Rabu, 09 Januari 2019

POTRET NEGERI - JAKARTA-PUNCAK


[JAKARTA - PUNCAK]


Udara segar pagi itu membangunkanmu. Dingin. Puncak memang berbeda jauh dengan Jakarta suhunya. Kemudian kau berpikir, ‘Ah! Bagaimana di Eropa ya?’

Kau mulai berjalan ke pelataran villa mungil itu. Hanya hijau sejauh mata memandang. Tidak ada bangunan megah menjulang, tidak harus melihat tumpukan sampah, tidak juga menghirup asap kendaraan yang tak baik untuk kesehatanmu itu. Kemudian kau berpikir, ‘Ah, andai negeri ini semuanya seperti ini.’

Kemudian kau terduduk di kursi kayu yang menambah asri suasana sekitarmu. Merebahkan diri sambil menghirup udara segar pagi itu. Firman-Nya selalu benar. Nikmat Tuhamu mana lagi yang kau dustakan?

Satu, dua, tiga jam berlalu. Kau mulai berpikir, seburuk apapun kota tempatmu tinggal di sanalah tempat ternyaman. Kau tidak bisa meninggalkannya. Kemudian kau tersadar bahwa berpindah bukan satu-satunya alasan ketika rumahmu tak lagi nyaman. Kau harus memperbaikinya dan membuat dirimu senyaman mungkin berada di dalamnya. Ini lebih tepat!

Sejak saat itu kau berpikir, ‘mengapa tidak aku saja yang memulai untuk membuang sampah pada tempatnya?’ juga , ‘kenapa bukan aku yang memulai mengingatkan orang lain untuk berbuat sama?’

Kau juga berkomitmen untuk belajar sebaik dan sebanyak yang kau bisa. Agar bangunan pencakar langit yang dibangun di atas lahan kosong itu bisa kau hentikan. Atau agar kau memiliki kuasa untuk mengurangi penjualan kendaraan pribadi dan memperbaiki fasilitas kendaraan umum supaya manusia nyaman dan lebih memilih untuk menaikinya.

Dengan begitu belajarmu tak sekedar untuk mendapat nilai atau ipk yang tinggi. Tujuanmu adalah sesuatu yang lebih jauh dan lebih besar dari itu. Bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk negeri, serta manusia di sekitarmu.

Lalu kau akan mengubah pikiranmu, ‘Ternyata bukan lagi tentang Puncak atau Jakarta. Negeri ini memang indah seluruhnya!’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...