Selasa, 21 Juli 2020

Tulisan Singkat dari Perjalanan Panjang [1]

“Kamu kuliah di mana?” 

“Kok bisa nggak lolos?” 

“Jadi nganggur setahun ngapain?” 

Mereka sibuk bertanya tentang diriku. Aku semakin tertekan. Tidak tahu harus jawab apa. Mau mengeluh? Pada siapa? Tidak akan mengubah apapun. Termasuk kenyataan bahwa aku gagal. 
Tulisan singkat ini bukan untuk mencurahkan semua keluh kesahku. Bukan. Aku hanya berharap kalian yang pernah ada di posisi ini, yang pernah merasakan gapyear, pernah atau sedang merasakan kegagalan, tidak lagi membenci diri sendiri dan menyalahkan keadaan.

Terkadang, hal-hal yang kita anggap menyakitkan justru adalah sesuatu kita butuhkan untuk berproses menuju pendewasaan.

Gagal dalam mengejar mimpi untuk berkuliah bukan hal yang mudah. Apalagi melihat teman-teman yang lain sudah pakai almamater kampus impian masing-masing. Bukan aku tidak bahagia atas kebahagiaan mereka. Hanya saja ketika itu aku merasa semesta tidak adil. Aku merasa diriku yang paling tidak beruntung.

Apalagi ini bukan sekedar soal gagal mengejar mimpi, tapi kenyataan bahwa aku gagal membahagiakan orang tua, itu lebih menyakitkan.

Kemudian keadaan membawaku pada perjalanan panjang di daerah rantau. Hari itu kereta membawaku dengan tujuan Stasiun Kediri. Perlu waktu sekitar setengah jam dari stasiun untuk sampai ke tujuan utamaku, Pare. Aku menetap dua bulan di sana. Lumayan, mengisi waktu gapyear. 
Niatnya ingin belajar lebih mandiri, tapi baru sebentar sudah menangis. Rindu pulang. Itu pertama kalinya aku tahu bahwa betapapun peliknya keadaan di rumah, pulang selalu menjadi sesuatu yang dinantikan. Rumah selalu menjadi tempat ternyaman.

Namun, mengetahui bahwa aku tidak sendirian ternyata cukup menenangkan. Teman-temanku juga rindu pulang. Kami yang tadinya sama-sama merasa sendirian akhirnya tidak lagi kesepian. Saling mengisi, saling melindungi sebagai saudara seperantauan. Tak peduli dari manapun kami berasal. 

Awalnya hanya ingin belajar bahasa. Tapi di sini, malah lebih banyak diajari soal kehidupan dari teman-teman dan keadaan. 

Aku belajar bahwa Tuhan bukannya tidak adil. Kami di sana sama-sama gapyear, sama-sama sedih, kecewa. Mungkin itu salah satu alasan kami dipertemukan. Supaya kami tidak lagi merasa gagal sendirian. Kami berjuang bersama di kota ini. 

Latar belakang kami yang berbeda-beda juga mengajariku tentang bagaimana indahnya saling memahami dan menghargai. Aku juga belajar banyak mengenai keadaan di luar Ibukota yang selama ini aku tinggali. Kadang aku mengeluhkan bisingnya keadaan kota dan jalanan yang macet. Kadang pula temanku mengeluhkan sulitnya membeli sesuatu di desa. Apalagi untuk sekedar pergi ke mall selayaknya warga di kota, jarak yang perlu ditempuh cukup jauh dari desa. Saat itu aku sadar, ternyata di manapun kita tinggal, tiap tempat selalu punya kelebihan dan kekurangan. Ini hanya soal kita yang harus pandai bersyukur. 

Aku juga melihat kesenjangan pendidikan antara kota dan desa. Mereka yang bukan dari kota, meski dengan kemampuan bahasa Inggris yang masih terbata-bata, setidaknya mereka mau belajar, tidak malu untuk mencoba. Mereka bilang aku banyak membantu mereka belajar, justru aku yang banyak diajari untuk tidak menyerah. [Bersambung]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentangnya

 Dulu, sebelum pergi, Ia menceritakan pengalaman selama hidupnya yang belum pernah Ia ceritakan sebelumnya. Aku ingat betul bagaimana perjua...