Seoul, 04 Desember 1995
Halo Lina,
Hari ini Seoul sangat
dingin, namun mengingatmu saja sudah cukup menghangatkan. Apa kabar? Semoga kamu
baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku terkena flu. Untunglah paman berbaik hati
selalu mengunjungi apartemenku dan membawa makanan serta minuman hangat.
Ini minggu terakhirku
bertugas. Minggu depan aku kembali ke Indonesia. Tunggu aku disana, aku berjanji
akan mengunjungi rumahmu. Katamu jangan, sebab jalannya berbatu. Padahal
berlumpur, bersemak, atau berduri pun tetap akan aku kunjungi. Aku sudah tidak sabar. Setelah enam tahun
tidak bertemu, mungkin akan canggung. Tapi tenang saja, kau tahu kan dari dulu
aku selalu bisa mencairkan suasana kelas kita.
Kabar baik dariku,
sekarang tabunganmu bisa kau gunakan untuk hal lain yang lebih kau butuhkan. Buka
kotak merah itu. Apa kau sudah membukanya lebih dulu daripada suratku?
Kalau begitu coba kau
pakai. Pasti kau semakin cantik jika memakainya. Tolong jangan berkata ‘tapi
aku tidak memintanya.’ Pakai saja, ya. Kau tidak pernah merepotkan, kalaupun
iya, aku senang direpotkan olehmu J
Sahabatmu,
Fajar
Wajahnya berseri-seri setelah membaca surat itu. Segera ia
lipat kembali dan meletakkannya di atas meja belajar kayu miliknya. Kini
tangannya beralih pada kotak merah kecil yang datang bersamaan dengan surat
itu. Perlahan ia membukanya. Air matanya tak dapat tertahan setelah menemukan
apa yang ada di dalam kotak itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati
berwarna merah muda.
Suatu ketika pernah ia bercerita kepada Fajar setelah
berkeliling kota bersama saudaranya. Saudaranya hendak membeli gelang untuk
hadiah ulang tahun ibunya. Di toko perhiasan itulah ia jatuh cinta pada sebuah
kalung berliontin hati yang terpajang indah di sana. Namun, setelah melihat harga
yang terpampang, pupus sudah harapan untuk memiliki kalung itu.
Tapi cintanya pada kalung itu tak pernah surut. Sejak saat
itu ia menabung untuk membeli kalung yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan
pertama itu. Siapa sangka Fajar malah membelikannya, kalung yang mirip,
walaupun tidak sama persis.
Ia genggam erat kalung yang ada di tangannya. Kemudian
berjalan ke depan kaca dan memakainya. Apa yang dikatakan Fajar tentangnya
memang selalu benar. Lina terlihat sangat cantik.
Bandung, 05 Desember 1995
Halo Fajar,
Saat kamu membaca surat ini, mungkin kamu sudah
bersiap untuk berangkat menuju Indonesia. Semoga selamat sampai tujuan. Jika
benar kau ingin ke desaku, tolong berhati-hati. Disini juga dingin, pakai syal
rajut yang waktu itu kuberikan, ya!
Terimakasih untuk
kalungnya. Aku tidak bisa menahan air mataku ketika membuka kotak merah itu.
Tidak apa-apa kok, tangis bahagia namanya. Aku tidak tahu harus memberi apa
untuk membalas kebaikanmu. Nanti saja kalau kamu sampai, aku buatkan sayur asem
dan tempe goreng, katanya kamu rindu masakan Indonesia, kan?
Cepat sampai ya. Jaga
kesehatan. Aku menunggumu, tak peduli jika nanti hanya ada kecanggung diantara
kita. Sampai jumpa.
Sahabatmu,
Lina
Seminggu telah berlalu. Seminggu setelah minggu yang dijanjikan
Fajar bahwa ia akan tiba di Indonesia. Ia tidak datang. Mungkin tidak akan
pernah datang.
Berita di Koran yang dilihat Lina di hari Minggu pagi
membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya.
Kecelakaan pesawat tujuan Indonesia,
dari Korea.
Sebulan berlalu. Tidak ada yang berubah. Lina tetap hampa.
Enam bulan. Entah telah berapa banyak surat yang Lina
kirimkan kepada Fajar. Berharap laki-laki itu benar akan datang padanya, atau
sekedar masih diketahui keberadaannya. Berkali-kali pula Lina memeriksa kotak
pos tua yang sudah berkarat di halaman rumahnya. Jawabannya tetap sama, tak
ada jawaban.
Setahun.
Dua tahun.
Wajah berseri Lina telah kembali. Kecantikannya masih tetap
sama. Luka di hatinya kembali pulih. Kepingannya yang sempat hancur telah menemukan
jawaban. Cahaya di wajahnya terpancar. Sorot matanya memandang lembut bayi mungil yang ada dalam gendongannya,
sesekali ia bersenda gurau dengan lelaki yang duduk di sebelahnya, suaminya.
Suasana hangat menyelimuti keluarga kecil mereka di halaman rumah yang lenggang
itu.
Seseorang berjalan mendekati mereka. Seorang lelaki yang tak
asing bagi Lina. Lelaki bertubuh tinggi,
tegap, berkulit putih dan bermata kecil.
Kehangatan dalam hati Lina menjelma
dingin yang menyeruak sekujur tubuhnya. Membuka luka lama yang telah ia kubur
dalam-dalam. Hatinya menangis. Namun ia tetap berusaha menjaga kerelaan untuk
melepas cinta sesuai janjinya sejak laki-laki itu pergi.
Lelaki itu berdiri di
hadapan Lina. Matanya yang teduh menatap Lina dan tersenyum. Senyum yang menyembunyikan
sejuta luka yang telah disimpannya sejak lama.
Hari itu, Fajar menepati
janjinya.
"Hakikat cinta yang sering terlupa oleh para pecinta adalah melepaskan"
(Aafara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar