[JAKARTA - PUNCAK]
Udara segar pagi itu membangunkanmu. Dingin. Puncak memang
berbeda jauh dengan Jakarta suhunya. Kemudian kau berpikir, ‘Ah! Bagaimana di Eropa ya?’
Kau mulai berjalan ke pelataran villa mungil itu. Hanya
hijau sejauh mata memandang. Tidak ada bangunan megah menjulang, tidak harus melihat
tumpukan sampah, tidak juga menghirup asap kendaraan yang tak baik untuk kesehatanmu
itu. Kemudian kau berpikir, ‘Ah, andai
negeri ini semuanya seperti ini.’
Kemudian kau terduduk di kursi kayu yang menambah asri
suasana sekitarmu. Merebahkan diri sambil menghirup udara segar pagi itu.
Firman-Nya selalu benar. Nikmat Tuhamu
mana lagi yang kau dustakan?
Satu, dua, tiga jam berlalu. Kau mulai berpikir, seburuk
apapun kota tempatmu tinggal di sanalah tempat ternyaman. Kau tidak bisa
meninggalkannya. Kemudian kau tersadar bahwa berpindah bukan satu-satunya
alasan ketika rumahmu tak lagi nyaman. Kau harus memperbaikinya dan membuat
dirimu senyaman mungkin berada di dalamnya. Ini lebih tepat!
Sejak saat itu kau berpikir, ‘mengapa tidak aku saja yang memulai untuk membuang sampah pada
tempatnya?’ juga , ‘kenapa bukan aku
yang memulai mengingatkan orang lain untuk berbuat sama?’
Kau juga berkomitmen untuk belajar sebaik dan sebanyak yang
kau bisa. Agar bangunan pencakar langit yang dibangun di atas lahan kosong itu bisa
kau hentikan. Atau agar kau memiliki kuasa untuk mengurangi penjualan kendaraan
pribadi dan memperbaiki fasilitas kendaraan umum supaya manusia nyaman dan lebih
memilih untuk menaikinya.
Dengan begitu belajarmu tak sekedar untuk mendapat nilai
atau ipk yang tinggi. Tujuanmu adalah sesuatu yang lebih jauh dan lebih besar dari
itu. Bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk negeri, serta manusia di
sekitarmu.
Lalu kau akan mengubah pikiranmu, ‘Ternyata bukan lagi tentang Puncak atau Jakarta. Negeri ini memang
indah seluruhnya!’

Tidak ada komentar:
Posting Komentar