Assalamu’alaikum!
Kali ini aku akan membahas tentang self love. Kenapa? Karena baru-baru saja mendiskusikan ini. Aku
juga tidak tahu banyak mengenai ini. Namun, di sini aku berharap bisa mengubah
perspektif kalian mengenai diri kalian sendiri.
Kalau diartikan perkata, Self
adalah diri. Love adalah cinta. Jadi
intinya, self-love itu mencintai diri
sendiri. Nah, masalahnya di sini adalah apa definisi cinta itu sebenarnya?
Bagaimana cara kita mencintai diri kita? Apa yang menjadi acuan untuk bisa
dikatakan kita sudah mencintai diri kita atau belum?
Definisi cinta. Kalau kalian ditanya apa itu cinta, mungkin
akan bingung menjawabnya karena definisi mencintai menurut tiap orang pun
berbeda-beda. Salah satu seniorku memaparkan, dalam perspektif Islam, cinta
digambarkan sebagai kasih dan sayang sebagaimana asma Allah yang selalu kita
sebut tiap kali memulai untuk melakukan sesuatu. ‘Bismillahirrahmanirrahim’ menunjukkan bahwa Allah bersifat Ar-rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Di sini
berarti Allah menunjukkan cinta-Nya kepada hambanya dengan kasih dan sayang.
Sementara dalam pendapat lain, masih membahas apa yang ia
jelaskan, seniorku mengutip dari seorang tokoh yang mengatakan bahwa cinta itu
tidak bisa didefinisikan.
Namun, dalam konteks self-love,
menurutku sederhana saja maknanya; terima dan bahagia. Bagaimana maksudnya? Jadi
begini, kalau kau benar ingin tahu, aku akan senang sekali kau membaca ini
sampai selesai.
Mungkin kita masih sering membanding-bandingkan diri sendiri
dengan orang lain. Baik dari segi fisik maupun kemampuan. Seringkali kita
menilai, “Ih kenapa sih dia tuh cantik banget? Kenapa aku nggak kayak dia?”
atau “Dia tuh pinter ya nggak bodoh kayak aku.”
Sekarang coba tanya kembali pada diri masing-masing,
memangnya standar kecantikan itu seperti apa? Apakah semua orang di dunia akan
mengatakan dia cantik? Jika standar ‘cantik’ adalah putih, bagaimana dengan
orang di Barat sana yang malah berlomba-lomba untuk membuat kulit mereka
eksotis? Jika standar ‘cantik’ adalah berhidung mancung, coba bayangkan akan ada
berapa banyak orang di negara kita ini yang tidak kunjung dapat jodoh hanya karena
hidungnya tidak mancung?
Jika kita masih sering menganggap diri kita bodoh, tidak
mampu. Coba tanyakan pada diri sendiri, kita bodoh dalam hal apa? Tidak mampu
dalam hal apa? Apakah orang yang bodoh itu hanya yang tidak bisa matematika? Atau
tidak bisa bermain musik? Itu artinya kita tidak bodoh. Masih ada potensi dalam
bidang lainnya yang mungkin belum kita ketahui. Tapi kita tak pernah sadar
betapa cerdasnya kita dalam menghadapi tiap masalah sampai akhirnya bisa bertahan
hidup sejauh ini.
Ketika sampai pada titik sadar itu, kita akan menemukan bahwa
penerimaan diri itu penting. Lagipula, pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul
karena kita terus fokus pada hal-hal yang tidak ada dalam diri kita. Sehingga ketika
orang lain mengatakan hal buruk tentang diri kita pun akan membuat berkurangnya
kepercayaan diri kita. Padahal apa yang orang katakan tentang kita hanyalah pandangan
dia seorang. Logikanya, apakah pandangan satu orang yang mengatakan bahwa apel
itu pahit bisa kemudian kita jadikan pemikiran mutlak bahwa apel itu memang pahit?
Jika diri kita memiliki perspektif lain, jika orang lainnya memiliki perspektif
lain, lalu bagaimana? Lagipula kawan, Allah mengatakan dalam wahyunya bahwa Dia
sudah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.
Dengan mengetahui kekurangan serta kelebihan kita, menurutku
cukup untuk bisa mencintai diri kita. Bagaimana dengan pandangan bahwa
mencintai diri dimulai dengan mengetahui apa potensi diri kita? Mungkin banyak
di antara kita yang belum bisa menemukan potensi diri. Lalu bagaimana?
Aku sendiri masih kurang paham mengenai ini, tapi yang
jelas, dalam masa pencarian jati diri cobalah eksplorasi banyak hal. Mungkin
dari situ kita bisa paham di mana potensi diri kita. Atau ingat-ingatlah hobi
semasa kecil. Kau tahu, sejak SD aku sudah menulis cerpen. Aku tidak pernah
merasa terpaksa untuk melakukannya hingga sekarang. Intinya, carilah kegiatan
positif yang membuatmu haus sehingga kau ingin terus mengeksplorasinya.
Tapi apakah ketika kita belum menemukan potensi diri artinya
kita belum mencintai diri sendiri? Menurutku tidak. Namun ketika kita berhenti
mencari tahu potensi diri, ketika itulah kita tidak mencintai diri sendiri. Dan
yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menerima apa yang sudah ada pada
diri kita dan tidak mengeluhkannya sehingga kita bisa bahagia.
Kau tahu, ketika ada keinginan dalam hatimu untuk membaca
tulisan berjudul self-love ini,
berarti kau masih peduli pada dirimu dan masih berusaha untuk mencintai dirimu.
Tulisanku ini pun menunjukkan bahwa aku masih dalam proses mencintai diri dan
aku ingin kita sama-sama berproses dengan baik.
Sekarang, tarik napas panjang dan hembuskan perlahan.
Tersenyumlah. Katakan pada dirimu setiap harinya bahwa kau telah menjalani
harimu dengan baik dan esok harus lebih baik.
Terima kasih sudah membaca ini, kawan. Jangan lupa bahagia!
Pic: https://drdeborah.com/self-love-a-secret-to-health/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar