Aku bersyukur sekali pernah gagal. Aku bersyukur karena
kegagalanku lah yang membawaku pada tempat itu. Tempat yang awalnya hanya
kujadikan pelarian atas segala kekecewaanku terhadap keadilan Allah.
Sebenarnya, aku tidak perlu jauh-jauh untuk sekedar belajar
Bahasa Inggris. Aku juga tidak perlu menghabiskan waktuku untuk mempelajari
teori-teori sementara aku lebih suka mempelajari bahasa dengan mempraktekkan
langsung seperti membaca novel, menulis, atau berbicara Bahasa Inggris. Tapi
ternyata ilmu tentang grammar yang
kudapat sangat bermanfaat untuk membantuku lebih memahami grammar yang sudah aku pelajari sebelumnya. Praktek-praktek conversation atau public speaking yang intensif juga sangat membantu untuk lebih
terbiasa berbicara dengan Bahasa Inggris
dan tentunya lebih percaya diri.
Awalnya, tujuanku hanya satu: lari. Tetapi justru dalam
pelarianku ini aku mendapatkan banyak hal yang patut aku syukuri. Pelarianku
tak berujung pada sekedar ‘lari’ dari masalah.
Pertama, aku bersyukur karena aku tahu bahwa aku tidak gagal
sendirian. Menurut psikologi sifat dasar manusia memang seperti itu, selalu
mencari kawan supaya merasa tenang. Bukan berarti aku senang bahwa
teman-temanku juga gagal, ya. Hehe. Setidaknya dengan begitu aku menemukan
bahwa tidak benar jika aku menganggap dunia tidak adil. Salah jika aku mengeluh
seolah aku yang paling menderita sendiri.
Kedua, aku bersyukur aku jadi sadar bahwa bumi itu luas.
Maklum, nggak pernah jalan-jalan jauh. Jadi tahu kan rasanya seperti apa. Kalau
dianalogikan seperti burung yang dikeluarkan dari sangkarnya. Bahagianya nggak
bisa digambarkan lagi. Intinya, aku bahagia bisa pergi ke tempat jauh yang
latar belakangnya berbeda jauh dengan kota yang selama ini aku tinggali.
Awalnya ya pasti takut sih, bingung juga. Mana tempat ini nggak ada minimarket,
mau belanja kemana coba? Dari sinilah aku tahu toserba. Selama ini belum pernah
lihat toserba (atau pernah lihat tapi nggak sadar, ya?).
Ketiga, aku bersyukur bisa merasakan hidup mandiri. Selama
ini kan tinggal sama orang tua. Belum pernah mengatur keuangan sendiri. Belum
pernah merasakan berjuang cari makan dulu kalau ingin makan, biasanya kan lapar
tinggal ke dapur, kalau ibu belum masak tinggal minta jajan wkwkwk. Tapi di
sana nggak bisa begitu. Keuangan harus diatur sehemat mungkin. Tapi, kesehatan
juga harus dijaga, jadi nggak boleh sampai telat makan apalagi nggak makan.
Keempat, aku bersyukur dipertemukan dengan teman-teman yang
menjadi keluarga keduaku. Teman-teman yang berasal dari ujung pulau Sumatera
hingga Papua. Dengan logat bicara hingga kebiasaan yang berbeda-beda. Benar
adanya, manusia itu unik. Jadi, aku belajar bahwa seharusnya tidak ada manusia
yang merasa benar sendiri atau menyalahkan. Sebab apa yang dilakukan oleh
manusia itu memiliki motif, entah berdasarkan pengalaman atau budaya yang ia
terima di tempatnya tinggal.
Justru dari perbedaan itulah kita bisa belajar dan saling
tolong-menolong sebagai kawan. Terlebih lagi, kita adalah kawan seperantauan.
Tidak ada keluarga. Kawan kitalah keluarga kedua kita.
Nah, sekarang aku ingin bercerita tentang teman-teman
sekelasku di bulan pertama. Jika kau adalah kawanku dari kelas A1, semoga
dengan membaca ini nostalgia dan rindumu membawa kebahagiaan!
Kenapa kelas ini paling berkesan? Tentu saja karena mereka
yang pertama. Mereka kawan belajarku sehari-hari di kelas pada satu bulan
pertama. Mereka adalah teman diskusi dan belajar yang sangat baik. Mereka
adalah teman-teman dengan semangat yang hebat (walaupun kadang ada malasnya
juga, ndak apa-apa kan manusiawi). Mereka adalah penghibur yang tak pernah
bosan mengembalikan suasana hati dan senyuman. Mereka unik dengan sifat
masing-masing.
Mulai dari ketua kelas kami. Ia adalah pemimpin yang baik.
