Kamis, 15 November 2018

Self Love




Assalamu’alaikum!

Kali ini aku akan membahas tentang self love. Kenapa? Karena baru-baru saja mendiskusikan ini. Aku juga tidak tahu banyak mengenai ini. Namun, di sini aku berharap bisa mengubah perspektif kalian mengenai diri kalian sendiri.

Kalau diartikan perkata, Self adalah diri. Love adalah cinta. Jadi intinya, self-love itu mencintai diri sendiri. Nah, masalahnya di sini adalah apa definisi cinta itu sebenarnya? Bagaimana cara kita mencintai diri kita? Apa yang menjadi acuan untuk bisa dikatakan kita sudah mencintai diri kita atau belum?

Definisi cinta. Kalau kalian ditanya apa itu cinta, mungkin akan bingung menjawabnya karena definisi mencintai menurut tiap orang pun berbeda-beda. Salah satu seniorku memaparkan, dalam perspektif Islam, cinta digambarkan sebagai kasih dan sayang sebagaimana asma Allah yang selalu kita sebut tiap kali memulai untuk melakukan sesuatu. ‘Bismillahirrahmanirrahim’ menunjukkan bahwa Allah bersifat Ar-rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Di sini berarti Allah menunjukkan cinta-Nya kepada hambanya dengan kasih dan sayang.

Sementara dalam pendapat lain, masih membahas apa yang ia jelaskan, seniorku mengutip dari seorang tokoh yang mengatakan bahwa cinta itu tidak bisa didefinisikan.

Namun, dalam konteks self-love, menurutku sederhana saja maknanya; terima dan bahagia. Bagaimana maksudnya? Jadi begini, kalau kau benar ingin tahu, aku akan senang sekali kau membaca ini sampai selesai.

Mungkin kita masih sering membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Baik dari segi fisik maupun kemampuan. Seringkali kita menilai, “Ih kenapa sih dia tuh cantik banget? Kenapa aku nggak kayak dia?” atau “Dia tuh pinter ya nggak bodoh kayak aku.”

Sekarang coba tanya kembali pada diri masing-masing, memangnya standar kecantikan itu seperti apa? Apakah semua orang di dunia akan mengatakan dia cantik? Jika standar ‘cantik’ adalah putih, bagaimana dengan orang di Barat sana yang malah berlomba-lomba untuk membuat kulit mereka eksotis? Jika standar ‘cantik’ adalah berhidung mancung, coba bayangkan akan ada berapa banyak orang di negara kita ini yang tidak kunjung dapat jodoh hanya karena hidungnya tidak mancung?

Jika kita masih sering menganggap diri kita bodoh, tidak mampu. Coba tanyakan pada diri sendiri, kita bodoh dalam hal apa? Tidak mampu dalam hal apa? Apakah orang yang bodoh itu hanya yang tidak bisa matematika? Atau tidak bisa bermain musik? Itu artinya kita tidak bodoh. Masih ada potensi dalam bidang lainnya yang mungkin belum kita ketahui. Tapi kita tak pernah sadar betapa cerdasnya kita dalam menghadapi tiap masalah sampai akhirnya bisa bertahan hidup sejauh ini.

Ketika sampai pada titik sadar itu, kita akan menemukan bahwa penerimaan diri itu penting. Lagipula, pertanyaan-pertanyaan semacam itu muncul karena kita terus fokus pada hal-hal yang tidak ada dalam diri kita. Sehingga ketika orang lain mengatakan hal buruk tentang diri kita pun akan membuat berkurangnya kepercayaan diri kita. Padahal apa yang orang katakan tentang kita hanyalah pandangan dia seorang. Logikanya, apakah pandangan satu orang yang mengatakan bahwa apel itu pahit bisa kemudian kita jadikan pemikiran mutlak bahwa apel itu memang pahit? Jika diri kita memiliki perspektif lain, jika orang lainnya memiliki perspektif lain, lalu bagaimana? Lagipula kawan, Allah mengatakan dalam wahyunya bahwa Dia sudah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.

Dengan mengetahui kekurangan serta kelebihan kita, menurutku cukup untuk bisa mencintai diri kita. Bagaimana dengan pandangan bahwa mencintai diri dimulai dengan mengetahui apa potensi diri kita? Mungkin banyak di antara kita yang belum bisa menemukan potensi diri. Lalu bagaimana?

Aku sendiri masih kurang paham mengenai ini, tapi yang jelas, dalam masa pencarian jati diri cobalah eksplorasi banyak hal. Mungkin dari situ kita bisa paham di mana potensi diri kita. Atau ingat-ingatlah hobi semasa kecil. Kau tahu, sejak SD aku sudah menulis cerpen. Aku tidak pernah merasa terpaksa untuk melakukannya hingga sekarang. Intinya, carilah kegiatan positif yang membuatmu haus sehingga kau ingin terus mengeksplorasinya.

Tapi apakah ketika kita belum menemukan potensi diri artinya kita belum mencintai diri sendiri? Menurutku tidak. Namun ketika kita berhenti mencari tahu potensi diri, ketika itulah kita tidak mencintai diri sendiri. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menerima apa yang sudah ada pada diri kita dan tidak mengeluhkannya sehingga kita bisa bahagia.

Kau tahu, ketika ada keinginan dalam hatimu untuk membaca tulisan berjudul self-love ini, berarti kau masih peduli pada dirimu dan masih berusaha untuk mencintai dirimu. Tulisanku ini pun menunjukkan bahwa aku masih dalam proses mencintai diri dan aku ingin kita sama-sama berproses dengan baik.

Sekarang, tarik napas panjang dan hembuskan perlahan. Tersenyumlah. Katakan pada dirimu setiap harinya bahwa kau telah menjalani harimu dengan baik dan esok harus lebih baik.

Terima kasih sudah membaca ini, kawan. Jangan lupa bahagia!




Pic: https://drdeborah.com/self-love-a-secret-to-health/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...