akan terjadi. Itu wajar. Tapi kalau ketakutan-ketakutan itu sampai membuat kita terhambat dalam melakukan aktivitas, membuat kita takut sama masa depan, mungkin kamu merasakan hal yang sama kayak aku.
Bagi aku tahun 2017-2018 awal itu adalah masa-masa terberat sekaligus terbaik. Kenapa? Karena ketika itu aku merasakan banyak ketakutan-ketakutan soal gimana masa depanku. Aku bisa kuliah atau engga? Aku harus pilih apa? Gimana kalau aku gagal lagi? Gimana kalau aku mengecewakan? Dan banyakk ketakutan lainnya. And I often scared of the death too, and im scared to be left by people I love. It’s kinda weird, right? But it was true. I felt it.

Dari situ aku mulai mencoba terbuka sama teman-teman dekatku. Aku cerita apa yang aku rasain. And some of them ever have the same anxiety. Aku pun mencari tahu kenapa aku kayak gini. Kenapa aku kok takut tapi gak wajar. Bayangin aja aku mau sholat aja takut. Aneh kan? Mau pergi keluar takut. Mau ngelakuin apapun takut. Selalu kepikir yang negatif duluan. And I have no idea why am I being like this. Aku memang tipe orang yang selalu memikirkan sesuatu sebelum aku berbicara atau bertindak. Tapi gak sampai kayak gini. Aku tahu ada yang salah sama diri aku tapi aku gak tahu harus apa.

Ketika tahu beberapa temanku juga pernah merasakan ini, aku sedikit merasa lega. Ternyata aku gak sendirian. Setelah aku mencari-cari pun akhirnya aku tahu aku ini sebenarnya kenapa, hehe. Tadi aku singgung sedikit kata ‘anxiety’, nah kurang lebih itu yang aku alami. Anxiety itu gangguan kecemasan. Kamu bisa cari tahu lebih banyak tentang anxiety sendiri, yaa.

Dari hasil aku mencari tahu aku juga dapat link ke fanpage yang isinya orang-orang yang berjuang memulihkan anxiety ini. Aku membaca begitu banyak kalimat-kalimat dukungan dari orang yang mengalami ataupun yang sudah bebas dari anxiety kepada sesamanya yang membagikan pengalamannya atau curhat di fanpage itu. Ada perasaan sedih sekaligus menenangkan bagi aku. Menenangkan karena tahu bahwa aku gak sendirian. Sedih karena tahu mereka yang berusaha terbuka sama orang-orang sekitar malah di judge lebay, kurang ibadah, gak bersyukur, and many others unpleasant words.

Tapi aku sadar yang namanya gangguan psikis itu masih dianggap hal yang tabu di masyarakat. Mereka yang berbicara seperti itu gak salah, mereka hanya belum paham. And they never be in this position. I truly understand. But let me say something to you. Untuk kamu yang belum pernah merasakan, ketika ada seseorang yang bercerita ke kamu tentang hal yang sama, tentang gimana mereka ngerasa takut sama segala hal, atau apapun masalahnya. Posisikanlah diri kamu sebagai pendengar, bukan hakim, bukan orang yang menyalah-nyalahkan perbuatannya.

Kadang seseorang bercerita hanya untuk didengarkan, untuk menumpahkan semua yang membuat dia sesak. Kamu gak perlu ngasih nasehat, cukup dengarkan.

Atau kamu bisa tanya apakah dia butuh saran dari kamu atau tidak. Dia bercerita padamu berarti dia tahu kamu orang yang bisa dia percaya, maka jangan pernah mengecewakan. Meskipun kalau kamu tahu dia salah, kamu bisa beritahu dia dengan cara yang lembut, yang tidak terkesan menghakimi. Kalau kamu mau kasih masukan terkait hal-hal religious, ini baik sekali. Tapi tolong jangan kamu ucapkan kata-kata seperti “Ah, kurang ibadah aja kali!” “Kamu tuh kurang bersyukur” “Dosa tahu mikir kayak gitu.” Kata-kata itu samasekali gak membantu, serius.

Buat kamu yang sedang ada di posisi ini, sedang mengalami kecemasan.

Remember this, it’s okay not to be okay.

