Kamis, 18 Oktober 2018

Cerpen - Tak Ingkar Janji


Seoul, 04 Desember 1995
Halo Lina,
Hari ini Seoul sangat dingin, namun mengingatmu saja sudah cukup menghangatkan. Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja. Akhir-akhir ini aku terkena flu. Untunglah paman berbaik hati selalu mengunjungi apartemenku dan membawa makanan serta minuman hangat.
Ini minggu terakhirku bertugas. Minggu depan aku kembali ke Indonesia. Tunggu aku disana, aku berjanji akan mengunjungi rumahmu. Katamu jangan, sebab jalannya berbatu. Padahal berlumpur, bersemak, atau berduri pun tetap akan aku kunjungi.  Aku sudah tidak sabar. Setelah enam tahun tidak bertemu, mungkin akan canggung. Tapi tenang saja, kau tahu kan dari dulu aku selalu bisa mencairkan suasana kelas kita.
Kabar baik dariku, sekarang tabunganmu bisa kau gunakan untuk hal lain yang lebih kau butuhkan. Buka kotak merah itu. Apa kau sudah membukanya lebih dulu daripada suratku?
Kalau begitu coba kau pakai. Pasti kau semakin cantik jika memakainya. Tolong jangan berkata ‘tapi aku tidak memintanya.’ Pakai saja, ya. Kau tidak pernah merepotkan, kalaupun iya, aku senang direpotkan olehmu J
Sahabatmu,
Fajar

Wajahnya berseri-seri setelah membaca surat itu. Segera ia lipat kembali dan meletakkannya di atas meja belajar kayu miliknya. Kini tangannya beralih pada kotak merah kecil yang datang bersamaan dengan surat itu. Perlahan ia membukanya. Air matanya tak dapat tertahan setelah menemukan apa yang ada di dalam kotak itu. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati berwarna merah muda.

Suatu ketika pernah ia bercerita kepada Fajar setelah berkeliling kota bersama saudaranya. Saudaranya hendak membeli gelang untuk hadiah ulang tahun ibunya. Di toko perhiasan itulah ia jatuh cinta pada sebuah kalung berliontin hati yang terpajang indah di sana. Namun, setelah melihat harga yang terpampang, pupus sudah harapan untuk memiliki kalung itu.

Tapi cintanya pada kalung itu tak pernah surut. Sejak saat itu ia menabung untuk membeli kalung yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu. Siapa sangka Fajar malah membelikannya, kalung yang mirip, walaupun tidak sama persis.
Ia genggam erat kalung yang ada di tangannya. Kemudian berjalan ke depan kaca dan memakainya. Apa yang dikatakan Fajar tentangnya memang selalu benar. Lina terlihat sangat cantik.





Bandung, 05 Desember 1995
Halo Fajar,
Saat  kamu membaca surat ini, mungkin kamu sudah bersiap untuk berangkat menuju Indonesia. Semoga selamat sampai tujuan. Jika benar kau ingin ke desaku, tolong berhati-hati. Disini juga dingin, pakai syal rajut yang waktu itu kuberikan, ya!
Terimakasih untuk kalungnya. Aku tidak bisa menahan air mataku ketika membuka kotak merah itu. Tidak apa-apa kok, tangis bahagia namanya. Aku tidak tahu harus memberi apa untuk membalas kebaikanmu. Nanti saja kalau kamu sampai, aku buatkan sayur asem dan tempe goreng, katanya kamu rindu masakan Indonesia, kan?
Cepat sampai ya. Jaga kesehatan. Aku menunggumu, tak peduli jika nanti hanya ada kecanggung diantara kita. Sampai jumpa.
Sahabatmu,
Lina

Seminggu telah berlalu. Seminggu setelah minggu yang dijanjikan Fajar bahwa ia akan tiba di Indonesia. Ia tidak datang. Mungkin tidak akan pernah datang.

Berita di Koran yang dilihat Lina di hari Minggu pagi membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya. 

Kecelakaan pesawat tujuan Indonesia, dari Korea.

Sebulan berlalu. Tidak ada yang berubah. Lina tetap hampa.

Enam bulan. Entah telah berapa banyak surat yang Lina kirimkan kepada Fajar. Berharap laki-laki itu benar akan datang padanya, atau sekedar masih diketahui keberadaannya. Berkali-kali pula Lina memeriksa kotak pos tua yang sudah berkarat di halaman rumahnya. Jawabannya tetap sama, tak ada jawaban.

Setahun.

Dua tahun.

Wajah berseri Lina telah kembali. Kecantikannya masih tetap sama. Luka di hatinya kembali pulih. Kepingannya yang sempat hancur telah menemukan jawaban. Cahaya di wajahnya terpancar. Sorot matanya memandang lembut  bayi mungil yang ada dalam gendongannya, sesekali ia bersenda gurau dengan lelaki yang duduk di sebelahnya, suaminya. Suasana hangat menyelimuti keluarga kecil mereka di halaman rumah yang lenggang itu.

Seseorang berjalan mendekati mereka. Seorang lelaki yang tak  asing bagi Lina. Lelaki bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan bermata kecil.

Kehangatan dalam hati Lina menjelma dingin yang menyeruak sekujur tubuhnya. Membuka luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam. Hatinya menangis. Namun ia tetap berusaha menjaga kerelaan untuk melepas cinta sesuai janjinya sejak laki-laki itu pergi.

Lelaki itu berdiri di hadapan Lina. Matanya yang teduh menatap Lina dan tersenyum. Senyum yang menyembunyikan sejuta luka yang telah disimpannya sejak lama. 
Hari itu, Fajar menepati janjinya.



"Hakikat cinta yang sering terlupa oleh para pecinta adalah melepaskan"
(Aafara)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...