Ia selalu bisa bertanggung jawab, dan yang terpenting, ia bisa mengakrabkan
diri dengan teman-teman, mulai dari yang rusuh (yang merasa dirinya bawel, ndak
apa-apa, aku sayang kalian) sampai yang pendiam. Ia bukan hanya menjadi seorang
pemimpin, tapi juga seorang kakak dan kawan baik. Jika membaca ini, semoga
hari-harimu dipenuhi kebaikan, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, kak.
Kemudian kakak-kakak yang sudah kuanggap sebagai kakakku
sendiri. Kak Ulan, Kak Seli, Kak Putri, Kak Rini, dan kak Julia. Kak Ulan yang
selalu bisa mengayomi adik-adiknya, selalu perhatian. Tidak pernah meninggalkan
adik-adiknya dibelakang. Ah, ia memang calon ibu yang baik.
Kak Seli, yang selalu menjadi partnerku di kelas speaking. Ia berasal dari Aceh. Padanya
pula aku bercerita kalau aku pun adalah keturunan Aceh. Walaupun kesan pertama
ketika mengenalnya adalah ia orang yang ‘jutek’ tapi ternyata aku salah besar. Oh
ya, sukses studinya kak! Kutunggu cita-citamu untuk jadi dosen tercapai.
Kak Putri, sering jadi partnerku di kelas pronounciation. Kakak ini adalah yang paling
dewasa di antara kami. Aku salut dengan semangat belajarnya.
Kak Julia, yang walaupun hanya dua minggu di kelas ini, tapi
cukup kukenal baik karena kita sering jadi partner juga di kelas speaking.
Kemudian Kak Rini yang walaupun aku tidak terlalu akrab,
tapi ia selalu bisa menghibur teman-teman di kelas.
Selanjutnya, ada JT yang memiliki nama unik seunik sifatnya.
Selalu bisa jadi pelangi di tengah abu-abunya suasana. Selalu bisa menghibur
dengan candaannya yang tidak pernah membosankan. Ia ini manusia langka.
Walaupun terlihat konyol tapi ia mempunyai niat yang sangat baik, ia ingin bisa
membawa senyuman dan tawa di antara teman-temannya.
Deo yang selalu bersama dengan JT. Entah ada magnet apa di
antara mereka. Padahal sifat mereka sangat bertolak belakang. Tapi walaupun kesannya
sangat tertutup, sebenarnya Deo adalah seseorang yang hangat dan bisa menjadi kawan
bercerita yang baik.
Cantas, yang terkadang juga bersama mereka berdua, sering
juga tertular konyolnya juga. Ujay, yang walaupun aku tidak terlalu mengenalnya,
tapi ia sangat ramah, tidak secuek kelihatannya.
Terakhir, semua teman-teman perempuanku yang jumlahnya lebih
mendominasi dibandingkan yang laki-laki. Dea dengan suara 'medok'nya dan serunya
diajak bercerita. Ia juga sangat rajin. Ikfi yang juga adalah teman sekamarku,
yang kelihatannya pendiam padahal selalu antusias bercerita padaku mengenai hal
apapun. Ia juga selalu sabar walaupun diganggu JT, baik sekali, ya.
Niluh dan Widya, perempuan cerdas yang sekarang adalah calon
ibu dokter. Dian dan Indah yang jago sekali Bahasa Inggrisnyaaa. Balqis yang
pendiam, yang kebetulan kita sama-sama pendiam jadi yasudah ngobrol saja. Azra,
yang ternyata suka Kpop dan ingin masuk psikologi juga. Bahkan kita sempat tes
bareng walaupun ndak ketemu, ya, hehe. Semangat calon Psikolog!
Masih banyak hal-hal yang aku syukuri lainnya yang kemudian membuatku sadar bahwa rencana-Nya memang selalu indah. Ia adil dengan segala keadilan walaupun terkadang kita tidak memahaminya.
Nah, momen-momen bersama mereka itulah yang selalu membawaku
ingin kembali. Tapi mustahil untuk kembali dengan orang-orang dan suasana yang
sama, kan?
Maaf jika terlalu panjang, atau malah terlalu singkat? Ah,
tentang kalian tidak akan habis jika diceritakan semuanya. Semoga semua
pelajaran yang telah kita dapat selama merantau selalu bermanfaat. Semoga semua
kenangan bisa tersimpan dengan baik dalam ingatan. Semoga ukhuwah tetap
terjalin di antara kita meski dengan jarak yang ada. Terima kasih untuk kalian,
atau siapa pun yang telah membaca ini. Kau tahu, aku menyayangi kalian.


Me love you dek, bahagia besertamu . Sukses ya adik 💟
BalasHapusLove u too! Sukses juga kakakkuu
Hapusuuuu adem juga baca ginian jd keinget masa2 disana juga :") makasih nisa! 💓💓💓
BalasHapusAhh iya:") samasama azraa!
HapusLmao...im dead 😆...yha kan gua sama JT soulmate .v. wkwkwk
BalasHapusWkwkwk geleuh da
BalasHapus