Gak ada yang salah dari merasa ‘gak baik-baik aja’. Semua orang punya masa di mana hidupnya baik-baik aja, begitupula ada masanya dia merasa kurang baik. But that’s how life going. Kamu hanya perlu menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Jangan pernah pendam semuanya sendirian. Sekalipun kamu orang yang introver kayak aku, kamu tetap butuh tempat bercerita. Kamu tahu? Ada satu, yang gak akan mengecewakan kamu, gak akan men-judge kamu apapun yang kamu ceritakan, yang akan membuat kamu tenang setelah menangis menumpahkan semua beban kamu, tapi mungkin kadang kamu lupa. Siapa? Allah, Tuhanmu. Aku tahu mungkin sulit kalau kamu gak terbiasa curhat sama Allah.

Tapi aku ngerasain sendiri ketika aku gak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Di situ aku inget kalau aku punya Allah.

Allah selalu ada, aku aja yang mungkin lupa untuk meminta, jarang bercerita. Setelah itu aku ngerasain gimana leganya ketika sujud, ketika menangis dihadapan-Nya. Ketika aku memasrahkan segala urusan pada-Nya. Ini pengobatan yang palinggggg baik untuk dilakukan menurut aku. Karena gak semua dari kita bisa terbuka untuk cerita sama orang lain, kan? Gak semua orang punya teman bercerita yang baik juga. Maka dari situ kamu tahu bahwa kamu memang gak bisa mengandalkan manusia. Tapi kamu punya Allah yang Maha Segala-galanya. Kamu punya Allah yang selalu ada buat kamu. Sekarang kamu tahu bahwa kamu gak pernah sendirian J

Tapi di sini bukan berarti  aku menanggap kalau anxiety itu karena kurang ibadah, loh. Kadang orang yang rajin ibadah pun bisa merasa cemas. Itu manusiawi. Tapi dari pengalaman aku, mendekatkan diri sama Allah adalah cara terbaik dalam menyelesaikan semua masalah.

Ohiya sedikit info, coba kamu yang muslim baca Al-Ma’surat tiap habis subuh dan ashar. Kamu perlu banget coba rutinin baca, sesempat mungkin. InsyaaAllah membantu.

Kamu juga perlu sedikit memaksa diri kamu untuk melakukan hal-hal yang positif, yang membuat kamu merasa nyaman. Kalau aku, aku menulis apa yang aku rasakan dan apapun yang ingin aku tulis. Pokoknya nulis aja, hehe. Kamu yang paling tahu apa hal bisa buat kamu ngerasa sedikit lebih relax.
Sebisa mungkin kamu juga jangan menyendiri terus. Dekatkan diri kamu sama keluarga, sama teman-teman. Aku juga mulai aktif ikut kajian ketika itu, Alhamdulillah. Ini salah satu hikmahnya kali ya. Aku dapat teman-teman baru yang selalu ingetin aku dalam hal kebaikan. Aku juga belajar banyak hal dan belajar lebih banyak lagi tentang Islam yang gak aku dapat di sekolah karena aku dari SMA Negeri yang pelajaran agamanya seminggu sekali dan cuma satu jam, wkwk.

Mungkin ada sebagian dari kamu yang sulit untuk bergaul sama orang lain atau sekedar punya teman dekat. Kalau kamu butuh tempat buat cerita, siapapun kamu, I’m here to listen. Apapun masalahnya. Kamu gak perlu takut untuk di-judge atau merasa gak dihargai, karena aku paham rasanya diperlakukan seperti itu ketika curhat sama orang, hehe. I will try my best to be your best listenerJ

Kenapa aku bilang kalau pada tahun itu juga adalah tahun terbaik buat aku? Jawabannya adalah karena aku bisa membagikan tulisan ini sekarang. Kalau aku gak mengalami hal itu aku gak bisa berbagi sama mereka yang sekarang ada di posisi itu, yang butuh bantuan. Kalau aku gak mengalami hal itu mungkin aku gak sadar kalau Allah udah baik banget sama aku.

Sampai sekarang aku masih sesekali menyempatkan membuka akun facebook yang sudah lama gak aktif, sekedar membaca dan menanggapi curhat orang-orang yang bercerita tentang bagaimana dia merasakan kecemasan seperti yang pernah aku rasakan. Bahkan banyak juga yang phobia sosial.

I’m not an expert and I honestly don’t know what to do. But at least I just want to make sure that they are not alone. I want to make them sure that they will be okay.

Kita emang gak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi kita tahu bahwa kita punya Sang Maha Baik yang sudah mengatur skenario kehidupan kita seindah mungkin.

Kamu boleh share tulisan ini ke siapapun yang membutuhkan. Kamu boleh simpan atau bahkan catat yang menurut kamu baik, dan sila buang yang buruk. Kamu juga boleh berkomentar kritik, saran atau bahkan curhat, hehe.

Semoga merasa lebih baikJ

Wallahu a’lam bish showaab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...